Pada Garis Cakrawala Memanggil Cinta

Dokpri

Suhu mencapai 30°C. Matahari begitu terang meskipun hampir mendekati kaki cakrawala. Semakin petang pengunjung pantai kian ramai. Muda-mudi, orangtua dan kanak-kanak. Tampak sepasang, dua pasang muda mudi memadu kasih. Ntah sudah berstatus suami istri atau hanya sekedar dalam jalinan kasih anak masa kini.

Aku memandang ke pantai lepas. Airnya pasang, namun anak-anak berlari riang, mandi tanpa busana di badannya. Ada pula yang berlompat tanpa papan lompatan, menirukan perenang internasional dalam ajang perlombaan paling bergengsi. Di sebalah kiri, Aku melihat sekerumunan orang. Bermain pasir. Di sebagain yang lain orang-orang sibuk berswafoto di spot yang disediakan untuk menarik pengunjung.

Kulihat lagi lautan yang airnya coklat susu. Tampak satu dua kapal nelayan hilir mudik di sana. Suara mesinnya bak klotok membelah dinding rawa Kalimantan. Beberapa tiang terpancang di kapal nelayan. Seperti tiang bendera. Bukan kain merah putih terpasang di ujunya. Tetapi diletakkan kain berwarna warni. Berkibar lah kain-kain itu dihembus angin pantai. Bapak tua dan anaknya yang bertelanjang dada. Di atas kapal nelayan yang sangat sederhana. Menebar doa, menjaring pinta.

Sang saga makin merona. Para pengunjung semakin menikmatinya. Kata mereka "menunggu senja." Ombak semakin menggulung ke bibir pantai. Senja yang mereka tunggu hampir tiba. Para nelayan pun kembali ke peraduannya ketika laungan azan memanggil-manggil para hambaNya, untuk pulang bersujud kepada pemilik cinta.

Bagiku Blog Adalah Panggung

Gambar by smarterware.org

Aku mengenal dunia blog sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu. Pastinya Aku hampir lupa. Sebelum menghuni blog ini aku sudah mempunyai blog di platform WordPress, tapi saat itu lupa password dan akhirnya harus mengikhlaskannya untuk terlepas dariku.  

Ngeblog ternyata bukan sekadar untuk menulis dan bagikan. Ternyata dari blog aku telah mengabarkan kepada dunia siapa diriku dan blog memberi panggung untuk aku berkarya. 

Lewat blog sudah banyak yang aku dapat. Dari pengalaman, ilmu, serta materi. Paling penting dari tulisan-tulisanku tidak sedikit yang mendapatkan hal yang bermanfaat. Itu sungguh membuatku bahagia.


"Bukankah orang yang paling bahagia ketika ia bisa menjadi atau bermanfaat untuk orang lain?."

Dari ngeblog mendapat berkah. Aku pernah diminta mereview sebuah produk telekomunikasi dengan bayaran yang cukup lumayan tentunya. Padahal aku tidak pernah berfikir untuk mendapatkan atau mencari uang dari blog. Tapi, Allah sudah mengatur sedemikian rupa. Dari hobi tercipta rupiah.  Bertemu orang-orang baru yang seringkali membuatku terkejut. Bahwa dunia blog itu adalah tidak sekedar lahan nulis dan bagikan, tetapi bagian dari lahan professional. 

"Bagiku blog adalah panggung. Di panggung itu aku bisa menciptakan apa saja, menceritakan apa saja bahkan aku berlakon seperti siapa saja sesuka hatiku. Ruang berekspresi. Menuangkan segala uneg-uneg. Menuangkan isu-isu dan info-info terkini di dalamnya."

Saat ini para blogger tidak dapat dipandang penulis recehan. Karena kekuatan para blogger sekarang sudah diperhitungkan. Misal saja dalam peluncuran produk, program acara dan lainnya. Banyak yang memanfaatkan kekuatan blogger. Sehingga informasinya bisa berkembang luas dan viral.

Karya Hamka yang Melampaui Berbagai Negeri, Waktu Dan Generasi

Docpri


Sepagi ini, sehabis sarapan bersama keluarga. Seperti biasanya, kebiasaan saya melihat perpustkaan mini yang ada di ruang tamu. Memilih dan memilah buku yang mana mau dibaca. Di ruang pertama rak buku akhirnya saya memilih buku karya Prof. Dr. Hamka atau lebih dikenal dengan nama Buya Hamka. 

