Wanita Bermata Indah



Saat usianya beranjak dewasa  jalan yang dipilih adalah jalan pengembaraan. Dari satu negeri ke negeri lainnya dijelajahi. Dengan membawa tas dengan isi alakadarnya. Satu kitab yang tidak pernah ia tinggalkan yaitu; alquran. Ada pula buku cacatan harian yang sudah kucel karena setiap hari selalu menjadi teman curhatnya. Satu buku cerita tentang perjalanan yang menjadi peneman perjalanannya.

Dari setiap perjalanannya mesjid sebagai tempat persinggahan paling favorit. Di mesjid-mesjid itu seringkali ia ijin menginap sebarang sehari atau dua hari bahkan seminggu. Tidak jarang pula sampai berbulan lamanya. Hingga ia berada di satu kota, di mana kekuasaan dipegang oleh seorang raja yang tamak. Ia menetap di mesjid Al amin berbulan lamanya. Di sana pula ia banyak memperhatikan masyarakatnya. Setiap hari selalu keluar masuk pasar untuk sekedar berinteraksi dengan orang banyak. Tapi, di sudut pasar ada orang yang selalu memperhatikannya.  Sehabis ashar ia mengajar ngaji anak-anak di perkampungan itu.

Hingga banyak pula yang mulai mencintainya sebagai saudara. Bahkan anak-anak perawan sebayanya seringkali menaruh hati padanya. Tapi ia hanya biasa saja. Baginya kampuang Tunis bukan lah tujuan akhirnya. Ia akan melanjutkan perjalanan ke perkampungan dan kota lainnya. Ia ingin menamatkan pengembaraannya.

***

Seperti biasanya sehabis subuh ia murojaah hapalannya. Setelah itu ia berganti baju dan berjalan menuju pasar. Sepanjang perjalanan ia menebar kebaikan kepada orang sekitar yang ia temui. Sekedar senyum ramah dan tegur sapa. Sampai di pasar, pasar belum terlalu ramai. Biasanya pasar akan ramai setelah jam 8 ke atas.

Bapak separuh baya itu sudah membuka kedainya. Sehabis subuh bapak itu langsung ke pasar.

"Hai... Sini, Nak" panggil bapak separuh baya kepada pemuda yang melintas di depan kedainya.

"Iya, Pak. Ada apa?" Pemuda itu pun medatanginya.

"Kamu pemuda sini?" Tanya Bapak itu ramah.

"Tidak, Pak. Saya hanya pendatang di kampung ini" jawabnya polos dan senyuman tetap melengkung di bibirnya.

"Pantas saja Bapak baru seminggu ini melihatmu di pasar. Anak muda di sini jangankan ke pasar ke mesjid saja susah sekali. Sehingga mesjid-mesjid di sini isinya hanya orangtua saja" ucap Bapak itu panjang lebar.

"Nama kamu siapa?"

"Rahim, Pak"

" Nama yang bagus" puji Bapak itu.

"Nama saya Razmi. Panggil saja Pak Razmi. Di sini kamu tinggal di mana?"

" Numpang di Masjid Al amin, sekalian kalau sore mengajar anak-anak kampung mengaji"

"Masya Allah. Pemuda yang taat dan luarbiasa"

Rahim pun pamit untuk berkeliling pasar. Bukan tidak ada maksud dan tujuan Rahim setiap hari datang ke pasar. Selain melihat tingkah laku masyarakat dan perputaran ekonomi rakyat setempat Rahim juga tidak sungkan untuk menolong membawakan belanjaan orangtua yang belanjaannya terlihat berat. Kadang dia diberi upah. Namun dia menolak secara halus. Karena dia membantu secara ikhlas. Kadang pula dia kerja serabutan di pasar.

Sudah sebulan lebih Rahim bertahan di kampung itu. Setelah pertemuan dengan Pak Razmi tempo hari. Saat dari mesjid Al amin hendak ke pasar ternyata Rahim bertemu Pak Razmi lagi. Ternyata sejak pertemuan itu Pak Razmi diam-diam menyelidiki aktivitas Rahim di mesjid Al amin.

"Mau ke pasar?" Tegur Pak Razmi mengagetkan Rahim yang serius menuju pasar.

"Eh iya, Pak"

"Bapak dari mana kok bisa di sini"

"Saya tadi sholat di mesjid Al amin juga biar dekat kalau ke pasar" kilah Pak Razmi.

"Oh... Tadi kenapa saya ngga melihat Bapak ya?"

"Tadi saya melihat kamu. Ayuk saya bonceng" Pak Razmi menawarkan tumpangan kepada Rahim. Dan Rahim pun tidak dapat menolaknya.

Sepanjang perjalanan anak muda dan bapak separuh baya banyak bercerita. Tidak terasa mereka sudah sampai di dapan kedai milik Pak Razmi.

"Hmmm... Kamu mau kerja di kedai saya?" Dengan hati-hati Pak Razmi menawarkan pekerjaan kepada Rahim.

"Kerja apa, Pak? Saya ngga pandai berdagang" ucap Rahim

"Tidak apa. Nanti saya ajarin asal kamu mau. Dan nanti kamu bisa tinggal di rumah saya"

Setelah berpikir sedikit lama Rahim menerima tawaran itu. Mulai hari itu Rahim punya pekerjaan baru. Pak Razmu begitu sabar mengajari Rahim berdagang. Dari ilmu penjualan hingga urusan keuangan. Rahim pun sudah tinggal di sebuah rumah Pak Razmi yang biasa dikontrakkan ke orang lain. Namun kali itu rumah itu tidak dikontrakkan. Tetapi untuk ditempati Rahim tanpa dipungut uang kontrakan.

Rahim begitu cekatan. Cepat menangkap semua sistem dagang yang diajarkan Pak Razmi. Hingga akhirnya Rahim diberi kepercayaam sebagai orang kanan. Saat Pak Razmi ke luar kot Rahim lah yang mengurus kedai itu. Saat Pak Razmi kembali segala keuangan tidak ada yang kurang se sen pun. Hingga makin kagum lah Pak Razmi kepada Rahim.

Saat itu kedai tidak terlalu ramai. Rahim menulis beberapa barang yang stocknya tingga sedikit. Pak Razmi di balik meja kasir memperhatikannya.

"Rahim sini. Bapak mau ngomong sesuatu"

"Iya, Pak. Ada apa" Rahim terus menghampiri.

"Sekarang usia kamu sudah berapa?" Tanya Pak Rahim begitu hati-hati.

"24 tahun, Pak"

"Kamu tidak ingin menikah?"

"Hmmm... Siapa yang mau sama saya, Pak" jawab Rahim denga suara rendah sambil menundukkan kepala.

" Saya punya anak perempuan yang usianya hampir seusia denganmu. Jika kamu bersedia menikah, saya ingin kamu menikahinya. Soal biaya pernikahan tidak usah dikhawatirkan. Saya yang menanggungnya"

Hati Rahim berdetak kencang. Mukanya memerah. Ingin menolak tapi tidak enak. Ingin menerima tapi belum punya persiapan matang untuk menikah. Serba salah.

"Insya Allah, Pak" Jawab Rahim tanda setuju.

***

Ke esokan harinya. Saat tengah hari Pak Razmi membawa perempuan muda. Berjilbab lebar dan bercadar. Rahim sempat memandang mata gadis itu. Seketika darahnya berdesir. Wajahnya pucat. Mata gadis itu begitu indah. Rahim berkali-kali beristighfar. Namun tatapan wanita itu masih terbayang. Padahal pandangan yang tidak sengaja itu tidak sampai semenit.

" Him... Kenalkan ini anak bapak. Namanya Haliza. Dia baru saja tamat dari Turkey" Pak Razmi memperkenalkan putrinya kepada Rahim.

Rahim tidak berani memandang wajah wanita itu. Pandangannya menunduk dan tangannya mendekap di dada sambil menyebut namanya sebagai tanda perkenalan.

#day13
#penajuara
#ramadhanberkisah
#indah

Dear yang Masih Menjadi Rahasia Namun Terlantun Dalam Doa-Doa Malam yang Panjang



Tulisan ini untukmu yang masih menjadi rahasia dan tanda tanya besar di benakku. Kali ini aku menuliskan tentangmu. Tentang kamu yang masih rahasia. Dan bisa jadi aku juga rahasia bagimu. Sepertiga ramadan sudah terlewati. Namun aku masih sendiri tanpamu. Tapi tidak mengapa karena aku tahu kamu akan hadir di waktu yang tepat dan terbaik menurutNya. 

Untuk kamu yang masih dalam genggaman rahasiaNya. Semoga kamu selalu sehat walafiat. Tidak lupa beribadah dan berdoa agar kita segera dipertemukan dengan keadaan siap. Aku pantas untukmu dan kamu pantas untukku. Kita saling memantaskan. 

Untuk kamu yang namanya sudah tertulis rapi di lauhulahfuz. Katanya kita berjodoh ya? Katanya namamu dan namaku sudah tertera di sana. Namun kita tidak sama-sama tahu. Ini rahasia besar Nya. Kita tidak usah saling gusar, gundah gulana. Cukup yakin dan percaya serta berpikir positif kepada Nya. Sampai saat ini kita belum berjumpa barangkali jalan yang kita tempuh memutar untuk sampai pada mahligai indah yang disatukan dengan mitsaqon gholidzo. 

Untukmu yang kelak akan menjadi imamku. Izinkan aku membayangakan bagaimana kelak akan bertemu denganmu. Bisa jadi kita bertemu dalam perjalanan, dalam pertemuan-pertemuan atau dalam pesta pernikahan teman sejawat atau temab masa kecil kita. Ah sungguh itu rahasia yang hanya bisa aku bayangkan tanpa tau gimana kebebarannya. 

Untukmu yang kelak menua bersamaku. Izinkan aku menyimpan rindu terhadapmu di ruang paling dalam sanubariku. Hingga saat bertemu kau akan tau betapa besar rinduku saat menantimu. 

Untuk kamu yang kelak membimbingku. Mengalihkan tugas ayahanda tercintaku ke bahumu. Dalam doa-doa panjang malamku. Aku selalu berdoa untuk kebaikan-kebaikanmu. Hingga ketika kita berjumpa kita dalam keadaan yang baik pula. 

Apakah kamu juga sama denganku. Ketika kau berbincang dengan Rabb mu selalu membincangkanku dalam doa mu?. Ah aku selalu ingin tau ya?. Tapi aku yakin kamu juga sama denganku. Kita saling mencari, saling berusaha dan saling berdoa untuk bisa segera bertemu. 

Biar ini menjadi rahasia sementara di anrara kita sebelum kelak kita. Karena Allah tidak akan membiarkan kita merintih dan menangis ketika sudah berusaha. 

Untuk kamu yang masih rahasia. Jaga hatimu dan aku jaga hatiku. Dan kita menjaga hati untuk hati yang terjaga. 


