MSO Kota Tebing Tinggi Menggelar Hari Ibu

Pict : Rizki widya utami

Hari ibu ditetapkan tanggal 22 desember. Ramai-ramai orang mengucapkan hari ibu di media sosial (sosmed). Beragam pula kartu ucapan untuk para ibu. Tidak ketinggalan juga ada yang ingin memberi kejutan kepada ibu mereka.  

Muslim student Organization (MSO)  Kota Tebing Tinggi (23/12) menggelar kajian hari ibu.  Acara diadakan di masjid Al Muttaqin Bandar sono.  Kajian ini mengangkat tema " Hadiah Terindah Untuk Ibu."

Acara kajian ini juga dihadiri oleh 100 orang peserta dari berbagai sekolah SMP dan SMA se-kota Tebing Tinggi.  Dari acara kajian hari ibu ini MSO ingin mengedukasi kepada peserta. Bahwasannya dalam Islam hari ibu bukan lah hanya diperingati setiap tanggal 22 desember saja melainkan setiap hari adalah hari ibu.  

Serangkaian acara pun dibuat.  Ada juga nonton bareng film pendek.  Meskipun di akhir di akhir film ternyata ada iklan di dalamnya. Film yang begitu menyentuh dan menginspirasi. Soal iklan sebagai pemanis saja setelah teharu melihat film pendek yang ditampilkan.  

Materi utama kajian ini dibawakan langsung oleh Kak Halimah Siregar.  Sosok ibu yang luarbiasa. Materi yang disampaikan membahas cinta kasih orangtua kepada anak dan cinta anak kepada orangtua.  Peserta begitu antusias mendengarkan materi yang dibawakan. Setelah materi dilanjutkan dengan tanya jawab dari peserta. Dan Acara selesai ketika menjelang azan zuhur berkumandang.  

Kado terindah untuk ibu bukanlah harta yang melimpah. Karena orangtua kita terutama ibu bukan itu yang diharapkan dari anaknya. Bukan pula makanan enak. Karena ibu kita yang mulai tua usianya makan enak sekalipun di lidahnya bisa terasa hambar. Tetapi hadiah terindah itu adalah menjadikan diri anak yang sholeh dan sholeha. Buat mereka tersenyum bangga karena kita. Karena senyuman mereka adalah kelegaan sepanjang usia. (R/DD . 

Surat Untuk Malaikat Berjuta Sayap

Sukakamu.com

Entah kenapa jariku selalu keluh, otakku berhenti bekerja untuk menciptakan sebuah kalimat, ketika menempatkan sosok ibu menjadi objek tulisanku. Rasanya tidak ada kata yang pas untuk mewakili  menuliskan kebaikan-kebaikan tentangmu. Sosok hebat luar biasa dalam hidupku. 

Ini bukan surat pertama yang aku tuliskan untukmu. Tapi, biarlah ini ungkapan yang bisa jadi belum sempurna untuk menggambarkan kehebatamu. Peran yang Allah percayakan kepadamu. Sebagai ibuku. 

Masih teringat jelas. Masa kecilku dulu. Tentang kehidupan kita yang amat sederhana. Kata tetangga, kita miskin. Tapi, ibu mengatakan kita kaya. Cuma kita terlalu sederhana. Hingga hari ini kalimat  itu masih terngiang. Sebuah pelajaran yang belum tentu aku dapatkan dari bangku sekolahan. Namun, ibu mengajarkan jauh sebelum aku duduk di bangku sekolah. Ibuku itu hebat. 

Masih teringat. Waktu itu usiaku baru saja duduk di bangku SD. Hari pertama sekolah. Ibu mengantarkanku sampai pintu kelas. Mencarikan bangku untuk tempat dudukku. Lantas ibu pergi meninggalkanku. Sementara teman-teman yang lain masih ditunggui oleh ibu dan bapaknya. Ibuku tega meninggalkanku sendiri.  Ternyata ibu belum benar-benar pulang. Ibu masih memperhatikanku dari balik dinding. Sesekali mengintipku dari kaca nako sekolah. Ketika aku mulai nyaman,  barulah ibu pulang.  Ketika aku pulang ibu menyambutku.  Kamu hebat. Jadi kakak tidak boleh jadi penakut. Ibuku mengajarkanku kemandirian dan percaya diri. 

Ketika aku sudah mengenal abjad serta bilangan. Ketika itu ibu menyuruhku menuliskan segala impian-impianku. Tangan mungilku yang belum rapi merangkai fenom,  dengan susah payah menuliskan impian-impian itu. Layaknya anak kecil pada umumnya. Aku tuliskan impianku seperti menjadi dokter, guru, dan masih banyak lagi. Seketika ibu tersenyum bangga. Melihatku sudah bisa merangkai kata. Lantas ibu mengaminkan semua impian itu. 

Ketika puasa tiba. Ibu mendudukkanku di meja makan. Dengan lampu penerangan seadanya. Kami sahur bersama-sama.
 "Kakak mau puasa?" Binar mata ibu begitu semangat mengajariku untuk menjalankan puasa. 

"Iya, kakak mau kawasa" aku menjawab dengan lidah cadelku. Untuk mengucapkan puasa menjadi kawasa. Ibu tertawa. Lantas mencium pipiku.

Makanan terhidang. Tangan ibu menyuapi nasi dengan lauk. Keikhlasannya begitu terasa. 

******
Lintasan ingatan di kepala dari kecil hingga dewasa tidak akan bisa selesai jika dituliskan satu persatu. Momen per momen. Karena peranmu begitu luarbiasa. Tidak ada yang bisa menggantikan. Tidak ada rangkaian kata yang tepat untuk menggambarkan kehebatanmu. Bahkan jika dirumuskan.  Tidak ada rumus yang dapat menguraimu. 

Entah dari komponen apa Tuhan menciptakanmu. Dengan kepak sayapmu yang tak terbilang jumlahnya, mampu menggerakkan berjuta-juta malaikat. Lantunan doa-doamu langsung terbang ke langit. Begitu dahsyatnya setiap perkataanmu. 

Tapi, terkadang aku menangis. Jika nanti  peranmu telah usai dalam kehidupan nyataku. Lantas pergi meninggalkanku dalam termenung. Membiarkanku menangis. Dan mulai saat itu atap langit kita sudah berbeda. 

Aku yang masih bergelimang dosa kepadamu. Belum sempat mengucap kata maaf. Bahkan ketika rindu mencekam. Untuk sekedar berpeluk saling menguatkan, tangan tidak sanggup berjabat. Jika saat itu tiba rasanya berliter air mata sudah terlambat. 

Dengan surat ini, anakmu memohon maaf. Rasa cinta selalu ada untukmu. 

Terimakasih...

Ibu... ❤❤❤

Anakmu

Dewie dean

5 Alasan Penyebab Writer block


Berbicara writer block bearti sedang membicarakan tentang kemacetan. Kemacetan identik dengan jalan raya. Ternyata macet bukan di jalan raya saja.  Melainkan  ide kita bisa saja macet. Sehingga menghambat kerja-kerja menuangkan ide ke dalam bentul tulisan kita tidak maksimal. 

Jika ditanya "Pernahkah teman-teman mengalami writer block?." Jawabannya pasti pernah. Karena writer block sering sekali menyerang siapa saja. Sehingga ide di kepala mandeg.

Writer block ini disebabkan oleh berbagai alasan. 

1. Kurangnya Membaca
Penyebab terbesar writer block adalah kurangnya membaca. Karena salah satu sumber ide terbesar adalah dari kegiatan membaca. 

2. Kurang Percaya Diri
Alasan yang ke-2 adalah kurangnya kepercayaan diri orang tersebut. Sehingga seringkali membandingkan tulisan-tulisannya dengan penulis yang jauh lebih senior. Ketika kepercayaan dirinya tidak ia temukan maka bisa dipastikan orang tersebut tidak akan pernah menulis. Hal ini juga yang akan membawa kemacetan menulis yang berkepanjangan atau lebih dikenal dengan nama big break

3. Angan-angan
Seorang penulis terlebih lagi penulis fiksi sering menggunakan imajinasinya/angan-angan untuk membuat suatu cerita. Namun mereka mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Tetapi, orang yang terkena writer block akan berangan-angan saja. Tidak pernah dituangkan dalam tulisan. Sehingga tidak pernah ada tulisan yang dihasilkan. 

4. Ekspektasi Terlalu Tinggi
Manusia yang memiliki sifat narsistik yaitu ingin selalu diperhatikan atau istilah caper. Orang yang seperti ini akan menulis jika banyak orang yang akan membacanya. Atau tulisannya mendapat penghargaan berupa pujian dan sebagainya. Hingga akhirnya orang tersebut akan mengalami writer block yang tidak wajar. 