Buku berjudul "Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan" menjadi pilihan untuk dibaca pagi ini. Sebenarnya saya sudah pernah membaca buku ini. Namun belum sampai tuntas. Buku tipis ini hanya memuat 134 halaman. Tipis halamannya saja, namun ilmu yang terkandung di dalamnya tidak lah setipis bukunya. Ilmunya begitu luas.

Membahas seorang perempuan dari berbagai aspek. Tentang bagaimana Islam memuliakan seorang wanita. Tentunya dibuktikan kuat dengan Alquran dan hadits serta dalil-dalil kuat.  Ada pula cerita zaman Rasulullah, para sahabat dan orang-orang shalih di dalamnya. 

***

Jika bercerita seorang Buya Hamka, pastinya siapa pun tidak asing lagi. Namanya sudah terkenal dipenjuru negeri. Dan karyanya juga sudah begitu banyak memenuhi ruangan pikiran masyarakat. Hal itu tidak sekedar di dalam negeri saja. Di luar negeri juga. Seperti negara tetangga kita, Malaysia. 

Bekerja sepuluh tahun di Malaysia tidak sekedar membawa saya pada dunia kerja. Melainkan mengenal dunia literasi lebih jauh.  Hingga akhirnya berbagai kegiatan dan komunitas literasi saya ikuti. 

Salah satu event literasi terbesar di Malaysia yaitu "Pesta Buku Antara Bangsa" atau seeing disebut dengan "Kuala Lumpur International Book Fair (KLIBF)." Di sini penggiat literasi,  bibliofil dari berbagai negara tumplek jadi satu. Bahkan saya pernah ikut dalam acara "Perhimpunan 1000 penulis." Acara ini merupakan bagian dari KLIBF itu sendiri. 

Saat itu didatangkan sastrawan/sastrawati dari 4 negara.  Yaitu dari negara Indonesia yang menghadirkan Aan Mansyur dan Trinity, dari Singapore, Thailand dan Malaysia.  Sungguh cerita perbukuan, penulisan, hidupnya kembali dunia puisi dikalangan anak muda khususnya Indonesia semua dibahas di sana. Audiens yang hadir juga dari berbagai negara. Paling banyak jelas dari tuan rumah, Malaysia.

Di sana cerita karya-karya Hamka sampai ke telinga saya. Dari sana pula karya Hamka lebih banyak saya jumpai. Dari seorang jurnalis Malaysia dan pengamat sastra senior. Saya sedikit tahu cerita karya Hamka yang begitu menjadi primadona di Malaysia. Sekitar tahun 60an kalau saya tidak salah ingat karya-karya Hamka adalah bacaan wajib di sekolah-sekolah kebangsaan Malaysia.

Bahkan dari komunitas literasi di Malaysia yang pernah saya ikuti.  Ada seorang warga negara Malaysia yang tergabung dalam komunitas tersebut.  Beliau juga pernah bercerita saat sekolah dulu, sekitar tahun 60 atau 70an karya Buya Hamka yang berjudul "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck", karya yang sudah pernah diangkat ke layar lebar.  Saat itu menjadi buku bacaan dan buku yang wajib diulas dalam pelajaran sastra di sekolah mereka.

Bagaimana kita yang di Indonesia? Apakah karya-karya sebagus Buya Hamka sudah menjadi bacaan wajib di sekolah?. Karena saat zaman saya sekolah dulu saya tidak pernah tau atau dengar dengan nama beliau apa lagi karyanya.  Dan mulai tau tulisan beliau ketika berada di Malaysia. Sekitar 2 tahun setelah saya tamat sekolah.

Hingga hari ini nama Hamka masih begitu menjulang tinggi di negara tetangga kita.  Bahkan anak-anak muda di Malaysia tidak asing lagi dengan karya Hamka. Bahkan 2017 lalu, di Malaysia tepatnya di Sungai Panjang, Sungai Besar, Negeri bagian Selangor, didirikan Rumah Pustaka Buya Hamka. Karena begitu dekatlah masyarakat Malaysia dengan karya-karya Buya Hamka. Sehingga didirikan rumah pustaka dengan nama rumah pustaka Buya Hamka.