#day11
#ramadhanberkisah
#penajuara 
#rahasia 

Enigma Cinta



Laki-laki berkepala botak dengan usia sekitar 50 tahun menurunkan seorang wanita muda di sebuah pusat kecantikan di bilangan ibu kota. Sebaik saja wanita itu turun, mobil langsung melaju membelah jalan raya. Laki-laki botak, berperut buncit, berkaca mata itu ternyata orang penting di pemerintahan. 

"Hai... Re... Kapan kamu sampai di sini?" Sapa Mia, pemilik pusat kecantika dan kebugaran itu.

"Baru saja" ucap Rera datar sambil melihat-lihat katalog tas di keranjang surat kabar. 

"Sendiri?" 

"Iya. Tadi diantar suami" ucap Re sambil mengedipkan mata. Kedipan mata sebagai enigma bahwa suami yang dia maksud adalah pejabat negara. Yang tidak sembarang orang tahu. 

"Oh..." Mia mengangguk tanda paham. 

Siang itu cuaca ibu kota lagi membahang. Sungguh buat panas badan meningkat walau sudah berada di ruangan berpendingin masih terasa panasnya. 

Siang itu pengunjung pusat kebugaran dan kecantikan itu  lumayan ramai dari biasanya. Yang datang kalangan menengah ke atas. Seorang lak-laki tinggi besar memasuki ruang tunggu dengan membawa tas agak besar. Jaket hitam dan topi menghiasi kepalanya. Lalu menuju ruangan dalam. Dan memasuki kamar yang di dalamnya ada Rera.

"Hallo selamat siang Bagus" sapa Rera saat Bagus sudah sampai di kamar. 

"Siang" jawab Bagus singkat. Bagus membuka jaketnya. Sehingga Bagus hanya memakai kaus dalam saja. 

"Kamu membawa alat-alatnya?" Tanya Rera

"Kenapa kamu memaksaku untuk mentato dirimu. Padahal di luar sana banyak tukang tato yang lebih profesional" Bagus sedikit kesal. Karena Rera hanya ingin ditato olehnya. Ini semua pasti gara-gara Mia. Batinnya.

" Mereka tidak sama denganmu" Rera menjawab santai dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir bagus. Pertanda jangan banyak omong. 

Bagus mengeluarkan alat-alat tato dari dalam tasnya. Satu persatu dijajarkan dengan rapi. Rera memperhatikan setiap gerakan Bagus. Lantas ia mengulum senyuman yang penuh arti. 

"Kenapa kamu mau di Tato olehku" tanya Bagus masih dengan penasarannya. 

"Karena kamu istimewa" jawab Rera Nakal. Bagus terdiam tangannya sambik menyiapkan semua alat. 

"Tapi kan kamu istri dari seorang pejabat tinggi di Indonesia. Bagaimana jika orang tau kamu menato dirimu dan mereka menggunjingmu. Apa kamu tidak takut? Bahkan aku saja hampir tobat menjadi tukang tato" 

"Nanti kamu akan tau siapa diriku. Aku ingin mentato mawar hitam berdarah di kakiku seperti permintaanku tempo hari" 

Setelah semua selesai. Bagus menggambar kaki Rera yang jenjang dan putih. Semua laki-laki pasti menginginkan kaki wanita seperti itu. 

Bagus menggambar bunga mawar hitam meneteskan darah seperti  permintaan Rera. Penuh konsentrasi tinggi. Bagus melukis kulit Rare dengan penuh kehati-hatian. Rare ingin gambar yang sempurna. Sesekali Rare menjerit karena sakit di tubuhnya. 

"Husss..." Bagus langsung saja meminta Rera diam, nanti orang-orang tahu ada istri pejabat di ruangan ini. 

"Kalau kamu tau. Aku bukan lah wanita istri pertama tuan pejabat. Aku hanya wanita simpanan saja. Tidak lebih. Tapi dia sangat mencintaiku. Segala apa yang aku minta pasti selalu dituruti" 

"Termasuk tato?" Tanya Bagas polos.

"Kalau ini dia tidak tau. Ini kemauanku tanpa perlu diketahui olehnya" Rera terus bercerita tentang laki-laki yang menyimpannya sebai kekasih simpanan. 

"Nanti dia akan marah jika tau?" 

"Rasanya tidak. Ia pergi jauh untuk beberapa hari. Kemarin saya menemukan pesan berupa sandi yang hanya diketahui diantara mereka. Rasanya ada sesuatu keonaran yang akan mereka lakukan di ibu kota ini. Saksikan saja. Ini hanya kita berdua saja yang tau" 

Bagus hanya diam. Tangannya lincah memainkan alat tato. Rare memandang Bagus begitu berhasrat. Namun Bagus tampak tenang dan santai. Sebenarnya Rare tidak pernah benar-benar cinta kepada pejabat yang menjadikannya kekasih gelap. Rare sebenarnya mencintai Bagus. Dari pertama mendengar namanya. Dan ia ingin menjatuhkan pejabat itu hingga mati masuk liang tanah.

#day10
#ramadhanberkisah
#penajuara
#enigma 











Mbolang Di Tanah Pasundan



Seharian ini di kerjaan, saya mengerjakan beberapa proyek. Jadi tidak teringat ada tugas dari Tim Pena Juara untuk menulis dengan keyword yang diberikan adalah "Bocah." Sepulang kerja, berbuka puasa dan melaksanakan sholat magrib saya kepikiran mau nulis apa tentang bocah. Mata juga mulai 5 watt. Rasa letih seharian bekerja masih setia bertengger di sendi dan otot. Tapi harus tetap nulis. Akhirnya kali ini saya mau cerita pengalaman saya saat mbolang di bumi pasundan. 

Sebenarnya cerita ini sudah cukp basi dan absurd. Karena sudah setahun lamanya. Tapi ngga apa juga lah ya. Siapa tau ada yang ingin membacanya. Ceritanya di mulai dari sini.

*** 
Saya itu suka banget yang namanya jalan-jalan. Setiap libur kerja pasti saya jalan-jalan. Entah itu sekedar nonton bioskop atau pun ke tempat-tempat yang nyaman dan menyenangkan. Pastinya sesuai budgdet di kantong. 

Waktu itu tengah malam saya iseng-iseng membuka halaman pencarian tiket murah. Eh qodarullah ditunjukkan tiket ke Bandung dengan harga super murah. Saat itu harga tiket pesawat dari Malaysia ke Bandung ngga sampai 100 ribu. Tanpa pikir panjang saya booking saja. Pergi ataupun nantinya ngga jadi pergi soa belakangan. Yang pentiket sudah ada ditangan. 

Sudah menjelang hari yang ditentukan. Saya mendapat email balasan dari boss. Intinya boss megijinkan saya untuk berlibur ke Indonesia. Hati saya tentunya berbunga-bunga kayak julukan tanah pasundan. Alhamdulillah saya langsung packing seadanya membawa backpack 45L dan besoknya langsung ke Airport. Ternyata penerbangan dicancel dan saya harus ngemper di Bandara KLIA 2. Saya bagaikan bocah ilang. Ngemper di sudut-sudut ruangan di Bandara. Tapi ini sudah biasa. 

Penerbangan jam 6 pagi waktu malaysia dan sampai ke Bandung sekitar jam 9 pagi Indonesia. Penumpang dalam peswat kebanyakan para touris asing. Mereka ingin melihat Indoneaia secara dekat dan melihat gadis-gadis kota kembang. Hehe 

Kota kembang memang punya ke indahan yang menakjubkan. Dari warganya yang ramah tamah, para gadis-gadisnya yang cantik jelita sampai destinasi wisatanya juga tidak ketinggalan. 

Kembali ke laptop. Sampai di Bandara Bandung saya duduk di pojokan ruang tunggu. Menepikan barang bawaan dan menghilangka. jetlag. Lagi-lagi saya persis bocah ilang. Karena kartu saya tidak bisa konek wifi. Beberapa kali temen  Saya ditelphone juga tidak aktif. Saya geret tas ke sana kemari. Ntah apa yang dibenak orang-orang saat itu ketika saya ke hulu dan ke hilir sambil menggeret tas. Saya tidak peduli. Bodo amat. Hihi 

Suda hampir sejam menunggu. Teman saya yang akan mengantarkan saya ke penginapan backpacker akhirnya datang. Langsung tanpa menunggu lama ia membawkaan tasku dan kami menuju pasir kaliki bawah. Sampai di penginapan saya hanya meletakkan tas dan saya lanjut ke beberapa destinasi wisata yang ada di Bandung. Saya menjelajah Lodge Maribaya yang begitu indah dengan hutan pinusnya. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Tangkuban perahu. Lalu ke Farm House saya sedikit lama karena hujan. Setelah dari Farm House saya menuju ke warung surabi imut. Dengan menikmati udara dingin kota Bandung pas banget menikmati surabi imut. 

Sampai ke penginapan hari sudah malam. Badan juga sudah cukup letih. Tapi hati ingin menikmati kota Bandung saat malam hari. Saya pun keluar mencari makan sambil cuci mata. Saya menyusuri jalanan pasir kaliki. Memasuki satu dua warung bakso. Pengunjungnya ramai sekali. Dan untuk makan di sana pun saya urungkan. Saya berjalan terus entah sudsh berapa jauh. Akhirnya saya makan bakso di warung tenda pinggir jalan. 

Bersambung kapan-kapan....  

#day9 
#penajuara
#ramadhanberkisah 
#bocah 

Merawat Nusantara


Berbicara Indonesia, bearti berbicara Nusantara. Wilayah Nusantara ini terbentang dari Sumatra hingga Papua. Sungguh besar sekali negara Indonesia. Dari negara kepulauan atau maritim, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Banyak agama dan ras. Tidak sekedar itu saja Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) juga melimpah. Dan ada lagi Nusantara adalah surganya kuliner. 

Dari 33 provinsi. Beribu macam suku di Indonesia. Dan bisa jadi dari setiap daerah atau dari setiap suku beragam kuliner yang dihasilkan. Walau seringkali ada beberapa yang sama tetapi penamaannya berbeda. Ini sungguh luar biasa sekali. Dan beberapa keseniannya juga begitu. Beragam kesenian, adat dan tradisi. Yang membuat semakin keberagaman Nusantara. Bahkan hal demikian seringkali membuat cemburu para negara tetangga. Tidak jarang pula keberagaman di Nusantara menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung. 

Adanya keberagaman Indonesia mulai dari agama, kuliner, kesenian, jejeran pulau-pulau. Harus kita rawat bersama. Kita jaga bersama. Perbedaan menjadi indah ketika saling menghorbati satu sama lain. Kesenian dan kekayaan alam nusantara merupakan harta bagi Indonesia. Jangan sampai semua itu dicuri dengan mudahnya dengan negara-negara yang tidak suka dengan Nusantara. 