Jadi, menulis itu adalah sebuah keterampilan. Yang semakin diasah semakin bagus hasilnya. Mau ada pembaca atau tidak tergantung publik. Yang paling penting ada nilai yang baik dari tulisan itu, yakin dan percaya pasti akan ada pembacanya.  Sehingga kita tidak perlu berekspektasi terlalu tinggi. 

5. Dihantui Oleh Aturan Penulisan 
Nah, sering kali seseorang mengalami writer block karena terbebani dengan kaidah penulisan yang terlalu ketat. Sehingga ketika ingin menuliskan apapun takut salah, tidak sesuai aturan penulisan yang benar. Karena dihantui dengan aturan-aturan penulisan orang tersebut tidak pernah berani untuk membuat tulisan.  

Dengan begini peran free writing sangat membantu. Karena free writing juga sebagai therapy untuk mengurangkan writer block serta ketakutan-ketakutan yang diamali penulis. 

Kita Sering Lupa Berapa Banyak Buku yang Kita Baca...


Dokpri

Jika kita bertanya kepada orang lain atau bertanya kepada diri sendiri "Sudah berapa banyak buku yang kita baca? dan apa isi dari buku-buku yang kita baca?. Bagi sebagian orang barangkali ada yang mengingat apa saja buku yang ia baca dan ingat bagaimana isinya. Tapi, bagi sebagian yang lain pasti kebanyakannya lupa. Dan memingat bebera buku saja dan beberapa bagian saja dari isinya. 

Dalam hal ini kecendrungan manusia melupakan apa saja sangatlah lah tinggi (tidak termasuk melupakan mantan. Eaaa ada yang baper). Dalam waktu 24 jam atau bahkan kurang dari 24 jam manusia bisa melupakan apa saja. Baik itu apa yang dibaca, yang dilihat, yang ditonton, yang diucapkan, yang didengar dan lain sebagainya. Begitulah manusia mudah melupakan apa saja. Oia termasuk melupakan janji-janji. 😂

Begitu juga dalam hal pelajaran. Seringkali manusia lupa. Ketika habis menerima pelajaran bisa saja belum sampai sehari dipelajari sudah lupa. Apalagi sudah berhari-hari. Apa yang dipelajari, dibaca akan hanya menjadi sebuah serpihan konten semata (tapi ngga seperti kamu kan? yang lagi sayang-sayangnya ditinggal pergi). 

Dokpri: Perpustakaan mini
di rumahku .Yang pengen baca
datang aja ke rumah

Terlebih lagi dalam era media digital atau di era internet. Semua bahan bacaan, tontonan begitu mudah diakses. Misal kita ingin mencari seputar manfaat kuku dinosaurus untuk kesehatan. Maka tingga tulis saja dengan kata kunci yang kita inginkan di kolom pencarian. Maka informasi apa yang kita inginkan akan muncul. Dari sini dengan otomatis otak kita akan bekerja. Bahwasannya hal yang demikian tidak perlu diingat.  Karena kita sudah tau mencari info tersebut dimana.

Seperti yang kita ketahui bersama. Bahwasannya internet, yang kini bisa kita akses dimana saja adalah kotak atau memory luar tempat menyimpan apa saja informasikan yang kita butuhkan.  Sehingga kita berfikir tidak perlu bersusah payah untuk mengingat berbagai macam hal.  Yang demikian salah satu bagian pelemahan otak kita sebagai daya fikir dan mengingat apa saja. 

Sehingga, sebuah pelajaran yang dapat kita ambil adalah tetap mengulang-ulang atau mengkaji ulang setiap apa yang kita pelajari dan kita baca. Dengan demikian otak akan tetap mengingat pelajaran yang dan setiap bacaan yang kita baca.  



Soal Pelangkahan Jangan Dipersulit!

Sumber gambar : kawan imut 


Beberapa perkara dalam kehidupan manusia yang sangat rahasia yaitu tentang kelahiran, jodoh, rezeki Dan kematian. Kita tidak pernah tahu dilahirkan menjadi anak pertama, kedua atau ketiga dan seterusnya. Begitu juga soal rezeki, jodoh dan kematian. 

Ketika kecil kita diasuh bersama hinggalah dewasa. Dewasa tiba, kita masih tetap dalam asuhan yang sama. Tapi, pikiran, dan jalan hidup kita yang mulai berbeda. Kita sama-sama punya visi dan misi hidup masing-masing.  Belajar tidak egois dengan kehendak diri sendiri.  Karena kakak, adik atau abang kita juga mempunyai tujuannya masing-masing.  

Berbicara terbuka kepada sesama keluarga. Kakak beradik duduk bersama. Mengunggukapkan pemikiran-pemikirannya. Ketika sejalan alhamdulillah, jika tidak sejalan tapi masih dalam batasan wajar biarlah kita sebagai pengingat katika lalai dan sebaliknya. 

Begitu pun ketika dalam urusan jodoh. Kakak dan adik juga butuh diskusi dua arah. Saling terbuka. Ketika kakak yang masih sendiri harus dilangkahi adik yang jodohnya sudah digerakkan Allah. Maka satu kata yang harus diucapkan "Alhamdulillah." Karena sekali lagi urusan jodoh itu rahasia Allah. Allah yang menggerakkan dan Allah yang menyatukan. Tidak harus bermuram durja dan menghalangi. 

Dalam masyarakat dikenal istilah "pelangkahan" yaitu sebuah tradisi/adat ketika kakak atau abang harus dilangkahi dalam artian didahului dalam hal pernikahan. Dalam tradisi atau adat pelangkahan biasanya yang hendak menikah harus memberi sesuatu berupa barang atau yang lainnya kepada yang dilangkahi. Sampai sini bearti sudah sampai jodoh si adik. Tidaklah sang kakak atau abang menghalanginya. Apalagi memberatkan pelangkahan. 

Bagi saya pelangkahan itu hanya sebagai hadiah. Hiburan hati untuk yang dilangkahi. Bukan kewajiban. Apalagi untuk diberat-beratkan. Karena syarat sah nikah salah satunya bukan pelangkahan. Bahkan untuk urusan mahar saja tidak boleh memberatkan.  Masak sih soal pelangkahan mau diberatkan. Rasanya tidak fair.  

Jadi, ketika dilangkahi janganlah menyusahkan bakal pengantin.  Karena pelangkahan itu hanya sebagai hadiah. Ketika diberi ya diterima jika ingin meminta ya jangan sampai memberatkan. Apalagi meminta yang memang tidak disanggupi oleh calon pengantin. Jika soal pelangkahan memberatkan calon pengantin sama saja menyusahkan urusan mereka.  

Dan dalam islam juga tidak dikenal istilah pelangkahan.  Jadi untuk urusan begini cukup disederhanakan. Tidak perlu berlebihan apalagi sampai menyusahkan.  😊

Pada Garis Cakrawala Memanggil Cinta

Dokpri

Suhu mencapai 30°C. Matahari begitu terang meskipun hampir mendekati kaki cakrawala. Semakin petang pengunjung pantai kian ramai. Muda-mudi, orangtua dan kanak-kanak. Tampak sepasang, dua pasang muda mudi memadu kasih. Ntah sudah berstatus suami istri atau hanya sekedar dalam jalinan kasih anak masa kini.

Aku memandang ke pantai lepas. Airnya pasang, namun anak-anak berlari riang, mandi tanpa busana di badannya. Ada pula yang berlompat tanpa papan lompatan, menirukan perenang internasional dalam ajang perlombaan paling bergengsi. Di sebalah kiri, Aku melihat sekerumunan orang. Bermain pasir. Di sebagain yang lain orang-orang sibuk berswafoto di spot yang disediakan untuk menarik pengunjung.

Kulihat lagi lautan yang airnya coklat susu. Tampak satu dua kapal nelayan hilir mudik di sana. Suara mesinnya bak klotok membelah dinding rawa Kalimantan. Beberapa tiang terpancang di kapal nelayan. Seperti tiang bendera. Bukan kain merah putih terpasang di ujunya. Tetapi diletakkan kain berwarna warni. Berkibar lah kain-kain itu dihembus angin pantai. Bapak tua dan anaknya yang bertelanjang dada. Di atas kapal nelayan yang sangat sederhana. Menebar doa, menjaring pinta.