Tidak sekedar di Malaysia. Bahkan nama Buya Hamka juga dikenal di berbagai negara seperti Brunai Darussalam, Singapore, Thailand dan beberapa negara lainnya. Sungguh sebuah karya yang tidak pernah mati dimakan zaman. Tidak pernah tertinggal dan tenggelam ditelan waktu. Selalu hidup di setiap generasi. Dan karya yang luarbiasa hingga melampaui beberbagai negeri selainnya negerinya sendiri. 

Kita Semua dalah Guru, Kita Semua Adalah Murid

Pelatihan Satu Guru Satu Buku
(SAGUSAKU )


Sekitar dua minggu sebelum hari guru, Pak Darma seorang guru di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) mengajakku untuk berbagi cerita seputar kepenulisan acara Satu Guru Satu Buku (SAGUSAKU). Seketika berfikir apa yang bisa saya bagikan kepada ibu dan bapak Guru peserta nantinya?. Tetapi, Pak Darma meyakinkan, saya pasti bisa membagikan pengalaman-pengalaman menulis. Lantas saya berfikir. Iya juga, Pak Darma saja yakin, masak saya tidak.  

Dua minggu berlalu. Sampai pada acara. Nama dan photo saya terpampang di spanduk acara SAGUSAKU. Tepat tanggal 24 November, sehari sebelum hari guru. Acara SAGUSAKU Se Kabupaten Serdang Bedagai dibuka. Saya, Pak Darma dan Pak Herman meluncur ke tempat acara. Benar-benar hati mulai tidak tenang. Rasanya seperti akan dieksekusi. Karena bagi saya ini adalah pengalamn pertama kali akan bercerita seputar kepenulisan di hadapan para guru. 

****

Saat memasuki area sekolah SMA Negeri 1 Sei Rampah. Hati mulai tidak tenang. Keringat dingin mulai keluar. Wajar saja ini akan jadi pengalaman pertama. Anak-anak SMA Negeri 1 Sei Rampah menyambut kami di depan gerbang sekolah dan kebetulan di hari yang sama di sana mengadakan maulid. Saat memasuki gerbang sekolah terlihat spanduk kegiatan SAGUSAKU terpampang lebar.  Ada foto saya dan Pak Darma di sana.  

Kami memarkirkan mobil di lapangan sekolah. Setelah itu kami disambut oleh Panitia dan Bapak ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI)  wilayah Sumatra Utara.  Saat memasuki ruangan acara sudah hadir beberapa peserta. Saya, Pak Darma dan Pak Herman dipersilakan naik ke podium. Di atas podium sudah disusun meja dan kursi untuk narasumber. 

Menunggu peserta yang lain hadir kami sedikit berbincang-bincang kepada peserta yang sudah hadir. Ternyata pesertanya tidak saja dari Kabupaten Serdang Bedagai saja. Ada dari Medan, Tebing Tinggi, Batu Bara, Tanjung Balai, dan paling jauh dari Nias Utara. Luar biasa sekali semangat bapak dan ibu guru yang hadir saat itu.  

Setelah hampir seluruh peserta sudah hadir.  Acara dimulai dan dibuka oleh pembawa acara Pak Nawawi dan dilanjutkan kata sambutan oleh ketua SAGUSKU dan ketua IGI. Saat kata sambutan selesai hati saya mulai ngga karuan lagi. Kaki sedikit gemetaran, keringat dingin mulai keluar lagi. Tapi masih batas kewajaran. 

Materi pertama disampaikan oleh Pak Herman sebagai penggiat Gerakan Literasi Sekolah (GELIS) di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Kegiatan literasi sekolah di SIKlL cukup bagus. Bahkan dalam beberpapa bulan anak SD kelas 3 sudah dapat membuat buku. 

Saat materi ke-2 saya yang menyampaikan.  Tentang bagaimana mudahnya menulis. Dengan slide power point yang sederhana saya paparkan sedikit kenapa kita harus menulis, bagaimana mudahnya menulis dan beberapa poin lainnya. Sambil memberi materi saya perhatikan ibu, bapak guru peserta SAGUSAKU begitu antusias. Padahal saya yakin dan percaya bapak dan ibu guru semuanya sudah paham ilmu tentang menulis. Dan yang luarbiasanya bapak dan ibu guru yang biasa berbicara menjadi pendengar dan sebaliknya.  