Semisalnya seringkali terjadi klaim mengklaim oleh negara tetangga Malaysia. Dari kepulauan, kuliner serta keseniannya. Ketika mereka mengklaim kita baru teriak lantang sok jago. Padahal ketika belum diklaim kita santai saja. Tidak pernah inging tahu tentang Indonesia. Jadi, keragaman nusantara sebelum diklaim negara ain mari kata jaga bersama. Agar keoriginalan Indonedesia tetap terjaga.

#day8
#penajuara
#ramadhanberkisah
#nusantara

Sang Penjaga Ayat-Ayat CintaNya



Fachri begitu orang-orang memanggilnya. Sepintas tidak ada yang istimewa dari sosoknya. Bahkan kedua kakinya terkena polio sejak kecil. Fachri lumpuh sepanjang hidupnya. Ia tidak bisa berlari bemain layangan di sawah  bersama teman sebayanya. Tapi Fachri yakin ia pasti bisa berlari, bermain kelereng dan bermain sepak bola. Tapi, takdir Allah tetap sama. Fachri tidak bisa berjalan padahal usianya sudah memasuki 15 tahun. 

Kursi roda penaman sejati. Ketika Fachri hendak kemana pun pergi. Ibunya yang tulus dan sabar tidak pernah henti-hentinya memberikan motivasi. Sehingga Fachri merasa disayangi. Tidak diabaikan. Di balik kekurangan Fachri ada kelebihan yang tidak banyak orang ketahui.

Dengan penuh kesabaran ayah dan ibunya selalu memotivasi Fachri menjadi seorang hafiz. Bukan hal yang mudah menjadikan anak seorang penjaga ayat-ayat cinta Allah. Tapi dengan penuh keyakinan orangtua Fachri terus mendampinginya. Padahal jika dilihat dari akademik sekolah Fachri tidak begitu menonjol. Hanya satu pelajaran yang paling digemari Fachri yaitu; melukis. Selain itu setiap hari tidak terlepas dari muroja'ah alqurannya. 

Setiap pertandingan tilawatil alquran Fachri selalu menyabet juara satu. Tidak heran piala kemenangan tilawatil alquran berderet di rumahnya. Ibu dan ayah Fachri begitu bangga. Padahal saat Fachri kecil banyak yang berpiran tidak akan hidup lama. Karena kondisinya.

Pengumuman kelulusan Sekolah Menengah Pertama diumumkan. Orangtua Fachri harap-harap cemas dengan hasil kelulusan anaknya. Keduanya pasrah. Tapi mereka yakin Fachri akan lulus. Saat menerima amplop yang berisi pernyataan lulus atau tidak lulus, jemari ibunya dingin, dadanya berdesir. Matanya berkaca-kaca. Dan perlahan amplop itu disobek dan dibuka perlahan. Kalimat puji-pujian kepada Allah dilafazkan hampir tak terdengar. Kalimat demi kalimat dibaca. Hasilnya Facri lulus. Ayah Facri langsung sujud syukur. 

Meskipun nilai Fachri tidak tinggi seperti teman kebanyakannya. Tapi mereka sudah mengucapkan syukur tidak terhingga.

"Selamat ya, Nak. Alhamdulillah lulus," ibunya memeluknya penuh kasih sayang.

"Maaf ya, Bu. Fachri belum bisa ngasilin nilai yang tinggi." Ibu dan anak berpelukan begitu erat.

"Ngga apa, sayang. Jika kita lemah dalam urusan dunia, unggul lah dalam urusan akhirat." 

#day7
#ramadhanberkisah
#penajuara


#ayat

Memaknai Kehilangan


Kamu tahu defenisi hilang atau kehilangan? Hilang atau kehilangan adalah ketika suatu hal entah itu orang atau barang yang terlepas dari kita, meninggalkan kita dan tidak akan pernah kembali. Tidak akan pernah terlihat lagi. Tidak pernah akan bisa kita sapa lagi, tidak bisa kita mainkan lagi. Bahkan makna kehilangan bisa luas dari itu. 

Kamu pernah merasakan kehilangan? Atau pernah ditinggalkan orang yang kamu cintai? Setelah sekian tahun bersama.Rasanya pasti nyesek banget. Pernah kah ditinggalkan karena kematian?. Rasanya pasti meyakitkan. Ketika rindu tidak dapat digapai. Pasti ada perasaan marah, sedih, ingin menangis. Tapi luapan perasaan itu hanya bisa disampaikan, bisa dipeluk lewat doa-doa. 

Menangis saat mengenang kehilangan rasanya hanya sia-sia. Ia tidak akan pernah kembali. Tapi, ketika menangis bisa jadi memberikan sedikit keringanan dan kelegaan pada beban yang sedang ditanggung. Tapi, sedih berterus-terusan bukanlah jalan terbaik meratapi kehalangan. Kamu harus maju. Untuk maju tidak boleh berlarutan dalam kesedihan. Dengan langkah kecil dan tertih dan usap air mata melangkahlah. Karena maju itu dimulai dengan langkah walau sekecil apapun itu. Bukan terpuruk berlama-lama. 

"Hidup adalah  rangkaian pengalaman tentang kehilangan" [Eloy Zaluku] 

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Pasti ada saja peristiwa kehilangan yang kita alami. Entah kehilangan untuk selamanya atau sementara. 

Seperti halnya ramadhan yang kita lalui sekarang ini. Tepat hari ini ramadhan sudah berjalan 6 hari lamanya. Bearti sudah berlalu selama seminggu. Bearti kita juga sudah kehilangan enam hari yang berharga. Selama enam hari ini apakah kita sudah benar-benar membuat ramadhan begitu spesial? Atau hanya sekedar ritual puasa. Setiap hari yang dilalui masih sama. Tidak ada beda dengan bulan atau hari biasanya. Kitab-kitab yang berdebu masih jadi penghias lemari. Sholat lima waktu masih bolong-bolong bagai gigi nenek sudah tua. Atau masih berbuat maksiat. Sungguh ketika enam hari ramadhan berlalu kita sudah menyia-nyiakan dan kehilangan waktu yang berharga. Semua itu tidak akan kembali dengan mudah. 

Mungkin ramadhan akan kembali tahun depan. Apakah pasti usia kita sampai tahun depan? Tidak ada yang menjamin semua ini. Bisa jadi sedetik atau semenit dan sejam kemudian kita sudah kehilangan jatah usia kita. Allah sudah mencabut nyawa kita. Kepulangan yang amat rugi bagi kita. Ketika kehilangan jatah usia tapi amalan tidak bertambah bahkan semakin terpuruk. 

Jadi sebelum kita kehilangan apa yang kita cintai. Orang-orang yang bearti dalam hidup kita. Sebelum kehilangan nyawa yang lepas dari raga. Tetap lah menjadi sosok yang manis dan baik. Berikanlah kesan terbaik sebelum kehilangan menghampiri. 

#day6
#ramadhanberkisah
#penajuara 
#hilang 

Mendekap yang Berdebu


Aku masuk ke sebuah tempat dimana dulu saat aku kecil mengaji di sana. Di sana aku diajar huruf hijaiya. Dari alif, ba, ta, tsa dan ya. Hingga berlanjut sampai alquran. Tempat itu kini terlihat suram. Entah sudah berapa lama tempat ini terbiar. Tidak ada yang mengurus. Warga desa tidak ada yang peduli dengan kondisinya. Padahal jika dirawat mushola kecil itu bisa digunakan untuk kegiatan anak-anak mengaji. 

Kubuka pintu mushola. Terlihat di sana begitu begitu berantakan. Sajadah yang bertumpuk di sana sini, debu menebal di lantainya. Lemari kayu yang reot di ujung ruangan di atasnya tersusun iqro dan alquran. Aku mengusap debu di atas alquran. Alquran yang dulu menemaniku dan selalu kubaca ketika mengaji. Tiba-tiba hatiku mendung, mataku meneteskan gerimis yang perlahan luruh ke pipi. 
Kalam Allah yang begitu mulia dibiarkan saja. Tidak pernah terbaca. Kudekap alquran itu di dadaku. Tiba-tiba ada rasa marah. Ah... Tapi bukan saatnya marah. Aku juga sudah lama tidak tinggal di kampung ini. Barangkali orang-orang kampung begitu sibuk dengan aktifitas domestik mereka. Sehingga tidak sempat membersihakan tempat penuh ilmu di masa kecilku dulu. 

Kini aku sudah kembali ke kampung halaman. Setelah belasan tahun merantau di negara orang. Sudah saatnya aku harus mengabdi di kampung yang telah banyak memberikan pelajaran serta menerimaku setelah kepergianku. Kubersihkan lagi mushola yang sudah kusam. Debu-debu yang menebal disapu dan dipel. Kain jendela yang kusam karena debu dibersikan. Rak yang sudah reot dan lapuk diganti, sajadah yang penuh debu sudah dicuci. Kini semuanya sudah bersih. Satu dua orang penduduk kampung melihatku. Anak-anak muda kampung mulai tergerak hatinya untuk turut serta membersihkan. Sesekali mereka memberi masukan untuk kegiatan. Aku setuju selagi masih dalam kegiatan positif. Kuumumkan kepada warga setiap sore hari akan ada mengaji membaca iqro dan alquran. Warga menyambut dengan kelegaan. Anak-anak berduyun-duyun membawa iqro dan alquran dalam dekapan mereka. Tidak ketinggalan juga para orangtua. Hati ini menjadi lega. Yang lama berdebu kini dalam dekapan mereka.

#day5
#ramadhanberkisah
#penajuara
#dekap 

Orang Malaysia Suka Jimat!!!


Ini hari ke-4 Ramadhan. Dan hari  ke-4 saya ikut tantangan di grup Pena Juara Ramadhan Berkisah. Setiap hari akan ada satu keyword atau kata kunci yang akan diberi oleh admin. Setiap jam 11 malam atau sebelum pergantian hari kata kunci baru diberikan. Tepatnya malam tadi. Admin memberikan kata kunci dengan kata "Azimat" seketika saya berpikir. Kata kunci ini mau dibuat tulisan apa ya? Cerpen atau nulis artikel atau esai. Beberapa ide sudah berkelindan di pikiran saya. Ingin membuat cerpen komedi biar yang baca tidak tegang saat berpuasa, ingin membuat artikel tentang perbedaan makna kata jimat di Malaysia dan Indonesia dan beberapa ide lainnya. Tapi, sore ini saya memutuskan untuk membuat bercerita tentang "Orang Malaysia Suka Jimat." 

Saya sudah hampir 10 tahun tinggal di Malaysia. Meskipun Malaysia tampak sama dengan Indonesia, tapi banyak perbedaan. Dari segi budaya, masyarakatnya, makanannya, bahasanya. Soal bahasa walau saya sudah tinggal hampir 10 tahun masih banyak bahasa melayu yanh tidak saya pahami. Bahkan saat komunikasi saya lebih intens dengan menggunkan bahasa Indonesia. Bukan tidak bisa bahasa melayu, tapi sedikit kaku jika berbica dengan bahasa melayu. Tapi ketika saya berbahasa melayu ucapan saya terkesan lucu. 