Sang saga makin merona. Para pengunjung semakin menikmatinya. Kata mereka "menunggu senja." Ombak semakin menggulung ke bibir pantai. Senja yang mereka tunggu hampir tiba. Para nelayan pun kembali ke peraduannya ketika laungan azan memanggil-manggil para hambaNya, untuk pulang bersujud kepada pemilik cinta.

Bagiku Blog Adalah Panggung

Gambar by smarterware.org

Aku mengenal dunia blog sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu. Pastinya Aku hampir lupa. Sebelum menghuni blog ini aku sudah mempunyai blog di platform WordPress, tapi saat itu lupa password dan akhirnya harus mengikhlaskannya untuk terlepas dariku.  

Ngeblog ternyata bukan sekadar untuk menulis dan bagikan. Ternyata dari blog aku telah mengabarkan kepada dunia siapa diriku dan blog memberi panggung untuk aku berkarya. 

Lewat blog sudah banyak yang aku dapat. Dari pengalaman, ilmu, serta materi. Paling penting dari tulisan-tulisanku tidak sedikit yang mendapatkan hal yang bermanfaat. Itu sungguh membuatku bahagia.


"Bukankah orang yang paling bahagia ketika ia bisa menjadi atau bermanfaat untuk orang lain?."

Dari ngeblog mendapat berkah. Aku pernah diminta mereview sebuah produk telekomunikasi dengan bayaran yang cukup lumayan tentunya. Padahal aku tidak pernah berfikir untuk mendapatkan atau mencari uang dari blog. Tapi, Allah sudah mengatur sedemikian rupa. Dari hobi tercipta rupiah.  Bertemu orang-orang baru yang seringkali membuatku terkejut. Bahwa dunia blog itu adalah tidak sekedar lahan nulis dan bagikan, tetapi bagian dari lahan professional. 

"Bagiku blog adalah panggung. Di panggung itu aku bisa menciptakan apa saja, menceritakan apa saja bahkan aku berlakon seperti siapa saja sesuka hatiku. Ruang berekspresi. Menuangkan segala uneg-uneg. Menuangkan isu-isu dan info-info terkini di dalamnya."

Saat ini para blogger tidak dapat dipandang penulis recehan. Karena kekuatan para blogger sekarang sudah diperhitungkan. Misal saja dalam peluncuran produk, program acara dan lainnya. Banyak yang memanfaatkan kekuatan blogger. Sehingga informasinya bisa berkembang luas dan viral.

Karya Hamka yang Melampaui Berbagai Negeri, Waktu Dan Generasi

Docpri


Sepagi ini, sehabis sarapan bersama keluarga. Seperti biasanya, kebiasaan saya melihat perpustkaan mini yang ada di ruang tamu. Memilih dan memilah buku yang mana mau dibaca. Di ruang pertama rak buku akhirnya saya memilih buku karya Prof. Dr. Hamka atau lebih dikenal dengan nama Buya Hamka. 

Buku berjudul "Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan" menjadi pilihan untuk dibaca pagi ini. Sebenarnya saya sudah pernah membaca buku ini. Namun belum sampai tuntas. Buku tipis ini hanya memuat 134 halaman. Tipis halamannya saja, namun ilmu yang terkandung di dalamnya tidak lah setipis bukunya. Ilmunya begitu luas.

Membahas seorang perempuan dari berbagai aspek. Tentang bagaimana Islam memuliakan seorang wanita. Tentunya dibuktikan kuat dengan Alquran dan hadits serta dalil-dalil kuat.  Ada pula cerita zaman Rasulullah, para sahabat dan orang-orang shalih di dalamnya. 

***

Jika bercerita seorang Buya Hamka, pastinya siapa pun tidak asing lagi. Namanya sudah terkenal dipenjuru negeri. Dan karyanya juga sudah begitu banyak memenuhi ruangan pikiran masyarakat. Hal itu tidak sekedar di dalam negeri saja. Di luar negeri juga. Seperti negara tetangga kita, Malaysia. 

Bekerja sepuluh tahun di Malaysia tidak sekedar membawa saya pada dunia kerja. Melainkan mengenal dunia literasi lebih jauh.  Hingga akhirnya berbagai kegiatan dan komunitas literasi saya ikuti. 

Salah satu event literasi terbesar di Malaysia yaitu "Pesta Buku Antara Bangsa" atau seeing disebut dengan "Kuala Lumpur International Book Fair (KLIBF)." Di sini penggiat literasi,  bibliofil dari berbagai negara tumplek jadi satu. Bahkan saya pernah ikut dalam acara "Perhimpunan 1000 penulis." Acara ini merupakan bagian dari KLIBF itu sendiri. 

Saat itu didatangkan sastrawan/sastrawati dari 4 negara.  Yaitu dari negara Indonesia yang menghadirkan Aan Mansyur dan Trinity, dari Singapore, Thailand dan Malaysia.  Sungguh cerita perbukuan, penulisan, hidupnya kembali dunia puisi dikalangan anak muda khususnya Indonesia semua dibahas di sana. Audiens yang hadir juga dari berbagai negara. Paling banyak jelas dari tuan rumah, Malaysia.

Di sana cerita karya-karya Hamka sampai ke telinga saya. Dari sana pula karya Hamka lebih banyak saya jumpai. Dari seorang jurnalis Malaysia dan pengamat sastra senior. Saya sedikit tahu cerita karya Hamka yang begitu menjadi primadona di Malaysia. Sekitar tahun 60an kalau saya tidak salah ingat karya-karya Hamka adalah bacaan wajib di sekolah-sekolah kebangsaan Malaysia.

Bahkan dari komunitas literasi di Malaysia yang pernah saya ikuti.  Ada seorang warga negara Malaysia yang tergabung dalam komunitas tersebut.  Beliau juga pernah bercerita saat sekolah dulu, sekitar tahun 60 atau 70an karya Buya Hamka yang berjudul "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck", karya yang sudah pernah diangkat ke layar lebar.  Saat itu menjadi buku bacaan dan buku yang wajib diulas dalam pelajaran sastra di sekolah mereka.

Bagaimana kita yang di Indonesia? Apakah karya-karya sebagus Buya Hamka sudah menjadi bacaan wajib di sekolah?. Karena saat zaman saya sekolah dulu saya tidak pernah tau atau dengar dengan nama beliau apa lagi karyanya.  Dan mulai tau tulisan beliau ketika berada di Malaysia. Sekitar 2 tahun setelah saya tamat sekolah.

Hingga hari ini nama Hamka masih begitu menjulang tinggi di negara tetangga kita.  Bahkan anak-anak muda di Malaysia tidak asing lagi dengan karya Hamka. Bahkan 2017 lalu, di Malaysia tepatnya di Sungai Panjang, Sungai Besar, Negeri bagian Selangor, didirikan Rumah Pustaka Buya Hamka. Karena begitu dekatlah masyarakat Malaysia dengan karya-karya Buya Hamka. Sehingga didirikan rumah pustaka dengan nama rumah pustaka Buya Hamka.

Tidak sekedar di Malaysia. Bahkan nama Buya Hamka juga dikenal di berbagai negara seperti Brunai Darussalam, Singapore, Thailand dan beberapa negara lainnya. Sungguh sebuah karya yang tidak pernah mati dimakan zaman. Tidak pernah tertinggal dan tenggelam ditelan waktu. Selalu hidup di setiap generasi. Dan karya yang luarbiasa hingga melampaui beberbagai negeri selainnya negerinya sendiri. 

Kita Semua dalah Guru, Kita Semua Adalah Murid

Pelatihan Satu Guru Satu Buku
(SAGUSAKU )


Sekitar dua minggu sebelum hari guru, Pak Darma seorang guru di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) mengajakku untuk berbagi cerita seputar kepenulisan acara Satu Guru Satu Buku (SAGUSAKU). Seketika berfikir apa yang bisa saya bagikan kepada ibu dan bapak Guru peserta nantinya?. Tetapi, Pak Darma meyakinkan, saya pasti bisa membagikan pengalaman-pengalaman menulis. Lantas saya berfikir. Iya juga, Pak Darma saja yakin, masak saya tidak.  

Dua minggu berlalu. Sampai pada acara. Nama dan photo saya terpampang di spanduk acara SAGUSAKU. Tepat tanggal 24 November, sehari sebelum hari guru. Acara SAGUSAKU Se Kabupaten Serdang Bedagai dibuka. Saya, Pak Darma dan Pak Herman meluncur ke tempat acara. Benar-benar hati mulai tidak tenang. Rasanya seperti akan dieksekusi. Karena bagi saya ini adalah pengalamn pertama kali akan bercerita seputar kepenulisan di hadapan para guru. 