Dan pembicara ke-3 dibawakan oleh Pak Darma. Pak Darma menjelaskan teknik penulisan dengan lebih jelas. Semakin antusias peserta mengikutinya. Dan pengenalan bagaimana cara penerbitan buku yang memiliki ISBN. Dan di akhir sesi bapak, ibu peserta diberi tugas menulis. Dan dikoreksi di hari ke dua acara SAGUSAKU.  

Kegiatan dari pagi hingga ke peteng di hari pertama dan ke dua dalam acara SAGUSAKU sangat luarbiasa sekali. Luarbiasa semangatnya untuk hadir dan luarbiasa semangatnya untuk membuat buku.  Jadi, target dari kegiatan SAGUSAKU adalah bapak dan ibu guru harus menerbitkan karya berupa buku. Baik itu buku antologi dan buku solo.  

Biasa guru kebanyakannya lebih terbiasa berbicara di depan kelas dari pada menuliskannya di buku. Tetapi budaya lisan itu akan kita aplikasikan juga dalam bentuk tulisan.  Sehingga nantinya banyak karya-karya yang luarbiasa terlahir dari para ibu dan bapak guru.  

Dirgahayu buat para Guru seluruh Indonesia. 



Dinas Perpustakaan Dan Arsip Provinsi Sumatra Utara : Menggelar Kegiatan Literasi Informasi Bagi Masyarakat Sumatra Utara Perzona 2018



Kali ini Dinas Perpustakaan Dan Arsip Provinsi Sumatra Utara Dan Dinas Perpustakaan Arsip Kota Tebing Tinggi (18/1) mengadakan kegiatan literasi informasi bagi masyarakat SUMUT per zona 2018 yang diadakan di Bayu Lagoon Resto dan Taman Rekreasi.  Acara di mulai dari jam 09.00 WIB hingga selesai.  

Acara dimulai sedikit terlambat dari waktu yang dijadwalkan, karena peserta undangan belum banyak yang datang. Hal ini kemungkinan terjadi karena pemindahan lokasi acara. Sebelumnya sesuai yang tertulis di undangan acara akan digelar di Pondok Bagelen, akhirnya panitia acara menukar tempat di Bayu Lagoon.  Sambil menunggu Bapak kepala dinas perpustakan dan arsip SUMUT serta jajarannya hadir di lokasi. Akhirnya Bapak Drs. Khairil Anwar, Msi,  selaku Kepala dinas perpustakaan dan arsip kota Tebing Tinggi dan tuan rumah mengambil alih beberapa waktu. Bapak Kepala Dinas perpustakaan dan arsip kota Tebing Tinggi memaparkan penjelasan peraturan walikota seputar perpustakaan, tentang geliat literasi di kota Tebing Tinggi. penambahan armada perpustakaan bergerak milik pemerintah kota seperti Mobil pustaka, motor pustaka. Dan perkembangan literasi sekolah-sekolah yang ada di Tebing Tinggi.  Mulai dari tingkat PAUD hingga SMA. 

Kata sambutan
Kepala dinas perpustakaan dan arsip
Sumatra utara


Kota Tebing Tinggi sudah mendeklarasikan sebagai kota literasi. Sehingga dinas perpustakaan akan berinovasi untuk memajukan perpustakaan yang ada di Tebing Tinggi serta taman bacaan masyarakat. Program dinas kota Tebing Tinggi yang akan diluncurkan yaitu tentang perpustakaan kota Tebing Tinggi berbasis IT yang akan diintegrasikan oleh beberapa perpustakaan. Dengan begini akan lebih memudahakan pembaca yang akan meminjam buku. Dengan kemajuan teknologi semuanya bisa dilakukan menggunakan daring. 

Setelah coffee break. Acara dilanjutkan oleh pihak dinas perpustakaan dan arsip profinsi Sumatra Utara Bapak Ferlin H. Nainggolan, SH. Bapak kepala dinas menjelaskan kegiatan Kegiatan literasi informasi bagi masyarakat Sumatra Utara perzona 2018 akan dilakukan di 5 kota yaitu Dairi, Langkat, Labuhan Batu, Siantar dan Tebing Tinggi.  Perkembangan literasi di SUMATRA sangat signifikan.  Geliat-geliat penggagas taman bacaan masyarakat juga semakin banyak. Hal ini menunjukkan respon positif dari masyarakat pentingnya berliterasi. Dari kegiatan literasi informasi masyarakat maka nantinya akan diakhiri dengan zambore literasi pada tangga 1-4 november di Tapanuli Selatan.  