Saat saya masih anak baru di Malaysia. Saya berbelanja di supermarket untuk membeli keperluan dapur. Seperti bawang, gula, cabai, tomat dan kawan-kawannya. Pas saat memilih tomat ada lebel harga dan di sampingnya ada bacaan 20% lebih jimat. Seketika saya tertawa. Bahasanya kok lucu sekali. Karena saat itu saya belum begitu akrab dengan bahasa Melayu. 

Ternyata jimat di Malaysia bukan seperti halnya jimat atau azimat di Indonesia. Makna jimat di Malaysia bermaksud "Hemat." Jika di Indonesia hemat di Malaysia Jimat. Dua kata dengan makna yang sama tapi pengucapan bahasanya beda. Meskipun saya sudah paham apa maksud dari kata "Jimat" tapi dengan refleks saya tersenyum. Dan orang-orang Malaysia suka berjimat. Agar pengeluaran tidak membengkak apa lagi melebihi pendapatannya. Bisa dipastikan juga jika ada barang yang dilebeli harga jimat 90% pasti banyak orang yang membelinya. Jadi, buat teman-teman yang melancong ke Malaysia dan berbelanja ke Mall atau supermarket. Jika menemui kata jimat 20%,30% dan lainnya. Jimat yang dimaksud bukan bermakna azimat atau penangkal yang sering kita dengar di Indonesia. 

#day4
#ramadhanberkisah
#penjuara
#azimat


Wakil Rakyat yang Buta



Puasa sudah berjalan beberapa hari. Kemeriahan ramadhan begitu terlihat, masyarakat muslim menyambutnya dengan suka cita. Semua bergembira. Tapi, masih ada sosok-sosok yang menganggap momen ramadhan seperti biasa saja. Tidak ada yang spesial, tak ubahnya seperti hari-hari biasa. Sudah terbiasa dengan puasa. Karena bagi mereka tiap hari adalah puasa. 

Jalanan ibu kota mulai lengang. Ternyata tidak selamanya ibu kota padat merayap, macat berjam-jam. Orang-orang yang tidak paham betul bahwa setiap roda ada perputaran. Kadang di atas dan kadang di bawah. Begitu juga arus lalu lintas. Di siang hari hingga menjelang malam padat merayap. Semua kendaraan berburu cepat sampai tujuan. Akhirnya macat di mana-mana. Dari ujung ke ujung jalan. Dari simpang ke simpang satunya. Jika mereka tau malam hari, di gelapan malam yang tak benar-benar gelap karena pertolongan cahaya jalanan lebih leluasa daripada di siang hari. 

"Manusia memang tidak sabaran. Jika mereka ingin menunggu sedikit saja sampai malam hari. Pasti jalanan Ibu Kota tidak akan pernah macat," lelaki tua itu bercakap dengan dirinya sendiri. Dengan gerobak sampah yang ditariknya kesana kemari untuk memungut bungkus bekas air meniral yang dicampakkan pengendara atau orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan. 

Tong sampah dikais-kais. Berharap ada barang yang bisa ia pungut untuk dijual dan dijadikan uang. Membeli kebutuhan dapur dan memenuhi hak perut yang sejengkal. Asap kendaraan mengangkasa menyebabkan langit menjadi kelabu. Suara-suara kendaraan menyebabkan polusi udara. Ditambah lagi suara klakson yang tidak sabaran. Gerah menyelimuti. 

Lelaki tua itu duduk di pingiran jalan raya. Matanya melangit dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Gerobaknya sudah hampir menjelang adzan magrib belum terisi penuh. Tidak jauh beda dengan keadaan perutnya yang sama sekali belum terisi apapun. Ia puasa sepanjang hari. Bisa jadi hingga esok harinya. 

Ingin segera pulang ke rumahnya. Ia tinggal di pinggiran rel kereta api bersama istri dan anaknya yang masih kecil. Di gerbong-gerbong kereta tak terpakai mereka tinggal. Jika ada razia tidak jarang mereka harus pindah, meninggalkan gerbong kereta yang mereka tempati. Sore itu langkahnya begitu lemas. Karena perutnya tidak terisi apa pun. Di sebrang jalan restoran menyediakan aneka makanan enak. Ia hanya bisa menelan air liur. Tenggorokannya turun naik. 

Jam sudah menunjukkan waktu berbuka. Semua orang menjamu selera. Ia hanya bisa melihat orang-orang yang begitu asik menikmati hidangan lezat. Langkahnya yang lemah terus berjalan menuju tempat penjualan barang bekas. Berapa pun hasilnya hari itu dia harus segera pulang. Anak dan istrinya sudah menunggunya pulang dan berharap membawa rupiah yang lumayan. 

Hari itu penghasilannya hanya cukup untuk membeli beras sekilo dan mie instan dua bungkus. Dengan hasil seadanya ia sedikit mempercepat langkahnya agar sampai rumah. Malaikat kecilnya sudah menunggu. Perutnya sudah berbunyi sejak bedug magrib belum berkumandang. Namun, hal itu sudah terbiasa baginya. 

**** 

Di tangan laki-laki itu sudah ada mie instan dan sekilo beras. Sisa uangnya masih ada tidak banyak jumlahnya. Tapi cukup untuk membeli minyak goreng seperempat kilo dan garam sebungkus. Malaikat kecil tak berdosa dan tidak pernah bisa memilih dari keluarga dengan status sosial yang bagaimana kondisinya. Yang dia tau kasih sayang kedua orang tuanya tidak pernah berkurang, walau keadaan ekonomi mereka sangat jauh di atas rata-rata kehidupan layak. 

"Bapak.... Bawa apa?" Mata bulat penuh kejujuran melihat bapaknya yang baru saja sampai di depan gerbong kereta langsung berlari, mendekati laki-laki yang sudah sejak dari tadi ditunggu. 

" Bapak bawa mie instant kesukaanmu dan ibumu," 

"Asik... Kita makan mie lagi," teriak bocah kecil itu girang. 

Di gedung tinggi, mewah  tidak jauh dari tempat tinggal mereka para pejabat negara yang katanya wakil rakyat. Tapi, tidak jauh dari kantor wakil rakyat ada rakyat yang hidup dengan mengandalkan penghasilan dari mengais-ngais tempat sampah. Mata para wakil rakyat itu terbuka tapi sejatinya buta. Hanya terbuka ketika meminta suara rakyat.

#nulisramadhan
#30harimenulis
#penajuara
#mata
#ramadhannberkisah

Laki-Laki yang Menahan Rindunya



Sudah 6 jam laki-laki itu dalam penerbangan. Membawa segudang rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Menuju tempat yang dirasanya sesuai untuk mengobati rasa kecewa terhadap keluarga wanita yang dicintainya. Jauh, tapi sejujurnya perasaan itu masih tetap sama.

Laki-laki itu yakin sekali di kota lain yang dituju akan ada pengobat luka hatinya yang menganga. Burung-burung gereja bercicit di pepohonan dekat rumah yang baru saja ia tinggali. Sesekali makhluk kecil itu bercengkrama dengan sesamanya. Mematuk-matuk dedaunan. Terbang rendah dan hinggap di pohon yang lain. 

"Sama sepertiku, terbang, pindah ke tempat yang lebih jauh," desisnya. Rumah minimalis yang ditinggalinya adalah rumah sahabat baiknya yang sedang bekerja di belahan bumi lainnya. Kini ia bertetangga dengan sepasang bule . Usianya sekitar 75 tahun. Namun masih tetap mesra. 

"Huft... Ini bukan tempat menenangkan. Burung gereja tadi seakan mengejek keadaanku. Tetangga yang usianya sudah terlalu senja duduk di taman belakang rumah, sambil bercengkrama mesra. Mereka seperti menghina keadaanku yang sedang terluka," dengusnya kesal. 

Batu-batu kerikil tersusun rapi di taman belakang. Mereka tidak punya rasa. Tidak pernah bersedih, menahan kesal amarah. Tapi  baginya sunyi cukup panjang dari pada keriangan. Atau tidak pernah merasakan keriangan sama sekali. Sepanjang hidupnya adalah; sunyi. 

Akhirnya laki-laki itu ingin seperti batu. Diam, tidak peduli, tidak ingin marah sesekali hanya tertawa tidak terbahak-bahak. Hatinya masih tetap kecut dan lukanya menganga. Meskipun tidak terlalu parah. 

Ia mulai berdamai dengan hatinya. Menerima segala sesuatu yang sudah terjadi atas dirinya. Walau sifat tidak peduli masih sedikit tersisa. Sikap diamnya masih tetap bertahan. Baginya amarah adalah kerinduan dengan kekasihnya.  

#30harimenulis
#ramadhanmenulis
#penajuara 
#day2
#amarah
#ramadhanberkisah

Cerita Rindu Dari Kolong Langit Kuala Lumpur


Malam semakin pekat. Orang-orang mulai mengunci rapat pintu rumahnya. Tapi, di jalanan sana masih banyak orang terjaga.  Di kedai mamak 24 jam. Masih ramai orang-orang menikmati malam sembari menjamu selera. Anak-anak muda berputar melingkari meja. Melepas satu dua hembusan asap ke udara. Meneguk segelas teh tarik. Membicarakan yang hangat di antara mereka. 

Kuala Lumpur, seperti kota metropolitan kebanyakannya. Tidak pernah sepi bahkan tidak pernah tidur. Selalu terjaga. Habis jatah sang mentari menerangi, digantikan lagi oleh cahaya lampu yang terang benderang. Pantulan sinarnya menerangi wajah-wajah yang sudah seharian terbakar di bawah sinar matahari. 

Di lorong-lorong yang lain. Jiwa-jiwa penuh pengharapan. Bibirnya komat-kamit di bawah atap langit. Seolah-olah sedang tawar menawar dengan Tuhannya. Sedang mengemis pinta agar ada rezeki untuk mereka. Hingga akhirnya mereka tidur tanpa ruangan, tanpa pintu, tanpa atap apatah lagi tempat tidur. Di emperan kaki lima mereka membentang selembar kain yang sudah berubah warna dari cerah menjadi kelabu karena debu. Merebahkan badan, melepas lelah seharian beraktivitas. Entah aktivitas apa yang mereka kerjakan. Bagi mereka, apapun itu asal bisa menyambung nyawa. 

Di perempatan lampu merah. Sepasang suami istri memandang jauh ke depan. Tatapannya kosong. Di sampingnya ada beberapa bungkusan yang isinya entah. Suami istri yang sudah sepuh, kulit matanya sudah terlihat kedutan, giginya sudah tidak lagi sempurna. Mereka tersenyum. 

"Kamu seperti anakku," ketika seorang wanita berjalan di dekat mereka. Lantas wanita itu berhenti di dekat kedua orang tua yang menegurnya.