****

Saat memasuki area sekolah SMA Negeri 1 Sei Rampah. Hati mulai tidak tenang. Keringat dingin mulai keluar. Wajar saja ini akan jadi pengalaman pertama. Anak-anak SMA Negeri 1 Sei Rampah menyambut kami di depan gerbang sekolah dan kebetulan di hari yang sama di sana mengadakan maulid. Saat memasuki gerbang sekolah terlihat spanduk kegiatan SAGUSAKU terpampang lebar.  Ada foto saya dan Pak Darma di sana.  

Kami memarkirkan mobil di lapangan sekolah. Setelah itu kami disambut oleh Panitia dan Bapak ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI)  wilayah Sumatra Utara.  Saat memasuki ruangan acara sudah hadir beberapa peserta. Saya, Pak Darma dan Pak Herman dipersilakan naik ke podium. Di atas podium sudah disusun meja dan kursi untuk narasumber. 

Menunggu peserta yang lain hadir kami sedikit berbincang-bincang kepada peserta yang sudah hadir. Ternyata pesertanya tidak saja dari Kabupaten Serdang Bedagai saja. Ada dari Medan, Tebing Tinggi, Batu Bara, Tanjung Balai, dan paling jauh dari Nias Utara. Luar biasa sekali semangat bapak dan ibu guru yang hadir saat itu.  

Setelah hampir seluruh peserta sudah hadir.  Acara dimulai dan dibuka oleh pembawa acara Pak Nawawi dan dilanjutkan kata sambutan oleh ketua SAGUSKU dan ketua IGI. Saat kata sambutan selesai hati saya mulai ngga karuan lagi. Kaki sedikit gemetaran, keringat dingin mulai keluar lagi. Tapi masih batas kewajaran. 

Materi pertama disampaikan oleh Pak Herman sebagai penggiat Gerakan Literasi Sekolah (GELIS) di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Kegiatan literasi sekolah di SIKlL cukup bagus. Bahkan dalam beberpapa bulan anak SD kelas 3 sudah dapat membuat buku. 

Saat materi ke-2 saya yang menyampaikan.  Tentang bagaimana mudahnya menulis. Dengan slide power point yang sederhana saya paparkan sedikit kenapa kita harus menulis, bagaimana mudahnya menulis dan beberapa poin lainnya. Sambil memberi materi saya perhatikan ibu, bapak guru peserta SAGUSAKU begitu antusias. Padahal saya yakin dan percaya bapak dan ibu guru semuanya sudah paham ilmu tentang menulis. Dan yang luarbiasanya bapak dan ibu guru yang biasa berbicara menjadi pendengar dan sebaliknya.  

Dan pembicara ke-3 dibawakan oleh Pak Darma. Pak Darma menjelaskan teknik penulisan dengan lebih jelas. Semakin antusias peserta mengikutinya. Dan pengenalan bagaimana cara penerbitan buku yang memiliki ISBN. Dan di akhir sesi bapak, ibu peserta diberi tugas menulis. Dan dikoreksi di hari ke dua acara SAGUSAKU.  

Kegiatan dari pagi hingga ke peteng di hari pertama dan ke dua dalam acara SAGUSAKU sangat luarbiasa sekali. Luarbiasa semangatnya untuk hadir dan luarbiasa semangatnya untuk membuat buku.  Jadi, target dari kegiatan SAGUSAKU adalah bapak dan ibu guru harus menerbitkan karya berupa buku. Baik itu buku antologi dan buku solo.  

Biasa guru kebanyakannya lebih terbiasa berbicara di depan kelas dari pada menuliskannya di buku. Tetapi budaya lisan itu akan kita aplikasikan juga dalam bentuk tulisan.  Sehingga nantinya banyak karya-karya yang luarbiasa terlahir dari para ibu dan bapak guru.  

Dirgahayu buat para Guru seluruh Indonesia. 



Dinas Perpustakaan Dan Arsip Provinsi Sumatra Utara : Menggelar Kegiatan Literasi Informasi Bagi Masyarakat Sumatra Utara Perzona 2018



Kali ini Dinas Perpustakaan Dan Arsip Provinsi Sumatra Utara Dan Dinas Perpustakaan Arsip Kota Tebing Tinggi (18/1) mengadakan kegiatan literasi informasi bagi masyarakat SUMUT per zona 2018 yang diadakan di Bayu Lagoon Resto dan Taman Rekreasi.  Acara di mulai dari jam 09.00 WIB hingga selesai.  

Acara dimulai sedikit terlambat dari waktu yang dijadwalkan, karena peserta undangan belum banyak yang datang. Hal ini kemungkinan terjadi karena pemindahan lokasi acara. Sebelumnya sesuai yang tertulis di undangan acara akan digelar di Pondok Bagelen, akhirnya panitia acara menukar tempat di Bayu Lagoon.  Sambil menunggu Bapak kepala dinas perpustakan dan arsip SUMUT serta jajarannya hadir di lokasi. Akhirnya Bapak Drs. Khairil Anwar, Msi,  selaku Kepala dinas perpustakaan dan arsip kota Tebing Tinggi dan tuan rumah mengambil alih beberapa waktu. Bapak Kepala Dinas perpustakaan dan arsip kota Tebing Tinggi memaparkan penjelasan peraturan walikota seputar perpustakaan, tentang geliat literasi di kota Tebing Tinggi. penambahan armada perpustakaan bergerak milik pemerintah kota seperti Mobil pustaka, motor pustaka. Dan perkembangan literasi sekolah-sekolah yang ada di Tebing Tinggi.  Mulai dari tingkat PAUD hingga SMA. 

Kata sambutan
Kepala dinas perpustakaan dan arsip
Sumatra utara


Kota Tebing Tinggi sudah mendeklarasikan sebagai kota literasi. Sehingga dinas perpustakaan akan berinovasi untuk memajukan perpustakaan yang ada di Tebing Tinggi serta taman bacaan masyarakat. Program dinas kota Tebing Tinggi yang akan diluncurkan yaitu tentang perpustakaan kota Tebing Tinggi berbasis IT yang akan diintegrasikan oleh beberapa perpustakaan. Dengan begini akan lebih memudahakan pembaca yang akan meminjam buku. Dengan kemajuan teknologi semuanya bisa dilakukan menggunakan daring. 

Setelah coffee break. Acara dilanjutkan oleh pihak dinas perpustakaan dan arsip profinsi Sumatra Utara Bapak Ferlin H. Nainggolan, SH. Bapak kepala dinas menjelaskan kegiatan Kegiatan literasi informasi bagi masyarakat Sumatra Utara perzona 2018 akan dilakukan di 5 kota yaitu Dairi, Langkat, Labuhan Batu, Siantar dan Tebing Tinggi.  Perkembangan literasi di SUMATRA sangat signifikan.  Geliat-geliat penggagas taman bacaan masyarakat juga semakin banyak. Hal ini menunjukkan respon positif dari masyarakat pentingnya berliterasi. Dari kegiatan literasi informasi masyarakat maka nantinya akan diakhiri dengan zambore literasi pada tangga 1-4 november di Tapanuli Selatan.  

Di akhir acara pengangkatan pengurus  forum literasi Kota Tebing Tinggi . 

Bayi Kecil yang Menjelma Dewasa

By google

Kini bayi kecil itu telah menjelma menjadi dewasa
Dulu ditimang dan di gudang-gudang dengan mesra dan penuh canda tawa
Tangan kekar sang ayah menggendong penuh rasa cinta
Pukpuk mesra ibu sembari menyusuinya hingga terlena
Kakak dan abangnya ikut bahagia menemaninya

Kini bayi kecil itu telah menjelma menjadi dewasa
Usianya sudah mencapai dua puluh lima
Bagi wanita seusianya sudah pasti ingin menikah
Datanglah seorang pria bersama keluarganya untuk bersilaturahmi dan meminangnya

Kini bayi kecil itu menjelma menjadi dewasa
Yang dulu kecil ditimang ayah, kini telah dipersunting pemuda gagah
Sudah berpindah surga dari ibu dan ayah ke suami tercinta
Jadilah wanita yang istimewa bagi lelaki yang berani menaggung jawabi hidupmu
Patuh dan taat lah kepada dia Yang kini menjadi imam bagimu
Jangan lupa suamimu tetap milik ibunya semata hingga akhir hidupnya

Dewie DeAn
16 September 2018, Ipoh Perak, Malaysia







Kenangan Aku Dan Seorang yang Tidak Akan Kusebutkan Namanya

By: hipwee

"Satu hal yang tidak menua adalah kenangan"

Jumat 12 tahun lalu tepatnya saat bulan januari. Sepulang sekolah aku menaiki angkot menuju ke undangan acara sebuah organisasi. Aku berangkat sendiri kebetulan yang lainnya ada kegiatan lain pula. Dengan penuh percaya diri aku melangkahkan kaki ke tempat acara. Di sana terlihat peserta undangan dan panitia sudah pada berdatangan. Mayoritas perempuan. Sebagian lelaki sedang sholat jumat. 