Di akhir acara pengangkatan pengurus  forum literasi Kota Tebing Tinggi . 

Bayi Kecil yang Menjelma Dewasa

By google

Kini bayi kecil itu telah menjelma menjadi dewasa
Dulu ditimang dan di gudang-gudang dengan mesra dan penuh canda tawa
Tangan kekar sang ayah menggendong penuh rasa cinta
Pukpuk mesra ibu sembari menyusuinya hingga terlena
Kakak dan abangnya ikut bahagia menemaninya

Kini bayi kecil itu telah menjelma menjadi dewasa
Usianya sudah mencapai dua puluh lima
Bagi wanita seusianya sudah pasti ingin menikah
Datanglah seorang pria bersama keluarganya untuk bersilaturahmi dan meminangnya

Kini bayi kecil itu menjelma menjadi dewasa
Yang dulu kecil ditimang ayah, kini telah dipersunting pemuda gagah
Sudah berpindah surga dari ibu dan ayah ke suami tercinta
Jadilah wanita yang istimewa bagi lelaki yang berani menaggung jawabi hidupmu
Patuh dan taat lah kepada dia Yang kini menjadi imam bagimu
Jangan lupa suamimu tetap milik ibunya semata hingga akhir hidupnya

Dewie DeAn
16 September 2018, Ipoh Perak, Malaysia







Kenangan Aku Dan Seorang yang Tidak Akan Kusebutkan Namanya

By: hipwee

"Satu hal yang tidak menua adalah kenangan"

Jumat 12 tahun lalu tepatnya saat bulan januari. Sepulang sekolah aku menaiki angkot menuju ke undangan acara sebuah organisasi. Aku berangkat sendiri kebetulan yang lainnya ada kegiatan lain pula. Dengan penuh percaya diri aku melangkahkan kaki ke tempat acara. Di sana terlihat peserta undangan dan panitia sudah pada berdatangan. Mayoritas perempuan. Sebagian lelaki sedang sholat jumat. 

Ba'da jumaatan ruangan mulai penuh. Kursi-kursi yang tadinya kosong sudah diduduki oleh para tetamu. Setelah itu pembawa acara membuka acara dengan semangat. Para undangan juga tidak kalah semangat menjawab sapaan pembawa acara. Satu persatu acara mulai dijalankan. Sangat menarik sekali acara persahabatan antar sekolah itu. Ada yang berbeda dari acara tersebut. Di sana ada acara menjadikan sisawa/siswi entrepreneur. 

Aku duduk di bangku barisan tengah. Bergabung dengan perwakilan dari sekolah lain. Kami membaur saling kenal. Saling tukar cerita untuk mengusir kecanggungan, mencairkan suasana. 

"Assalamualaikum... " satu suara mengucapkan dari belakang tempat dudukku.

"Waalaykumsalam" seketika aku melihat melihat ke arah suara itu berasal. 

"Sendiri saja? Mana temannya" tanya sosok itu.

"Iya, yang lain juga lagi ada acara" jawabku.

"Kamu masih kenal aku kan?" Tanyanya lagi penuh percaya diri.

Aku merasa dia memang tidak terlihat asing. Tapi, ingatanku terkadang payah. Seringkali kenal wajah tapi tak ingat nama. Dan tak jarang pula lupa dimana kami pernah bertemu.

"Hmmm ngga apa-apa kalau lupa. Kita bisa kenalan lagi" senyumannya mengembang. Seakan membaca pikiranku dari raut wajahku yang barangkali saat itu tampak bingung. 

"Maaf... Aku lupa" jawabki dengan wajah memerah. 

Seketika dia menyebutkan namanya. Saat itu pula aku ingat dimana pertama kali kami berjumpa. Dan pernah bekerja sama dalam acara antar sekolah.  Sejak saat itu kami sering berkomunikasi. Sering berdiskusi soal dunia usaha. Hingga akhirnya kami berkolaborasi membuat usaha kecil-kecilan.

Hampir setiap hujung minggu dia datang ke rumahku untuk berdiskusi soal usaha kecil yang akan kami jalankan. Sesekali kami keliling naik sepeda motor tua kesayangannya. Berkeliling ke warung-warung yang akan kami titipi produk yang kami jual. Dengan siatem konsinyasi tentunya. 