"Di mana anaknya, Bu?" Wanita itu bertanya kembali. Tatapannya iba. Teringat orangtuanya di kampung halaman. 

"Di kampung. Jauh," jawab ibu itu sembari memegang tangan wanita muda itu. 

Di antara jiwa-jiwa yang sedang sibuk satu sama lain. Di hati mereka ada rindu akan orang-orang tercinta. Mereka pergi karena tercampakkan dan karena sebuah cita-cita.[] 

#day1
#ramadhanmenulis
#penajuara
#ramadhanberkisah
#rindu

Jika Ini Ramadhan Terakhir : Banyak Mencurigai Diri Sendiri



Bismillahirahmanirahim...

”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Sudah dari dua bulan lalu kita banyak berdoa untuk bisa sampai pada bulan ramadhan. Sungguh bulan yang penuh dinanti, bulan spesial, bulan penuh rahmat dan bulan kebaikan-kebaikan. Allah SWT memberikan bulan yang penuh maghfirah kepada umat islam. Tapi, apakah kita sebagai umat islam menggunakan sebaik-sebaiknya? Atau hanya sekadar merayakan dengan hal yang sia-sia. Atau hanya menganggap sebagai ritual tahunan semata?. 

Di bulan Ramadhan ini Allah SWT memerintahkan untuk berkewajiban berpuasa seperti yang tertulis pada Al Quran Surah Albaqarah : 183. 

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah, puasa sebagai perintah wajib bagi umat muslim di seluruh dunia. Maka puasa yang aku jalankan akan aku laksanakan layaknya puasa perpisahan. Puasa terakhir kali. Tidak sekedar puasa menahan lapar dan dahaga. Melainkan puasa segala hal-hal yang menyebabkan dosa. 

Di sepuluh malam terakhir ramadhan Allah SWT memberikan hari-hari yang begitu agung. Penuh pengampunan dan ganjaran seribu kali lipat setiap amalan yang kita pebuat. Allah SWT menyiapkan malam lailatul qadar. Malah seribu bulan. Setiap hamba pasti ingin mendapatkan malam lailatul qadar. Tilawah ditingkatkan, sedekah diperbanya, dzikir tidak pernah putus dan sholat malam lebih panjang dari biasanya. 

Tapi usia manusia tidak ada siapa yang tahu. Hari ini masih sehat walafiat, semenit atau sedetik kemudian sudah almarhum. Sungguh misteri tentang hidup dan mati. Hanya Allah SWT yang paling tahu tentang ajal setiap manusia. Jika Izrail memberi tahu bahwa ini Ramadhan terakhirku. Sungguh tidak akan aku sia-siakan setiap detik, menit yang berlalu. Mengerjakan segala ibadah dengan sungguh-sungguh. Dengan niat yang lurus dan penuh keikhlasan. Bahwa waktuku tidak akan lama lagi. Tidak sedikit pun untuk lalai dari hal yang bermanfaat. 

Jika ini Ramadhan terakhirku. Maka aku lebih banyak mencurigai diri sendiri. Apakah hati benar-benar sudah bersih dari rasa iri dan dengki. Apakah ibadah wajib dan sunah dilakukan sepenuh hati? Apakah setiap pekerjaan yang dilakukan sudah dengan niat yang benar. Apakah hubungan dengan sesama manusia sudah baik dan tidak saling menyakiti?. Apakah hubungan dengan Allah SWT sudah begitu mesra dan tidak hanya sekeda ritual?.

Dengan banyak mencurigai diri sendiri maka hal-hal yang tidak bermanfaat sangat mudah dihindari. Tidak sibuk mencari-cari kekurangan orang lain. Setiap perkataan yang terlontar akan tertata dengan perkataan yang baik pula. Tingkah laku penuh sopan santun. Bibir selalu basah dengan kalimah dzikir. Detak jatung diiringi kalimah tasbih. Tidak ingin detik-detik yang berlalu tanpa ada kebaikan di dalamnya.

“Celakalah! Celakalah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosanya masih belum diampuni oleh Allah!” (HR. Ath-Thabarani)

Jika ini Ramadhan terakhirku. Tidak akan aku sia-siakan kesempatan emas yang diberikan kepadaku. Aku tidak ingin menjadi orang yang celaka dan merugi ketika Ramadhan berlalu aku hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Namun amalanku tidak ada yang bertambah. Dosa-dosaku masih menggunung tinggi. Segala yang kulakukan sia-sia tidak berbuah pahala. Sungguh ini rugi yang teramat menyakitkan ketika usia tidak dapat ditambah. MenghadapNya hanya sekedar membawa tumpukan dosa.

Postingan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia

#PostinganTematik #PosTemRamadhan #BloggermuslimahIndonesia










Tidak Pernah Bercita-Cita Jadi Penulis



Malam itu saya diundang dalam sebuah grup penulisan. Undangan tersebut intinya untuk sharing kepada teman-teman yang hobinya sama dengan saya yaitu "nulis." Saat asik berbagi ada yang nyeletuk "kakak cita-citanya jadi penulis ya?." Di depan layar gawai saya terdiam. Memikirkan jawaban yang tepat. Karena saya memang tidak pernah bercita-cita jadi penulis. Tapi, menulis bagi saya adalah hobi, rutinitas, bercita-cita jadi penulis atau tidak tetap harus dilakoni. 

Saya tidak bercita-cita tapi saya hobi. Dari hobi hingga mempunyai 14 buku antologi bersama teman-teman. Beberapa karya dibacakan di stasiun radio RRI Jakarta. Tapi, sampai di sini meminjam istilah Gurunda Salim A Fillah "mencurigakan sekali" atau yang dikenal dengan hastag #mcrgknskl. Diri ini harus banyak mencurigai diri sendiri. Apakah karya-karya itu membuat hati menjadi sombong?. Jika jawabannya iya segerakan luruskan niat. Jangan sampai berlarut-larut. 

Apa yang mau disombongkan?. Di luar sana banyak sekali penulis yang lebih hebat, penulis yang jauh di atas diri ini tapi mereka berkarya dengan bersahaja. Sungguh malu lah jika sifat sombong karena karya yang segelintir tidak lebih dari sekedar debu harus disombongkan. Bahkan Gurunda Salim A Fillah dalam fanspagenya menuliskan tentang Imam An Nawawi yang menuliskan buku Syarh Sahih Muslim yang tebal itu tidak dengan buku rujukan shahih muslim melainkan dengan hafalannya. Masya Allah. 

Sungguh malu lah diri ini. Bahkan apa yang kita tulis itu belum ada apa-apanya dibandingkan oleh para alim ulama yang menuliskan beragam buku. Dengan hapalan yang luarbiasa. Sementara diri ini masih sering sekali mengandalkan daring. Meminta bantuan ustadz google untuk mencari beberapa kata atau pengertian. 

Tidak pernah bercita-cita tapi biarkan menulis menjadi rutinitas. Jangan menganggap karya best seller adalah segala-galanya. Tapi ketahuilah setiap yang best seller tidak melulu nyangkut di hati pembaca. Teruslah menulis tentang kebaikan. Biarkan tinta-tinta itu kering di setiap lembar halaman buku. Membuat orang lain memetik hikmah kebaikan di dalamnya. 

Diri ini tidak pernah bercita-cita menjadi penulis. Tapi, biarlah hobi, kegiatan menulis bagian dari hidup. Seperti halnya para-para alim ulama terdahulu atau pun yang sekarang. Yang selalu mengikat barang buruan (ilmu) mereka dengan tulisan. Jika menulis bukan bagian dari para alim ulama, orang-orang terdahulu maka saat ini, diri ini tidak pernah mengecap, merasakan nikmatnya ilmu-ilmu mereka.

Pujian, sanjungan ketika lahiran karya semoga tidak ada unsur sombong di dalamnya. Karena diri ini jauh dari kata sempurna. Belum ada apa-apanya. Dan sungguh malu kepada mereka yang menulis berjilid-jilid dan diterbitkan secara diam-diam. Bahkan ilmu yang mereka dapat tidak sekedar mengandalkan daring. Tapi, ada tempat yang mereka tuju dengan berjalan kaki berbulan-bulan lamanya untuk sampai kepada Sang tuan guru. Diri ini tidak pernah bercita-cita jadi penulis. Tapi, ijinkan diri ini menjadikan menulis bagian dari kegiatan seharian. 

Hari Buku, Renungan Dan Pertanyaan-Pertanyaan Kurang Ajar


Sumber gambar stocksnap.io


Selamat hari buku.

Buku apa yang sudah kamu baca hari ini?.

Seharian ini ramai dengan dua kalimat itu di grup dan timeline facebook. Sejenak aku bembatin. Oh ini hari buku. Sebenarnya saya tidak lah mengingat hari buku. 

Berbicara hari buku langsung saya teringat. Saya sudah membaca apa hari ini? Bagaimana dengan buku-buku yang saya punya? Sudahkah mereka saya baca semua?. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan. 

Beberapa tahun belakangan ini membeli buku begitu menggebu. Saya selalu saja membeli buku ketika banyak diskon. Seakan orang yang sedang lapar. Tapi, dari sekian banyak buku yang saya punya belum semua yang saya baca. Sungguh ini sebuah perlakuan yang tidak adil. Tapi muncul pembelaan dalam diri. Nanti juga akan saya baca. Lantas timbul pertanyaan lagi "apa iya?." 

Ada terbesit dalam hati akan segera membaca buku-buku itu satu persatu. Toh buku yang kita beli jika tidak dibaca akan meminta pertanggung jawaban di akhirat kelak. Begitu lah katanya. Karena apapun yang kita beli semua akan dipertanggung jawabkan. Sebuah pernyataan monohok. 

Minat Baca

Sebelum jauh melihat minat baca orang lain. Sebuah pertanyaan singgah dengan elegan. Sudah seberap besar minat baca saya? Sudah berapa banyak buku yang saya baca?. Saya terdiam sejenak. Hampir tidak menemukan jawaban. Malah yang datang sebuah pernyataan yang monohok 'jangan-jangan kamu hanya seorang kolektor, memenuhi ruangan atau rumah dengan buku-buku tapi sedikit sekali membacanya.' Sungguh ironis jika begitu. Tapi, rasanya minat baca saya tidak seburuk itu. Setiap hari saya masih melahap abjad demi abjad yang terangkai menjadi sebuah bacaan yang bergizi. Bacaan yang di dalamnya menyajikan ilmu untuk mengisi gagasan-gagasan dan pengetahuan dalam otak. Setidaknya itu sebagai benih-benih untuk meningkatkan lagi ragam bacaan agar tidak itu-itu saja buku yang saya baca.

Sudah Seberapa Cinta Dengan Buku? 