Ba'da jumaatan ruangan mulai penuh. Kursi-kursi yang tadinya kosong sudah diduduki oleh para tetamu. Setelah itu pembawa acara membuka acara dengan semangat. Para undangan juga tidak kalah semangat menjawab sapaan pembawa acara. Satu persatu acara mulai dijalankan. Sangat menarik sekali acara persahabatan antar sekolah itu. Ada yang berbeda dari acara tersebut. Di sana ada acara menjadikan sisawa/siswi entrepreneur. 

Aku duduk di bangku barisan tengah. Bergabung dengan perwakilan dari sekolah lain. Kami membaur saling kenal. Saling tukar cerita untuk mengusir kecanggungan, mencairkan suasana. 

"Assalamualaikum... " satu suara mengucapkan dari belakang tempat dudukku.

"Waalaykumsalam" seketika aku melihat melihat ke arah suara itu berasal. 

"Sendiri saja? Mana temannya" tanya sosok itu.

"Iya, yang lain juga lagi ada acara" jawabku.

"Kamu masih kenal aku kan?" Tanyanya lagi penuh percaya diri.

Aku merasa dia memang tidak terlihat asing. Tapi, ingatanku terkadang payah. Seringkali kenal wajah tapi tak ingat nama. Dan tak jarang pula lupa dimana kami pernah bertemu.

"Hmmm ngga apa-apa kalau lupa. Kita bisa kenalan lagi" senyumannya mengembang. Seakan membaca pikiranku dari raut wajahku yang barangkali saat itu tampak bingung. 

"Maaf... Aku lupa" jawabki dengan wajah memerah. 

Seketika dia menyebutkan namanya. Saat itu pula aku ingat dimana pertama kali kami berjumpa. Dan pernah bekerja sama dalam acara antar sekolah.  Sejak saat itu kami sering berkomunikasi. Sering berdiskusi soal dunia usaha. Hingga akhirnya kami berkolaborasi membuat usaha kecil-kecilan.

Hampir setiap hujung minggu dia datang ke rumahku untuk berdiskusi soal usaha kecil yang akan kami jalankan. Sesekali kami keliling naik sepeda motor tua kesayangannya. Berkeliling ke warung-warung yang akan kami titipi produk yang kami jual. Dengan siatem konsinyasi tentunya. 

Dari kerja sama itu Aku banyak belajar usaha dari dirinya. Bahkan hari ini dia masih setia mengajari tentang ilmu bisnis. Sebuah kenangan masa lalu dengan dia yang tidak akan aku sebutkan namanya. Naik motor tua panas-panasan hingga jadi sahabatan sampai sekarang. Terimakasih untuk semuanya.

Wanita Bermata Indah



Saat usianya beranjak dewasa  jalan yang dipilih adalah jalan pengembaraan. Dari satu negeri ke negeri lainnya dijelajahi. Dengan membawa tas dengan isi alakadarnya. Satu kitab yang tidak pernah ia tinggalkan yaitu; alquran. Ada pula buku cacatan harian yang sudah kucel karena setiap hari selalu menjadi teman curhatnya. Satu buku cerita tentang perjalanan yang menjadi peneman perjalanannya.

Dari setiap perjalanannya mesjid sebagai tempat persinggahan paling favorit. Di mesjid-mesjid itu seringkali ia ijin menginap sebarang sehari atau dua hari bahkan seminggu. Tidak jarang pula sampai berbulan lamanya. Hingga ia berada di satu kota, di mana kekuasaan dipegang oleh seorang raja yang tamak. Ia menetap di mesjid Al amin berbulan lamanya. Di sana pula ia banyak memperhatikan masyarakatnya. Setiap hari selalu keluar masuk pasar untuk sekedar berinteraksi dengan orang banyak. Tapi, di sudut pasar ada orang yang selalu memperhatikannya.  Sehabis ashar ia mengajar ngaji anak-anak di perkampungan itu.

Hingga banyak pula yang mulai mencintainya sebagai saudara. Bahkan anak-anak perawan sebayanya seringkali menaruh hati padanya. Tapi ia hanya biasa saja. Baginya kampuang Tunis bukan lah tujuan akhirnya. Ia akan melanjutkan perjalanan ke perkampungan dan kota lainnya. Ia ingin menamatkan pengembaraannya.

***

Seperti biasanya sehabis subuh ia murojaah hapalannya. Setelah itu ia berganti baju dan berjalan menuju pasar. Sepanjang perjalanan ia menebar kebaikan kepada orang sekitar yang ia temui. Sekedar senyum ramah dan tegur sapa. Sampai di pasar, pasar belum terlalu ramai. Biasanya pasar akan ramai setelah jam 8 ke atas.

Bapak separuh baya itu sudah membuka kedainya. Sehabis subuh bapak itu langsung ke pasar.

"Hai... Sini, Nak" panggil bapak separuh baya kepada pemuda yang melintas di depan kedainya.

"Iya, Pak. Ada apa?" Pemuda itu pun medatanginya.

"Kamu pemuda sini?" Tanya Bapak itu ramah.

"Tidak, Pak. Saya hanya pendatang di kampung ini" jawabnya polos dan senyuman tetap melengkung di bibirnya.

"Pantas saja Bapak baru seminggu ini melihatmu di pasar. Anak muda di sini jangankan ke pasar ke mesjid saja susah sekali. Sehingga mesjid-mesjid di sini isinya hanya orangtua saja" ucap Bapak itu panjang lebar.

"Nama kamu siapa?"

"Rahim, Pak"

" Nama yang bagus" puji Bapak itu.

"Nama saya Razmi. Panggil saja Pak Razmi. Di sini kamu tinggal di mana?"

" Numpang di Masjid Al amin, sekalian kalau sore mengajar anak-anak kampung mengaji"

"Masya Allah. Pemuda yang taat dan luarbiasa"

Rahim pun pamit untuk berkeliling pasar. Bukan tidak ada maksud dan tujuan Rahim setiap hari datang ke pasar. Selain melihat tingkah laku masyarakat dan perputaran ekonomi rakyat setempat Rahim juga tidak sungkan untuk menolong membawakan belanjaan orangtua yang belanjaannya terlihat berat. Kadang dia diberi upah. Namun dia menolak secara halus. Karena dia membantu secara ikhlas. Kadang pula dia kerja serabutan di pasar.

Sudah sebulan lebih Rahim bertahan di kampung itu. Setelah pertemuan dengan Pak Razmi tempo hari. Saat dari mesjid Al amin hendak ke pasar ternyata Rahim bertemu Pak Razmi lagi. Ternyata sejak pertemuan itu Pak Razmi diam-diam menyelidiki aktivitas Rahim di mesjid Al amin.

"Mau ke pasar?" Tegur Pak Razmi mengagetkan Rahim yang serius menuju pasar.

"Eh iya, Pak"

"Bapak dari mana kok bisa di sini"

"Saya tadi sholat di mesjid Al amin juga biar dekat kalau ke pasar" kilah Pak Razmi.

"Oh... Tadi kenapa saya ngga melihat Bapak ya?"

"Tadi saya melihat kamu. Ayuk saya bonceng" Pak Razmi menawarkan tumpangan kepada Rahim. Dan Rahim pun tidak dapat menolaknya.

Sepanjang perjalanan anak muda dan bapak separuh baya banyak bercerita. Tidak terasa mereka sudah sampai di dapan kedai milik Pak Razmi.

"Hmmm... Kamu mau kerja di kedai saya?" Dengan hati-hati Pak Razmi menawarkan pekerjaan kepada Rahim.

"Kerja apa, Pak? Saya ngga pandai berdagang" ucap Rahim

"Tidak apa. Nanti saya ajarin asal kamu mau. Dan nanti kamu bisa tinggal di rumah saya"

Setelah berpikir sedikit lama Rahim menerima tawaran itu. Mulai hari itu Rahim punya pekerjaan baru. Pak Razmu begitu sabar mengajari Rahim berdagang. Dari ilmu penjualan hingga urusan keuangan. Rahim pun sudah tinggal di sebuah rumah Pak Razmi yang biasa dikontrakkan ke orang lain. Namun kali itu rumah itu tidak dikontrakkan. Tetapi untuk ditempati Rahim tanpa dipungut uang kontrakan.