Dari kerja sama itu Aku banyak belajar usaha dari dirinya. Bahkan hari ini dia masih setia mengajari tentang ilmu bisnis. Sebuah kenangan masa lalu dengan dia yang tidak akan aku sebutkan namanya. Naik motor tua panas-panasan hingga jadi sahabatan sampai sekarang. Terimakasih untuk semuanya.

Wanita Bermata Indah



Saat usianya beranjak dewasa  jalan yang dipilih adalah jalan pengembaraan. Dari satu negeri ke negeri lainnya dijelajahi. Dengan membawa tas dengan isi alakadarnya. Satu kitab yang tidak pernah ia tinggalkan yaitu; alquran. Ada pula buku cacatan harian yang sudah kucel karena setiap hari selalu menjadi teman curhatnya. Satu buku cerita tentang perjalanan yang menjadi peneman perjalanannya.

Dari setiap perjalanannya mesjid sebagai tempat persinggahan paling favorit. Di mesjid-mesjid itu seringkali ia ijin menginap sebarang sehari atau dua hari bahkan seminggu. Tidak jarang pula sampai berbulan lamanya. Hingga ia berada di satu kota, di mana kekuasaan dipegang oleh seorang raja yang tamak. Ia menetap di mesjid Al amin berbulan lamanya. Di sana pula ia banyak memperhatikan masyarakatnya. Setiap hari selalu keluar masuk pasar untuk sekedar berinteraksi dengan orang banyak. Tapi, di sudut pasar ada orang yang selalu memperhatikannya.  Sehabis ashar ia mengajar ngaji anak-anak di perkampungan itu.

Hingga banyak pula yang mulai mencintainya sebagai saudara. Bahkan anak-anak perawan sebayanya seringkali menaruh hati padanya. Tapi ia hanya biasa saja. Baginya kampuang Tunis bukan lah tujuan akhirnya. Ia akan melanjutkan perjalanan ke perkampungan dan kota lainnya. Ia ingin menamatkan pengembaraannya.

***

Seperti biasanya sehabis subuh ia murojaah hapalannya. Setelah itu ia berganti baju dan berjalan menuju pasar. Sepanjang perjalanan ia menebar kebaikan kepada orang sekitar yang ia temui. Sekedar senyum ramah dan tegur sapa. Sampai di pasar, pasar belum terlalu ramai. Biasanya pasar akan ramai setelah jam 8 ke atas.

Bapak separuh baya itu sudah membuka kedainya. Sehabis subuh bapak itu langsung ke pasar.

"Hai... Sini, Nak" panggil bapak separuh baya kepada pemuda yang melintas di depan kedainya.

"Iya, Pak. Ada apa?" Pemuda itu pun medatanginya.

"Kamu pemuda sini?" Tanya Bapak itu ramah.

"Tidak, Pak. Saya hanya pendatang di kampung ini" jawabnya polos dan senyuman tetap melengkung di bibirnya.

"Pantas saja Bapak baru seminggu ini melihatmu di pasar. Anak muda di sini jangankan ke pasar ke mesjid saja susah sekali. Sehingga mesjid-mesjid di sini isinya hanya orangtua saja" ucap Bapak itu panjang lebar.

"Nama kamu siapa?"

"Rahim, Pak"

" Nama yang bagus" puji Bapak itu.

"Nama saya Razmi. Panggil saja Pak Razmi. Di sini kamu tinggal di mana?"

" Numpang di Masjid Al amin, sekalian kalau sore mengajar anak-anak kampung mengaji"

"Masya Allah. Pemuda yang taat dan luarbiasa"

Rahim pun pamit untuk berkeliling pasar. Bukan tidak ada maksud dan tujuan Rahim setiap hari datang ke pasar. Selain melihat tingkah laku masyarakat dan perputaran ekonomi rakyat setempat Rahim juga tidak sungkan untuk menolong membawakan belanjaan orangtua yang belanjaannya terlihat berat. Kadang dia diberi upah. Namun dia menolak secara halus. Karena dia membantu secara ikhlas. Kadang pula dia kerja serabutan di pasar.

Sudah sebulan lebih Rahim bertahan di kampung itu. Setelah pertemuan dengan Pak Razmi tempo hari. Saat dari mesjid Al amin hendak ke pasar ternyata Rahim bertemu Pak Razmi lagi. Ternyata sejak pertemuan itu Pak Razmi diam-diam menyelidiki aktivitas Rahim di mesjid Al amin.