Semakin kesini pertanyaan yang muncul makin kurang ajar saja rasanya. Saya seperti terpojokkan. Susah sekali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Jadi teringat sebuah buku novel atau buku cerita yang terbilang tipis. Buku tersebut bersampul hijau, dan buku-buku yang tertumpuk membentuk manusia yang sedang membaca buku. Buku itu berjudul Rumah Kertas ditulis oleh Carlos Maria Dominguez. Carlos kelahiran Argentina dan tinggal di Monteviedo, Urugay. Dalam bukunya Carlos memceritakan tokoh 'aku ' yang begitu gila terhadap buku, seorang bibliofil yang misterius. Jika penasaran dengan buku ini beli saja buku dengan judul 'rumah kertas." 

Dari buku itu saya berfikir ada orang yang begitu cintanya dengan buku. Sehingga dinding rumahnya pun terbuat dari buku, buku yang tersusun hingga ke bumbung rumah, sekat-sekat rumah ruangan satu dengan lainnya juga dipisahkan dengan buku. Bahkan dalam toilet juga dipenuhi buku. Sambil membuang hajat tangan tidak terlepas dari yang namanya buku. Sungguh luar biasa sekali. 

Mungkin jika kecintaan buku sampai pada tahap itu rasanya saya belum sampai sana. Jika seorang sastrawan atau penulis-penulis yang refrensinya sudah mencapai ribuan buku pasti hanya menilai saya sekedar hobi belum tahap mencintai. Bahkan saya tanpa sadar masih menjahati buku. Dengan melipat ujung buku. Bukankah melipat lembaran buku adalah sebuah kejahatan.

Masih Kah Ingin menulis Buku-Buku? 

Lagi-lagi pertanyaan yang seakan-akan ingin menyentil dan menyindir pribadiku. Kurang ajar sekali pertanyaan ini bukan?. Sungguh saya tercekat cukup lama. Melihat folder laptop yang terang benderang. Di sana ada beberapa file yang isinya naskah-naskah setengah masak atau mentah sama sekali. Saya memandangi naskah-naskah itu. Mencari jawaban yang agar tidak terlalu baper dengan pertanyaan di atas. Tapi, lagi-lagi gagal. Saya belum mampu menjawab. Ingin menulis buku, sementara naskah mangkrak juga tidak terjamah. Bank naskah yang juga sudah lama tidak terisi. Barangkali jika itu sebuah ruang seperti kamar sudah ditumbuhi lumut, sarang laba-laba dan rumah-rumah tikus di sana. Dengan memaksa diri; Saya harus nulis!.

Tidak lama kemudian pertanyaan selanjutnya mendesak. Seakan dua pertanyaan ini sudah lama sekali mengantri. Menunggu giliran untuk masuk dalam pikiran saya. Apakah tulisan di 14 buku antologi yang kamu tulis sudah bermanfaat?. Jleb...!!! Sakit. Sakit sekali. Bagai pedang Kakang Kamandanu menancap di ulu hati. Tapi saya tidak boleh pongah. Benar lah pertanyaan itu. Ia menyadarkan saya, bahwa pernah menulis dan dibaca orang banyak. Apakah itu memberi manfaat kepada pembacanya?. Bisa jadi manusia berat amalannya karena tinta yang ia tuliskan bermanfaat untuk orang lain dan sebaliknya. Saya hanya menjawab 'semoga saja tulisan-tulisan itu memberi hikmah dan manfaat kepada pembacanya.' Hanya itu yang bisa saya katakan untuk menjawab pertanyaan yang mendesak untuk dijawab.

Sungguh di hari buku ini saya banyak merenung atas pertanyaan-pertanyan yang kurang ajar yang tiba-tiba memenuhi isi kepala. Dan di hari buku ini saya hanya membaca sepuluh lembar saja. Selebihnya saya tidur karena rasa ngantuk yang mendera sehabis dinas malam. Sungguh alasan yang diciptakan dengan sempurna.

Selamat hari buku untuk semua. Tetap mencintai buku-buku. Kuatkan semangat membaca agar ruang-ruang kosong dalam otak terisi dengan ilmu-ilmu bermanfaat.  









Glasses


"Happy weekend guys." Sebuah ucapan wajib yang dilontarkan oleh orang-orang yang sedang berada di ruangan itu ketika akhir minggu tiba.

Semua akan bersuka cita di akhir minggu. Mereka akan merayakannya dengan pesta. Pesta di kalangan keluarga dengan jamuan makan malam. Tidak ketinggalan mereka juga akan membuat pesta di bar-bar. Mabuk sepuasnya. Kencan kepada pasangannya. Di kesempatan itu pusat-pusat hiburan diskon harga minuman.

Taman-taman mulai dipasang toilet emergency agar orang-orang yang mabuk tidak kencing sembarang tempat. Tidak ketinggalan tong sampah juga dibanyakin jumlahnya. Agar alat pengaman hubungan intin tidak berserakan di jalanan atau taman-taman.

Tapi bagi dia akhir minggu adalah hal yang biasa saja. Berkencan dan mabuk-mabukkan tidak hanya dilakukan saat weekend. Setiap hari juga bisa. Di bar atau di rumah. Aku selalu menjadi saksi atas sifatnya yang dingin. Sesekali angkuh namun rapuh. Akhir minggu lalu dia tidak ke bar yang biasanya. Masalahnya dia tidak terlalu suka dengan keramaian. Yang baginya hal begitu adalah norak. Dia pergi ke bar yang sedikit jauh dari rumahnya. Daerah perkampungan. Banyak ternak di sana.

Satu, dua, tiga ... lima botol sudah habis ditenggaknya. Kepalanya mulai pusing. Tapi tangannya terus saja menuang minuman. Manuskrip dan beberapa jurnal terus memenuhi ruang pikirannya. Mulutnya berkomat kamit seperti membaca mantra. Tapi sesungguhnya dia sedang menghapal beberapa kata kunci untuk bisa sampai pada jurnal-jurnal yang dia cari. Tugasnya sebagai peneliti begitu dicintainya. Tidak sedetik pun dia meninggalkannya. Bahkan saat tidur pun dia menghapal rumus-rumus untuk manuskrip yang akan ditulisnya.

Jalannya mulai sempoyongan. Matanya yang besar mendadak menyipit menahan sakit kepala. Sesekali dia terjatuh. Pusat keseimbangannya mulai terganggu akibat alkohol yang ditenggaknya tanpa jedah.

"Hei... Kamu sudah mabuk." Seorang wanita sekitar 50 tahunan menegurnya. Meskipun wajahnya terlihat sudah berkedut tetapi bodinya masih aduhai. Rambutnya pirang bergelombang kira-kira sebahu dan tergerai. Parfumnya bisa membuat pingsan para pengunjung. Bahkan tujuh perumahan bisa menghidu baunya.

"Iya, kamu juga," jawabnya. Dengan jalan terhuyung-huyung ke kanan dan ke kiri.

Aku terus saja memperhatikan dua orang yang tengah mabuk karena alkohol. Menjadi saksi atas pesta yang mereka lakukan dalam menyambut akhir minggu. Keduanya seakan sudah akrab. Saling menceracau. Terkadang aku yang mendengarnya tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Barangkali mereka juga sama denganku.

"Kamu mau pulang?" dia bertanya pada wanita itu.

"Iya, aku mau pulang. Tapi tidak ada yang menjemputku. Apa aku boleh ikut ke rumahmu?"

Sesaat hening. Dia berfikir dalam ketidakwarasannya. Lantas tersenyum penuh arti. Aku tetap saja memperhatikan mereka.

"Boleh. Rumahku sepi. Aku hanya tinggal sendiri,"

Keduanya melangkah ke luar bar menuju parkiran. Mereka saling diam dan berjalan sempoyongan. Tapi aku tau dia sedang berfikir. Memikirkan manuskrip dan jurnal-jurnal. Pikirannya selalu bekerja. Tidak pernah berhenti sekalipun dalam keadaan mabuk.

Sepanjang perjalanan mereka berdua saling diam. Wanita yang disampingnya tertidur. Malam semakin pekat. Namun kota itu masih ramai. Kendaraan masih berkejaran di jalan raya yang tidak mengenal kata sunyi.

Taman-taman masih penuh dengan orang-orang habis merayakan pesta. Ada yang memakai kostum batman, spiderman. Ada pula yang memakai kostum tema binatang seperti kelinci, kucing, panda, tikus.
Aku tetap awas di depan matanya. Memperhatikan jalanan. Sesekali hampir saja melanggar lampu isyarat. Kami memasuki kawasan perumahan. Hampir saja dia lupa lorong rumahnya. Akhirnya sampai juga di rumah berpagar setengah batu, bercat merah bata.

"Sudah sampai," dia membangunkan wanita yang tidur di samping kemudi.

Wanita itu berusaha membuka matanya yang berat. Mengucek-ngucek matanya yang sedikit kabur Kepalanya masih pusing.

"Kita sudah sampai mana?" Kesadarannya belum terkumpul penuh.

"Rumahku. Turun lah,"

Dengan rasa malas wanita itu pun turun. Jalannya belum sempurna. Masih sempoyongan. Alkohol yang diminum masih menguasai dirinya.
Dia membuka rumah yang memang tidak terkunci. Rumahnya gelap. Lampu ruang tamu sengaja dipasang redup. Semenjak kematian istrinya dia tidak suka dengan ruangan yang terlalu terang. Dia lebih suka berteman dengan kesunyian. Hingga tiap malam dihabiskan bercengkrama bersama manuskrip kerjaan.

"Naik lah. Kamu tidur di atas. Tapi harap maklum saja jika banyak sarang laba-laba di sana. Kamar itu sudah lama tidak dibersihkan,"

Tanpa jawaban wanita itu naik ke lantai atas. Berjalan sambil pegangan dinding. Terasa abu-abu  yang menebal di anak tangga menempel di kakinya. Tapi wanita itu tidak menghiraukannya. Baginya abu-abu itu tidak sekotor dirinya.

Segera saja dia melabuhkan pantat ke kursi kerjanya. Matanya melihat beberapa manuskrip yang tergeletak untuk segera dijamah. Tangannya menghidupkan layar komputer. Dibiarkan komputer menyala dengan sempurna.

******

Malam hampir berganti pagi. Orang-orang perumahan masih meringkuk di dalam selimut tebal menikmati mimpi indah. Tapi dia sudah bersiap-siap untuk keluar.

Wanita yang diajak bermalam di rumahnya sudah bangun. Duduk di ruang tamu dengan segelas air mineral di tangannya.

"Kamu mau kemana? Kulihat dari tadi kamu begitu serius hingga tidak menyadari aku sudah duduk lama di sini,"

"Aku akan berangkat ke kampus,"

"Bukannya weekend kampus akan libur?"

"Iya. Tapi aku ada kerjaan. Kamu tetap lah di rumahku. Jika ingin makan di lemari es ada makanan ringan dan roti. Jika mau masak, masak lah bahan-bahan yang ada di lemari es. Rasanya masih cukup untuk kamu makan,"

Dia melangkah ke luar. Dengan manuskrip di tangannya dan membawa laptop kesayangannya.