Rahim begitu cekatan. Cepat menangkap semua sistem dagang yang diajarkan Pak Razmi. Hingga akhirnya Rahim diberi kepercayaam sebagai orang kanan. Saat Pak Razmi ke luar kot Rahim lah yang mengurus kedai itu. Saat Pak Razmi kembali segala keuangan tidak ada yang kurang se sen pun. Hingga makin kagum lah Pak Razmi kepada Rahim.

Saat itu kedai tidak terlalu ramai. Rahim menulis beberapa barang yang stocknya tingga sedikit. Pak Razmi di balik meja kasir memperhatikannya.

"Rahim sini. Bapak mau ngomong sesuatu"

"Iya, Pak. Ada apa" Rahim terus menghampiri.

"Sekarang usia kamu sudah berapa?" Tanya Pak Rahim begitu hati-hati.

"24 tahun, Pak"

"Kamu tidak ingin menikah?"

"Hmmm... Siapa yang mau sama saya, Pak" jawab Rahim denga suara rendah sambil menundukkan kepala.

" Saya punya anak perempuan yang usianya hampir seusia denganmu. Jika kamu bersedia menikah, saya ingin kamu menikahinya. Soal biaya pernikahan tidak usah dikhawatirkan. Saya yang menanggungnya"

Hati Rahim berdetak kencang. Mukanya memerah. Ingin menolak tapi tidak enak. Ingin menerima tapi belum punya persiapan matang untuk menikah. Serba salah.

"Insya Allah, Pak" Jawab Rahim tanda setuju.

***

Ke esokan harinya. Saat tengah hari Pak Razmi membawa perempuan muda. Berjilbab lebar dan bercadar. Rahim sempat memandang mata gadis itu. Seketika darahnya berdesir. Wajahnya pucat. Mata gadis itu begitu indah. Rahim berkali-kali beristighfar. Namun tatapan wanita itu masih terbayang. Padahal pandangan yang tidak sengaja itu tidak sampai semenit.

" Him... Kenalkan ini anak bapak. Namanya Haliza. Dia baru saja tamat dari Turkey" Pak Razmi memperkenalkan putrinya kepada Rahim.

Rahim tidak berani memandang wajah wanita itu. Pandangannya menunduk dan tangannya mendekap di dada sambil menyebut namanya sebagai tanda perkenalan.

#day13
#penajuara
#ramadhanberkisah
#indah

Dear yang Masih Menjadi Rahasia Namun Terlantun Dalam Doa-Doa Malam yang Panjang



Tulisan ini untukmu yang masih menjadi rahasia dan tanda tanya besar di benakku. Kali ini aku menuliskan tentangmu. Tentang kamu yang masih rahasia. Dan bisa jadi aku juga rahasia bagimu. Sepertiga ramadan sudah terlewati. Namun aku masih sendiri tanpamu. Tapi tidak mengapa karena aku tahu kamu akan hadir di waktu yang tepat dan terbaik menurutNya. 

Untuk kamu yang masih dalam genggaman rahasiaNya. Semoga kamu selalu sehat walafiat. Tidak lupa beribadah dan berdoa agar kita segera dipertemukan dengan keadaan siap. Aku pantas untukmu dan kamu pantas untukku. Kita saling memantaskan. 

Untuk kamu yang namanya sudah tertulis rapi di lauhulahfuz. Katanya kita berjodoh ya? Katanya namamu dan namaku sudah tertera di sana. Namun kita tidak sama-sama tahu. Ini rahasia besar Nya. Kita tidak usah saling gusar, gundah gulana. Cukup yakin dan percaya serta berpikir positif kepada Nya. Sampai saat ini kita belum berjumpa barangkali jalan yang kita tempuh memutar untuk sampai pada mahligai indah yang disatukan dengan mitsaqon gholidzo. 

Untukmu yang kelak akan menjadi imamku. Izinkan aku membayangakan bagaimana kelak akan bertemu denganmu. Bisa jadi kita bertemu dalam perjalanan, dalam pertemuan-pertemuan atau dalam pesta pernikahan teman sejawat atau temab masa kecil kita. Ah sungguh itu rahasia yang hanya bisa aku bayangkan tanpa tau gimana kebebarannya. 

Untukmu yang kelak menua bersamaku. Izinkan aku menyimpan rindu terhadapmu di ruang paling dalam sanubariku. Hingga saat bertemu kau akan tau betapa besar rinduku saat menantimu. 

Untuk kamu yang kelak membimbingku. Mengalihkan tugas ayahanda tercintaku ke bahumu. Dalam doa-doa panjang malamku. Aku selalu berdoa untuk kebaikan-kebaikanmu. Hingga ketika kita berjumpa kita dalam keadaan yang baik pula. 

Apakah kamu juga sama denganku. Ketika kau berbincang dengan Rabb mu selalu membincangkanku dalam doa mu?. Ah aku selalu ingin tau ya?. Tapi aku yakin kamu juga sama denganku. Kita saling mencari, saling berusaha dan saling berdoa untuk bisa segera bertemu. 

Biar ini menjadi rahasia sementara di anrara kita sebelum kelak kita. Karena Allah tidak akan membiarkan kita merintih dan menangis ketika sudah berusaha. 

Untuk kamu yang masih rahasia. Jaga hatimu dan aku jaga hatiku. Dan kita menjaga hati untuk hati yang terjaga. 


#day11
#ramadhanberkisah
#penajuara 
#rahasia 

Enigma Cinta



Laki-laki berkepala botak dengan usia sekitar 50 tahun menurunkan seorang wanita muda di sebuah pusat kecantikan di bilangan ibu kota. Sebaik saja wanita itu turun, mobil langsung melaju membelah jalan raya. Laki-laki botak, berperut buncit, berkaca mata itu ternyata orang penting di pemerintahan. 

"Hai... Re... Kapan kamu sampai di sini?" Sapa Mia, pemilik pusat kecantika dan kebugaran itu.

"Baru saja" ucap Rera datar sambil melihat-lihat katalog tas di keranjang surat kabar. 

"Sendiri?" 

"Iya. Tadi diantar suami" ucap Re sambil mengedipkan mata. Kedipan mata sebagai enigma bahwa suami yang dia maksud adalah pejabat negara. Yang tidak sembarang orang tahu. 

"Oh..." Mia mengangguk tanda paham. 

Siang itu cuaca ibu kota lagi membahang. Sungguh buat panas badan meningkat walau sudah berada di ruangan berpendingin masih terasa panasnya. 

Siang itu pengunjung pusat kebugaran dan kecantikan itu  lumayan ramai dari biasanya. Yang datang kalangan menengah ke atas. Seorang lak-laki tinggi besar memasuki ruang tunggu dengan membawa tas agak besar. Jaket hitam dan topi menghiasi kepalanya. Lalu menuju ruangan dalam. Dan memasuki kamar yang di dalamnya ada Rera.

"Hallo selamat siang Bagus" sapa Rera saat Bagus sudah sampai di kamar. 

"Siang" jawab Bagus singkat. Bagus membuka jaketnya. Sehingga Bagus hanya memakai kaus dalam saja. 

"Kamu membawa alat-alatnya?" Tanya Rera

"Kenapa kamu memaksaku untuk mentato dirimu. Padahal di luar sana banyak tukang tato yang lebih profesional" Bagus sedikit kesal. Karena Rera hanya ingin ditato olehnya. Ini semua pasti gara-gara Mia. Batinnya.

" Mereka tidak sama denganmu" Rera menjawab santai dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir bagus. Pertanda jangan banyak omong. 

Bagus mengeluarkan alat-alat tato dari dalam tasnya. Satu persatu dijajarkan dengan rapi. Rera memperhatikan setiap gerakan Bagus. Lantas ia mengulum senyuman yang penuh arti. 

"Kenapa kamu mau di Tato olehku" tanya Bagus masih dengan penasarannya. 

"Karena kamu istimewa" jawab Rera Nakal. Bagus terdiam tangannya sambik menyiapkan semua alat. 

"Tapi kan kamu istri dari seorang pejabat tinggi di Indonesia. Bagaimana jika orang tau kamu menato dirimu dan mereka menggunjingmu. Apa kamu tidak takut? Bahkan aku saja hampir tobat menjadi tukang tato" 

"Nanti kamu akan tau siapa diriku. Aku ingin mentato mawar hitam berdarah di kakiku seperti permintaanku tempo hari" 

Setelah semua selesai. Bagus menggambar kaki Rera yang jenjang dan putih. Semua laki-laki pasti menginginkan kaki wanita seperti itu. 