"Aku akan kembali ketika matahari sudah melipat wajahnya dan hari mulai berganti malam. Buat lah yang kamu suka dengan rumahku. Asal jangan masuk ke kamarku. Di sana banyak tikus-tikus pemakan kertas,"

Kamar dia memang bagai gudang yang berisi kertas dan buku-buku tebal. Berserak di sana sini. Tikus-tikus suka sekali membuat rumah di kamar itu.

Sepanjang siang dia membaca manuskrip tentang sebuah penilitian yang sedang dikerjakannya. Berbagai refrensi jurnal dilahap. Diskusi-diskusi melalui email juga dilakukan. Dan beberapa temu janji kepada pakar-pakar yang akan menjadi narasumber dia layangkan.

Hari merangkak sore. Pikirannya lelah. Dia butuh kesegaran. Berkas-berkas dia rapikan. Membawa beberapa berkas yang dianggapnya penting dan harus segera dikerjakan. Kakinya gontai melangkah ke parkiran. Mobil di parkirkan di ujung.

Dia memandu mobilnya ke arah taman. Taman kota yang sering dia kunjungi bersama istrinya saat sore tiba. Kenangan masa lalu masih segar di ingatannya. Aku masih setia di hadapan matanya. Jika tidak ada bantuanku mungkin dia sudah meraba-raba. Pandangannya kabur dan tidak akan pernah bercengkrama dengan manuskrip yang telah membunuh istrinya.







Ikhwan - Ikhwan Berko(n)de

By Google 


Hampir seminggu belakangan ini lagi ramai-ramainya tentang puisi Bu Sukmawati yang isinya membuat nyeri hati umat muslim. Tapi, tulisan ini tidak akan membahas ibu Indonesia ada sari konde yang dimaksud dalam puisi Bu Suk. 

Dalam ruang-ruang komunikasi sekarang semakin mudah. Beragam grup dalam aplikasi whatsapp dibentuk dengan tujuan untuk mempermudah komunikasi satu sama lain. Ada yang isinya ikhwan-ikhwan saja, ada pula yang isinya akhwat-akhwat, ada pula yang isinya ikhwan-akhwat. Tidak sampai di situ facebook juga memberi ruang berintraksi yang lebih bebas. 

Terkadang candaan-candaan begitu serunya. Bahkan hampir lupa di dalamnya bukan sekedar kumpulan ikhwan saja tetapi ada akhwat di sana. Sesekali terdengar pula candaan tentang pernikahan. Sentilan bahkan kode-kodean. Seperti halnya candaan "mapan dulu baru nikah" atau kata-kata "Ya Allah,  pengen bidadari dunia yang dirindui surga" toh bagi yang sudah dewasa paham ilmu agama dan sudah sering ke seminar pra-nikah. Kode semacam itu harus lebih diminimalisir.

 Jika sudah siap nikah datangi saja orang tua sang akhwat. Bukan sekedar mengkode. Jika nantinya ada penolakan itu bagian dari suatu kewajaran. Dan jika diterima adalah hal kebaikan yang disambut dengan kebaikan yang sama. Jika nikah menunggu mapan itu susah. Toh menunggu mapan ibaratnya walikota mapan saja umur 50 an tahun. Masak sih umur 50 an baru mau nikah. 

Sebenarnya ini bukan sekedar untuk para ikhwan (aktivis dakwah) tapi untuk para ikhwan-ikhwan yang tidak ikut dalam barisan aktivis dakwah juga. Ya Akhi...jika sudah siap nikah segerakan saja. Jangan banyak pasang ko(n)de-ko(n)de. Karena ngga semua akhwat bisa baca ko(n)de. 


NB : Self remainder 

Dari Kopdar Hingga Jadi Guru Ngaji Dadakan



Awal bulan maret kemarin saya pulang beberapa hari ke Indonesia tepatnya kampung halaman saya di kota Tebing Tinggi. Kepulangan saya karena rindu orang tua dan ada beberapa hal yang harus diurus. 

Setiap pulang ke Indonesia pasti saya menyempatkan berkunjung atau silaturahmi dengan beberapa teman yang masih tinggal di Tebing Tinggi. Tapi, kepulangan saya kemarin disempatkan untuk kopdar sekaligus silaturahmi dengan teman-teman nulis one day one post (ODOP) yang ada di kota Medan. 

Seminggu sebelum kepulangan. Saya menghitung-hitung beberapa agenda yang harus diselesaikan. Menghitung dan mempertimbangkan waktu yang pas untuk kopdar dengan Edak Karin dan Kak Shree, temen nulis saya di ODOP. Akhirnya kopdar kami pilih senin, 12 maret. 



Senin pagi setelah sarapan dan menyiapkan berkas sepupu yang akan saya bawa ke kampus Universitas negeri Medan (UNIMED) saya pun bergegas menunggu angkutan di depan rumah. Kebetulan rumah saya berada di lintas Sumatra jadi tidak susah untuk mendapatkan bus menuju kota Medan.

Setelah mendapat bus saya kirim WhatsApp ke edak Karin dan kak Shree. Sekitar 2 jam lagi saya akan sampai di Istana Maimun tempat yang kami sepakati untuk bepertemuan perdana ini. Qodarullah ternyata sepupu meminta saya untuk langsung ke kampusnya. Untung saja bus yang saya tumpangi berhenti langsung di depan kampus UNIMED jadi tidak perlu nyambung-nyambung angkutan lagi.

Kota Medan tidak banyak berubah, hanya saja banyak bangunan baru. Jalan tol dan jalan layang yang membantu mengurangi sedikit kemacetan kota Medan. Becak dan angkutan kota tetap saja masih semraut. Berkejar-kejaran berebut penumpang. 

Sampai di UNIMED adik sepupu sudah menunggu di minimarket simpang 4 kampus UNIMED. Saya langsung turun di sana. Untung saja saya masih ingat wilayah kampus UNIMED. Setelah sampai dan berjumpa sepupu yang hampir sudah 3 tahun tidak bertemu kami pun kangen-kangenan sebentar dan setelah itu saya beranjak untuk pergi ke istana maimun. 

Edak Karin sudah bolak balik menghantarkan pesan via WhatsApp menanyakan posisi saya lagi di mana. Dia sedikit kesal karena saya sudah molor satu jam dari waktu yang dijanjikan. Tanpa banyak pikir saya pun memesan grab car agar cepat sampai tujuan. Tidak menunggu lama, grab car yang saya pesan pun tiba. Dari UNIMED ke Istana Maimun jika ikut jalan utama bisa memakan waktu 30 menit. 

"Kalau dari sini ke ismun berapa menit ya, Pak?" Saya membuka pembicaraan kepada supir grab

"Sekitar setengah jam, Dek," jawab supir grab car.

"Bisa lebih cepat ngga, Pak? Teman saya sudah nunggu lama di sana. Takut dia keburu pulang," saya sedikit mengiba. 

Pak supir mengira-ngira jalanan yang tidak macet. Karena waktu itu pas jam makan siang. Sudah tentu jalanan kota Medan padat merayap. 

"Ngga apa-apa ini dek saya cari jalan pintas saja. Karena saya takut dikomplen ugal-ugalan sebagai supir," jawabnya 

"Ngga apa, Pak. Saya memang mau sedikit cepat," 

"Baik lah kalau begitu," 

Pak supir melewati jalan pintas dari q sempit. Akhirnya tidak sampai setengah jam kami pun sampai di Istana Maimun. Istana Maimun tidak banyak berubah. Masih sama seperti dulu. Saya pun menyusuri pintu istana menuju Edak Karin dan Kak Shree yang sudah sampai duluan. 

"Aku sudah sampai, Dak," 

"Eda masuk saja, kami warung dekat istana," 

Akhirnya kami pun bertemu. Ini pertemuan perdana. Tapi rasanya kami sudah berkali-kali ketemu. Ngobrol apa saja sambil menikmati minuman masing-masing. Setelah puas melepas dahaga kami masuk ke dalam bangunan Istana Maimun. Hari itu tidak ramai pengunjung tapi tidak terlalu sepi juga. Kami berkeliling dalam istana. Penjual souvenir di dalam Istana menawarkan penyewaan baju adat. Tapi, kami bertiga belum ada keinginan menyewanya.

Seteleh puas berkeliling waktu zuhur sudah semakin hampir. Kami pun bergegas menuju mesjid raya Al Mahsun yang menjadi ikon kebanggaan kota Medan. Setelah sholat kami menjamu selera. Siang itu kami menjamu selera di area jalan H.M Jhoni.  Satu restoran dengan nama pasar merah. Dengan menu nusantara yang enak rasanya. 

Sambil makan, berbagai cerita mengalir begitu saja. Dari kepenulisan sampai soal bisnis. Seporsi nasi goreng nanas sekelip mata bersi dari tempat sajinya. Karena siang itu saya memang laper berat. Jadi begitu pesanan terhidang melahapnya dengan segera.  

Hari beranjak sore. Kami pun kembali ke area mesjid raya lagi karena edak Karhin harus mengambil motornya di parkiran Mall Yuki simpang raya. Setelah sampai di Yuki kami mencuci di pusat perbelanjaan itu. Lelah berkeliling kami pun pulang. Berpamitan dengan Kak Shree dan saya ikut edak Karhin ke rumahnya. Hitung-hitung sudah di Medan menyempatkan diri singgah sebentar. 

Sampai di rumah edak Karhin istirahat sebentar. Tidak lama kemudian segerombolan anak usia TK sampai dengan SD kelas 5 berbondong-bondong ke rumahnya. Ternyata mereka murid-murid ngaji Edak Karhin.  Mereka lucu-lucu, bising khas anak-anak. Suka mengganggu temannya. Akhirnya saya pun ikut mengajar ngaji anak-anak yang membaca iqro. 

Kopdar pertama jadi kenangan dan jadi pengalaman menjadi guru ngaji dadakan. Tapi seneng banget.  😂

Pemenang Blog Tour Dan Give Away Buku Nostalgia Biru



Assalamualaikum. Selamat pagi semua. Blog tour dan give away buku nostalgia biru resmi saya tutup tanggal 17 februari 2018 jam 23.59 WIB. Terimakasi saya ucapkan bagi yang sudah berpartisipasi dalam blog tour dan give away di blog saya ini. Setelah melihat dan membaca satu persatu sesuai syarat yang ditentukan pemenang blog tour dan give away jatuh kepada :



Nama: Rina Adriana
Email:Adriana2008rina35@gmail.com
Fb: Adriana (Nafaza)
Ig: Adriana

Kepada pemenang untuk mengirim biodata dan nomer telephone melalui email dewimariyana@gmail.com dengan subjek "Pemenang blog tour dan give away nostalgia biru."

Jika buku sudah diterima nanti bisa dikonfirmasi melalui facebook dan instagram dan tag akun Dewie Dean, penerbit embrio dan one day one post. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih.

Bagi yang belum beruntung masih ada satu kesempatan lagi blog tour dan di give away di blog www.nodiwa.com periode 18 - 23 February 2018.

Terimakasih saya ucapkan kepada komunitas one day one post dan penerbit embrio sudah memberi kesempatan blog tour dan give away di blog saya.





Bagian 5 : Halaman Terakhir



Sudah seminggu aku di Kota Gudeg. Banyak kisah perjalanan yang aku temui tanpa rencana. Banyak cerita baru yang aku dapatkan. Terimakasih kota penuh cerita dan warna warni kehidupan.

Tuhan memang selalu berbaik hati. Tidak perlu takut kamana pun berjalan sendiri. Karena setiap perjalanan akan menemukan orang-orang yang baik. Tidak perlu takut selagi setiap langkah diniatkan untuk kebaikan.

Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Aku segera bergegas keluar dari tempat penginapan sebelum jam 12 tengah hari. Segala perlengkapan yang harus aku bawa pulang sudah aku susun malam tadi. Tas backpack yang berisi beberapa pasang baju, buku dan sedikit oleh-oleh.

"Assalamualaikum. Hari ini jadi pulang?" Sebuah pesan mendarat cantik di layar handphoneku.

"Waalaykumsalam. Jadi dong," balasku singkat. Karena aku masih membereskan sedikit lagi barang bawaan.

"Jam berapa? Aku mau mengantarmu ke bandara,"

"Jam 3 terbang. Jam 1 siang aku  sudah harus sampai bandara,"

"Baiklah. Terminal berapa?"

"Terminal 2 Bandara Adi Sucipto," jelasku

"Iya aku tau kalau di Bandara Adi Sucipto," dia memasang emoticon tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata.

Setelah semuanya siap. Aku check out dari tempat penginapan yang aku tinggali selama seminggu di kota gudeg yang penuh kenangan ini. Dari tempat penginapan aku menyusuri jalan menuju Malioboro. Entah sudah berapa kali aku singgahi jalanan Malioboro ini. Jalanan yang tidak pernah sepi pengunjung dari warga lokal, wisatawan lokal hingga mas dan mba bule dengan membawa tas gede menjulang hingga melewati kepala.

Di Malioboro ini tidak ada yang ingin aku cari selain menambah jejak kenangan dan mengutip kenangan yang telah aku ciptakan sebelumnya. Kegiatan di sepanjang jalanan Malioboro tidak pernah sepi barang sedetik pun. Aku memasuki Pasar Bringharjo. Pasar tempat membeli oleh-oleh. Tempat membeli batik dan banyak lagi. Setelah puas berkeliling aku singgah di sebuah kedai es cendol yang ada di dalam pasar. Mendengar celoteh para pedagang yang tak jauh-jauh membahas tentang pembeli yang sedikit sepi.

Setelah semangkuk es cendol aku nikmati. Aku pun melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan pedestrian yang ramai manusia dengan berbagai kesibukan.  Bau keringat dan matahari bercampur baur di sana. Pedagang pecal, gudeg di pinggir jalan menjajakan dagangannya,  pedagang kue pun tak mau ketinggalan. Beberapa pedagang mainan pun berhilir mudik.

Sungguh pemandangan ini tidak akan aku temui saat aku kembali ke Medan. Merekam segala kota gudeg ini bagian yang terindah. Kelak akan menjadi kenangan yang mumunculkan kerinduan.

Jam ditangan menunjukkan jam 11.40 siang. Aku bergegas menuju halte trans Jogja dengan tujuan Bandara Adi Sucipto. Hampir satu jam perjalanan dengan rute mutar-mutar akhirnya sampai juga di bandara. Aku lantas berjalanan menuju terminal 2 yang agak terpisah dari terminal1. Dari terminal 1 menuju terminal 2 lumayan jauh jaraknya, sekitar 10 menit jalan kaki. Kakiku masih kuat kalau untuk diajak berjalan.

Tepat 13:05 aku sampai termina 2. Terminal 2 areanya lebih kecil dari terminal 1. Aku langsung saja menuju pintu masuk untuk check in. Terlihat dari jarak sedikit jauh dari tempat aku berdiri, laki-laki gondrong, kurus, tinggi berkacamata tebal dan tas kain yang tak pernah ketinggalan sudah duduk bangku di dekat pintu masuk. Senyumannya masih khas seperti pertama kali kami berjumpa di toko buku bekas. Dari kejauhan ia melambaikan tangan. Dan aku menghampirinya.

"Hai... Sudah sampai aja di sini," ucapku saat berada di hadapannya. Aku lantas menurunkan backpack dari punggungku dan duduk di kursi yang ia duduki.

"Iya dong. Aku selalu datang lebih awal setengah jam dari waktu kedatanganmu," jawabnya sambil mengelap kacamata tebalnya dengan kemeja yang dipakainya.

"Kamu nangis?" Aku mencandainya.

"Ngga, ini kacamata agak burem," ucapnya. Kami berdua tertawa.

Aku akui dia selalu datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Katanya itu kebiasaan yang ia tumbuhkan dari sekolah dulu. Agar budaya lambat tidak ada pada dirinya. Jika pun lambat pasti ada alasan syari yang tidak dapat dielakkan.

"Kamu mau boarding sekarang?" Tanyanya padaku.

"Aku mau makan dulu. Perut uda kukuruyuk ni," jawabku. Perutku saat itu memang benar-benar lapar. Kadang sampai bunyi kemerucuk. Untung saja ia tidak dengar jadi tidak malu-maluin.

Kami memilih tempat makan di area bandara. Makanan cepat saji. Padahal ia yang aku tau tidak suka makan di tempat yang begini. Apalagi seorang vegetarian.

Aku memesan seporsi nasi dan ayam goreng serta tempe tidak lupa sambalnya. Ia memesan kentang goreng dan segelas jus bumi alias air putih. Ketika pesananku datang laki-laki gondrong berkacamata tebal mengeluarkan bungkusan dari tas keramat yang ia bawa.

"Itu apa?" Tanyaku sedikit mengusik.

"Bekal," jawabnya singkat sambil mengeluarkan bungkusan dari pelastiknya.

Aku memperhatikan gerak geriknya. Dengan santai dan tidak perduli dengan orang di sekelilingnya ia membuka bekal yang dibawanya. Pecal, tahu dan mendoan terlihat dari bungkusan yang dibuka.

"Masak sendiri?" Tanyaku mau tau.

"Touchscreen. Tinggal nunjuk di warung langsung keluar menu yang diinginkan," jawabnya melucu. Aku tidak tahan menahan leluconnya. Kami tertawa.

Seporsi nasi, ayam goreng dan tempe goreng pesananku datang. Tidak lama kemudian kentang goreng pesanannya pun datang. Ia memimpin doa makan. Aku nengadahkan tangan tanda berdoa.
"Boleh aku minta pecalnya?" Dengan wajah tidak tau malu aku meminta bekal yang dibawanya. Jujur pecal sayur dengan bungkus daun pisang menggugah semangat makanku.

"Boleh banget," ia menyendokkan sayur pecal ke piringku.

Kami akhirnya khusuk menikmati makanan masing-masing. Tidak terasa hampir satu jam berlalu. Aku harus segera cek in agar tidak tertinggal pesawat. Setelah membayar semuanya aku pamit untuk cek in.

"Terimakasih ya untuk seminggu pertemuan ini," ucapnya padaku. Tangannya menggenggam sebuah bungkusan berwarna coklat.

"Harusnya aku yang terimakasih kepadamu. Kalau begitu kembali kasih deh," jawabku sedikit buru-buru untuk segera masuk.

"Ini ada oleh-oleh untuk kamu. Bisa kamu baca-baca di atas pesawat. Ini buku terbaruku yang akan segera launching. Ini cuma dummy, bukunya belum selesai cetak ngga apaa kan?" Tangannya menyodorkan bungkusan coklat itu kepadaku.

"Wah terimakasih ya. Sudah ditandatangani belum?" Aku terlalu gembira. Karena aku memang penyuka tulisan-tulisannya.

"Perlu tanda tangan juga?" Tanyanya meledek.

"Perlu lah buat kepentingan pamer," seruku tak mau kalah.

"Sudah ada tanda tangan dan tanda baca di dalamnya," ia mengulas senyuman yang tak biasa.

"Oke terimakasih untuk perjalanan ini. Insya Allah ketemu dengan keadaan yang lebih baik lagi," aku berpamitan padanya lantas masuk menuju ruang antrian cek in. Ia melambaikan tangan tanda berpisah. Namun tubuhnya tetap tegak di sana sampai aku menghilang dalam ruangan.

Untung saja antrian tidak begitu panjang. Aku segera masuk ke ruang tunggu. Waktu penerbangan masih setengah jam lagi. Setengah jam waktu yang lama jika menggu. Akhirnya aku buka buku yang baru dikasih lelaki gondrong tadi.

"Halaman pertama tertulis terimakasih Tuhan atas pertemuan ini di kota yang diciptakan saat Tuhan sedang jatuh cinta. Tertanda Lensa Tua (LT).

Halaman ke dua ia menuliskan semoga kamu suka dengan tulisan ini.

Halaman ketiga tertulis "baca sampai akhir. Ada tulisan yang sengaja aku tulis untukmu."

Dengan rasa penasaran aku langsung membaca halaman terakhir.  Buku yang masih berupa dummy di halaman terakhirnya ada beberapa kertas yang masih kosong. Di sana tertulis sebuah tulisan dengan menggunakan pena biasa.

"Terimakasih sudah sengaja menemuiku. Meskipun sebelumnya kita tidak pernah mengenal. Terimakasih atas seminggu ini. Terimakasih atas perjalanan yang kita lalui bersama tanpa sengaja. 


Maaf terlalu lancang aku menuliskan ini untukmu. Aku hanya ingin mengungkapkan rasa gembira dan perasaan yang tidak biasa ketika bersisian denganmu. 



Rasa ini tidak pernah ada sejak sepuluh tahun lalu. Terakhir aku merasakan perasaan yang seperti ini waktu usiaku masih bau kencur alias masih kecil. Kalau tidak salah ingat saat aku masih SMP. Saat masih suka bergelantungan di angkutan umum menjadi kernet. Saat masih suka menggoda penumpang wanita. Hingga akhirnya timbul perasaan yang berbeda. Aku tidak mau mengartikan ini cinta. Rasanya terlalu terburu-buru. Tapi perasaan ini membuatku nyaman ketika bersisian denganmu. Semoga setelah ini kamu tidak menghindariku. Kamu tidak perlu membalas pesan ini. Karena aku hanya ingin mengabarimu tentang sebuah perasaan yang kamu ciptakan terhadap laki-laki yang ngaku-ngaku seniman. Ternyata hanya seniman berhati mellow. Semoga ada lembaran-lembaran selanjutnya untuk menuangkan kisah kita di sana."



Lensa Tua