Bagus menggambar bunga mawar hitam meneteskan darah seperti  permintaan Rera. Penuh konsentrasi tinggi. Bagus melukis kulit Rare dengan penuh kehati-hatian. Rare ingin gambar yang sempurna. Sesekali Rare menjerit karena sakit di tubuhnya. 

"Husss..." Bagus langsung saja meminta Rera diam, nanti orang-orang tahu ada istri pejabat di ruangan ini. 

"Kalau kamu tau. Aku bukan lah wanita istri pertama tuan pejabat. Aku hanya wanita simpanan saja. Tidak lebih. Tapi dia sangat mencintaiku. Segala apa yang aku minta pasti selalu dituruti" 

"Termasuk tato?" Tanya Bagas polos.

"Kalau ini dia tidak tau. Ini kemauanku tanpa perlu diketahui olehnya" Rera terus bercerita tentang laki-laki yang menyimpannya sebai kekasih simpanan. 

"Nanti dia akan marah jika tau?" 

"Rasanya tidak. Ia pergi jauh untuk beberapa hari. Kemarin saya menemukan pesan berupa sandi yang hanya diketahui diantara mereka. Rasanya ada sesuatu keonaran yang akan mereka lakukan di ibu kota ini. Saksikan saja. Ini hanya kita berdua saja yang tau" 

Bagus hanya diam. Tangannya lincah memainkan alat tato. Rare memandang Bagus begitu berhasrat. Namun Bagus tampak tenang dan santai. Sebenarnya Rare tidak pernah benar-benar cinta kepada pejabat yang menjadikannya kekasih gelap. Rare sebenarnya mencintai Bagus. Dari pertama mendengar namanya. Dan ia ingin menjatuhkan pejabat itu hingga mati masuk liang tanah.

#day10
#ramadhanberkisah
#penajuara
#enigma 











Mbolang Di Tanah Pasundan



Seharian ini di kerjaan, saya mengerjakan beberapa proyek. Jadi tidak teringat ada tugas dari Tim Pena Juara untuk menulis dengan keyword yang diberikan adalah "Bocah." Sepulang kerja, berbuka puasa dan melaksanakan sholat magrib saya kepikiran mau nulis apa tentang bocah. Mata juga mulai 5 watt. Rasa letih seharian bekerja masih setia bertengger di sendi dan otot. Tapi harus tetap nulis. Akhirnya kali ini saya mau cerita pengalaman saya saat mbolang di bumi pasundan. 

Sebenarnya cerita ini sudah cukp basi dan absurd. Karena sudah setahun lamanya. Tapi ngga apa juga lah ya. Siapa tau ada yang ingin membacanya. Ceritanya di mulai dari sini.

*** 
Saya itu suka banget yang namanya jalan-jalan. Setiap libur kerja pasti saya jalan-jalan. Entah itu sekedar nonton bioskop atau pun ke tempat-tempat yang nyaman dan menyenangkan. Pastinya sesuai budgdet di kantong. 

Waktu itu tengah malam saya iseng-iseng membuka halaman pencarian tiket murah. Eh qodarullah ditunjukkan tiket ke Bandung dengan harga super murah. Saat itu harga tiket pesawat dari Malaysia ke Bandung ngga sampai 100 ribu. Tanpa pikir panjang saya booking saja. Pergi ataupun nantinya ngga jadi pergi soa belakangan. Yang pentiket sudah ada ditangan. 

Sudah menjelang hari yang ditentukan. Saya mendapat email balasan dari boss. Intinya boss megijinkan saya untuk berlibur ke Indonesia. Hati saya tentunya berbunga-bunga kayak julukan tanah pasundan. Alhamdulillah saya langsung packing seadanya membawa backpack 45L dan besoknya langsung ke Airport. Ternyata penerbangan dicancel dan saya harus ngemper di Bandara KLIA 2. Saya bagaikan bocah ilang. Ngemper di sudut-sudut ruangan di Bandara. Tapi ini sudah biasa. 

Penerbangan jam 6 pagi waktu malaysia dan sampai ke Bandung sekitar jam 9 pagi Indonesia. Penumpang dalam peswat kebanyakan para touris asing. Mereka ingin melihat Indoneaia secara dekat dan melihat gadis-gadis kota kembang. Hehe 

Kota kembang memang punya ke indahan yang menakjubkan. Dari warganya yang ramah tamah, para gadis-gadisnya yang cantik jelita sampai destinasi wisatanya juga tidak ketinggalan. 

Kembali ke laptop. Sampai di Bandara Bandung saya duduk di pojokan ruang tunggu. Menepikan barang bawaan dan menghilangka. jetlag. Lagi-lagi saya persis bocah ilang. Karena kartu saya tidak bisa konek wifi. Beberapa kali temen  Saya ditelphone juga tidak aktif. Saya geret tas ke sana kemari. Ntah apa yang dibenak orang-orang saat itu ketika saya ke hulu dan ke hilir sambil menggeret tas. Saya tidak peduli. Bodo amat. Hihi 

Suda hampir sejam menunggu. Teman saya yang akan mengantarkan saya ke penginapan backpacker akhirnya datang. Langsung tanpa menunggu lama ia membawkaan tasku dan kami menuju pasir kaliki bawah. Sampai di penginapan saya hanya meletakkan tas dan saya lanjut ke beberapa destinasi wisata yang ada di Bandung. Saya menjelajah Lodge Maribaya yang begitu indah dengan hutan pinusnya. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Tangkuban perahu. Lalu ke Farm House saya sedikit lama karena hujan. Setelah dari Farm House saya menuju ke warung surabi imut. Dengan menikmati udara dingin kota Bandung pas banget menikmati surabi imut. 

Sampai ke penginapan hari sudah malam. Badan juga sudah cukup letih. Tapi hati ingin menikmati kota Bandung saat malam hari. Saya pun keluar mencari makan sambil cuci mata. Saya menyusuri jalanan pasir kaliki. Memasuki satu dua warung bakso. Pengunjungnya ramai sekali. Dan untuk makan di sana pun saya urungkan. Saya berjalan terus entah sudsh berapa jauh. Akhirnya saya makan bakso di warung tenda pinggir jalan. 

Bersambung kapan-kapan....  

#day9 
#penajuara
#ramadhanberkisah 
#bocah 

Merawat Nusantara


Berbicara Indonesia, bearti berbicara Nusantara. Wilayah Nusantara ini terbentang dari Sumatra hingga Papua. Sungguh besar sekali negara Indonesia. Dari negara kepulauan atau maritim, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Banyak agama dan ras. Tidak sekedar itu saja Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) juga melimpah. Dan ada lagi Nusantara adalah surganya kuliner. 

Dari 33 provinsi. Beribu macam suku di Indonesia. Dan bisa jadi dari setiap daerah atau dari setiap suku beragam kuliner yang dihasilkan. Walau seringkali ada beberapa yang sama tetapi penamaannya berbeda. Ini sungguh luar biasa sekali. Dan beberapa keseniannya juga begitu. Beragam kesenian, adat dan tradisi. Yang membuat semakin keberagaman Nusantara. Bahkan hal demikian seringkali membuat cemburu para negara tetangga. Tidak jarang pula keberagaman di Nusantara menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung. 

Adanya keberagaman Indonesia mulai dari agama, kuliner, kesenian, jejeran pulau-pulau. Harus kita rawat bersama. Kita jaga bersama. Perbedaan menjadi indah ketika saling menghorbati satu sama lain. Kesenian dan kekayaan alam nusantara merupakan harta bagi Indonesia. Jangan sampai semua itu dicuri dengan mudahnya dengan negara-negara yang tidak suka dengan Nusantara. 

Semisalnya seringkali terjadi klaim mengklaim oleh negara tetangga Malaysia. Dari kepulauan, kuliner serta keseniannya. Ketika mereka mengklaim kita baru teriak lantang sok jago. Padahal ketika belum diklaim kita santai saja. Tidak pernah inging tahu tentang Indonesia. Jadi, keragaman nusantara sebelum diklaim negara ain mari kata jaga bersama. Agar keoriginalan Indonedesia tetap terjaga.

#day8
#penajuara
#ramadhanberkisah
#nusantara

Sang Penjaga Ayat-Ayat CintaNya



Fachri begitu orang-orang memanggilnya. Sepintas tidak ada yang istimewa dari sosoknya. Bahkan kedua kakinya terkena polio sejak kecil. Fachri lumpuh sepanjang hidupnya. Ia tidak bisa berlari bemain layangan di sawah  bersama teman sebayanya. Tapi Fachri yakin ia pasti bisa berlari, bermain kelereng dan bermain sepak bola. Tapi, takdir Allah tetap sama. Fachri tidak bisa berjalan padahal usianya sudah memasuki 15 tahun. 

Kursi roda penaman sejati. Ketika Fachri hendak kemana pun pergi. Ibunya yang tulus dan sabar tidak pernah henti-hentinya memberikan motivasi. Sehingga Fachri merasa disayangi. Tidak diabaikan. Di balik kekurangan Fachri ada kelebihan yang tidak banyak orang ketahui.

Dengan penuh kesabaran ayah dan ibunya selalu memotivasi Fachri menjadi seorang hafiz. Bukan hal yang mudah menjadikan anak seorang penjaga ayat-ayat cinta Allah. Tapi dengan penuh keyakinan orangtua Fachri terus mendampinginya. Padahal jika dilihat dari akademik sekolah Fachri tidak begitu menonjol. Hanya satu pelajaran yang paling digemari Fachri yaitu; melukis. Selain itu setiap hari tidak terlepas dari muroja'ah alqurannya. 

Setiap pertandingan tilawatil alquran Fachri selalu menyabet juara satu. Tidak heran piala kemenangan tilawatil alquran berderet di rumahnya. Ibu dan ayah Fachri begitu bangga. Padahal saat Fachri kecil banyak yang berpiran tidak akan hidup lama. Karena kondisinya.

Pengumuman kelulusan Sekolah Menengah Pertama diumumkan. Orangtua Fachri harap-harap cemas dengan hasil kelulusan anaknya. Keduanya pasrah. Tapi mereka yakin Fachri akan lulus. Saat menerima amplop yang berisi pernyataan lulus atau tidak lulus, jemari ibunya dingin, dadanya berdesir. Matanya berkaca-kaca. Dan perlahan amplop itu disobek dan dibuka perlahan. Kalimat puji-pujian kepada Allah dilafazkan hampir tak terdengar. Kalimat demi kalimat dibaca. Hasilnya Facri lulus. Ayah Facri langsung sujud syukur. 

Meskipun nilai Fachri tidak tinggi seperti teman kebanyakannya. Tapi mereka sudah mengucapkan syukur tidak terhingga.

"Selamat ya, Nak. Alhamdulillah lulus," ibunya memeluknya penuh kasih sayang.

"Maaf ya, Bu. Fachri belum bisa ngasilin nilai yang tinggi." Ibu dan anak berpelukan begitu erat.

"Ngga apa, sayang. Jika kita lemah dalam urusan dunia, unggul lah dalam urusan akhirat." 

#day7
#ramadhanberkisah
#penajuara


#ayat

Memaknai Kehilangan


Kamu tahu defenisi hilang atau kehilangan? Hilang atau kehilangan adalah ketika suatu hal entah itu orang atau barang yang terlepas dari kita, meninggalkan kita dan tidak akan pernah kembali. Tidak akan pernah terlihat lagi. Tidak pernah akan bisa kita sapa lagi, tidak bisa kita mainkan lagi. Bahkan makna kehilangan bisa luas dari itu. 

Kamu pernah merasakan kehilangan? Atau pernah ditinggalkan orang yang kamu cintai? Setelah sekian tahun bersama.Rasanya pasti nyesek banget. Pernah kah ditinggalkan karena kematian?. Rasanya pasti meyakitkan. Ketika rindu tidak dapat digapai. Pasti ada perasaan marah, sedih, ingin menangis. Tapi luapan perasaan itu hanya bisa disampaikan, bisa dipeluk lewat doa-doa. 

Menangis saat mengenang kehilangan rasanya hanya sia-sia. Ia tidak akan pernah kembali. Tapi, ketika menangis bisa jadi memberikan sedikit keringanan dan kelegaan pada beban yang sedang ditanggung. Tapi, sedih berterus-terusan bukanlah jalan terbaik meratapi kehalangan. Kamu harus maju. Untuk maju tidak boleh berlarutan dalam kesedihan. Dengan langkah kecil dan tertih dan usap air mata melangkahlah. Karena maju itu dimulai dengan langkah walau sekecil apapun itu. Bukan terpuruk berlama-lama. 

"Hidup adalah  rangkaian pengalaman tentang kehilangan" [Eloy Zaluku] 

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Pasti ada saja peristiwa kehilangan yang kita alami. Entah kehilangan untuk selamanya atau sementara. 

Seperti halnya ramadhan yang kita lalui sekarang ini. Tepat hari ini ramadhan sudah berjalan 6 hari lamanya. Bearti sudah berlalu selama seminggu. Bearti kita juga sudah kehilangan enam hari yang berharga. Selama enam hari ini apakah kita sudah benar-benar membuat ramadhan begitu spesial? Atau hanya sekedar ritual puasa. Setiap hari yang dilalui masih sama. Tidak ada beda dengan bulan atau hari biasanya. Kitab-kitab yang berdebu masih jadi penghias lemari. Sholat lima waktu masih bolong-bolong bagai gigi nenek sudah tua. Atau masih berbuat maksiat. Sungguh ketika enam hari ramadhan berlalu kita sudah menyia-nyiakan dan kehilangan waktu yang berharga. Semua itu tidak akan kembali dengan mudah. 

Mungkin ramadhan akan kembali tahun depan. Apakah pasti usia kita sampai tahun depan? Tidak ada yang menjamin semua ini. Bisa jadi sedetik atau semenit dan sejam kemudian kita sudah kehilangan jatah usia kita. Allah sudah mencabut nyawa kita. Kepulangan yang amat rugi bagi kita. Ketika kehilangan jatah usia tapi amalan tidak bertambah bahkan semakin terpuruk. 

Jadi sebelum kita kehilangan apa yang kita cintai. Orang-orang yang bearti dalam hidup kita. Sebelum kehilangan nyawa yang lepas dari raga. Tetap lah menjadi sosok yang manis dan baik. Berikanlah kesan terbaik sebelum kehilangan menghampiri. 

#day6
#ramadhanberkisah
#penajuara 
#hilang 

Mendekap yang Berdebu


Aku masuk ke sebuah tempat dimana dulu saat aku kecil mengaji di sana. Di sana aku diajar huruf hijaiya. Dari alif, ba, ta, tsa dan ya. Hingga berlanjut sampai alquran. Tempat itu kini terlihat suram. Entah sudah berapa lama tempat ini terbiar. Tidak ada yang mengurus. Warga desa tidak ada yang peduli dengan kondisinya. Padahal jika dirawat mushola kecil itu bisa digunakan untuk kegiatan anak-anak mengaji. 

Kubuka pintu mushola. Terlihat di sana begitu begitu berantakan. Sajadah yang bertumpuk di sana sini, debu menebal di lantainya. Lemari kayu yang reot di ujung ruangan di atasnya tersusun iqro dan alquran. Aku mengusap debu di atas alquran. Alquran yang dulu menemaniku dan selalu kubaca ketika mengaji. Tiba-tiba hatiku mendung, mataku meneteskan gerimis yang perlahan luruh ke pipi. 
Kalam Allah yang begitu mulia dibiarkan saja. Tidak pernah terbaca. Kudekap alquran itu di dadaku. Tiba-tiba ada rasa marah. Ah... Tapi bukan saatnya marah. Aku juga sudah lama tidak tinggal di kampung ini. Barangkali orang-orang kampung begitu sibuk dengan aktifitas domestik mereka. Sehingga tidak sempat membersihakan tempat penuh ilmu di masa kecilku dulu. 

Kini aku sudah kembali ke kampung halaman. Setelah belasan tahun merantau di negara orang. Sudah saatnya aku harus mengabdi di kampung yang telah banyak memberikan pelajaran serta menerimaku setelah kepergianku. Kubersihkan lagi mushola yang sudah kusam. Debu-debu yang menebal disapu dan dipel. Kain jendela yang kusam karena debu dibersikan. Rak yang sudah reot dan lapuk diganti, sajadah yang penuh debu sudah dicuci. Kini semuanya sudah bersih. Satu dua orang penduduk kampung melihatku. Anak-anak muda kampung mulai tergerak hatinya untuk turut serta membersihkan. Sesekali mereka memberi masukan untuk kegiatan. Aku setuju selagi masih dalam kegiatan positif. Kuumumkan kepada warga setiap sore hari akan ada mengaji membaca iqro dan alquran. Warga menyambut dengan kelegaan. Anak-anak berduyun-duyun membawa iqro dan alquran dalam dekapan mereka. Tidak ketinggalan juga para orangtua. Hati ini menjadi lega. Yang lama berdebu kini dalam dekapan mereka.

#day5
#ramadhanberkisah
#penajuara
#dekap