"Mau ke pasar?" Tegur Pak Razmi mengagetkan Rahim yang serius menuju pasar.

"Eh iya, Pak"

"Bapak dari mana kok bisa di sini"

"Saya tadi sholat di mesjid Al amin juga biar dekat kalau ke pasar" kilah Pak Razmi.

"Oh... Tadi kenapa saya ngga melihat Bapak ya?"

"Tadi saya melihat kamu. Ayuk saya bonceng" Pak Razmi menawarkan tumpangan kepada Rahim. Dan Rahim pun tidak dapat menolaknya.

Sepanjang perjalanan anak muda dan bapak separuh baya banyak bercerita. Tidak terasa mereka sudah sampai di dapan kedai milik Pak Razmi.

"Hmmm... Kamu mau kerja di kedai saya?" Dengan hati-hati Pak Razmi menawarkan pekerjaan kepada Rahim.

"Kerja apa, Pak? Saya ngga pandai berdagang" ucap Rahim

"Tidak apa. Nanti saya ajarin asal kamu mau. Dan nanti kamu bisa tinggal di rumah saya"

Setelah berpikir sedikit lama Rahim menerima tawaran itu. Mulai hari itu Rahim punya pekerjaan baru. Pak Razmu begitu sabar mengajari Rahim berdagang. Dari ilmu penjualan hingga urusan keuangan. Rahim pun sudah tinggal di sebuah rumah Pak Razmi yang biasa dikontrakkan ke orang lain. Namun kali itu rumah itu tidak dikontrakkan. Tetapi untuk ditempati Rahim tanpa dipungut uang kontrakan.

Rahim begitu cekatan. Cepat menangkap semua sistem dagang yang diajarkan Pak Razmi. Hingga akhirnya Rahim diberi kepercayaam sebagai orang kanan. Saat Pak Razmi ke luar kot Rahim lah yang mengurus kedai itu. Saat Pak Razmi kembali segala keuangan tidak ada yang kurang se sen pun. Hingga makin kagum lah Pak Razmi kepada Rahim.

Saat itu kedai tidak terlalu ramai. Rahim menulis beberapa barang yang stocknya tingga sedikit. Pak Razmi di balik meja kasir memperhatikannya.

"Rahim sini. Bapak mau ngomong sesuatu"

"Iya, Pak. Ada apa" Rahim terus menghampiri.

"Sekarang usia kamu sudah berapa?" Tanya Pak Rahim begitu hati-hati.

"24 tahun, Pak"

"Kamu tidak ingin menikah?"

"Hmmm... Siapa yang mau sama saya, Pak" jawab Rahim denga suara rendah sambil menundukkan kepala.

" Saya punya anak perempuan yang usianya hampir seusia denganmu. Jika kamu bersedia menikah, saya ingin kamu menikahinya. Soal biaya pernikahan tidak usah dikhawatirkan. Saya yang menanggungnya"

Hati Rahim berdetak kencang. Mukanya memerah. Ingin menolak tapi tidak enak. Ingin menerima tapi belum punya persiapan matang untuk menikah. Serba salah.

"Insya Allah, Pak" Jawab Rahim tanda setuju.

***

Ke esokan harinya. Saat tengah hari Pak Razmi membawa perempuan muda. Berjilbab lebar dan bercadar. Rahim sempat memandang mata gadis itu. Seketika darahnya berdesir. Wajahnya pucat. Mata gadis itu begitu indah. Rahim berkali-kali beristighfar. Namun tatapan wanita itu masih terbayang. Padahal pandangan yang tidak sengaja itu tidak sampai semenit.

" Him... Kenalkan ini anak bapak. Namanya Haliza. Dia baru saja tamat dari Turkey" Pak Razmi memperkenalkan putrinya kepada Rahim.

Rahim tidak berani memandang wajah wanita itu. Pandangannya menunduk dan tangannya mendekap di dada sambil menyebut namanya sebagai tanda perkenalan.

#day13
#penajuara
#ramadhanberkisah
#indah

Dear yang Masih Menjadi Rahasia Namun Terlantun Dalam Doa-Doa Malam yang Panjang



Tulisan ini untukmu yang masih menjadi rahasia dan tanda tanya besar di benakku. Kali ini aku menuliskan tentangmu. Tentang kamu yang masih rahasia. Dan bisa jadi aku juga rahasia bagimu. Sepertiga ramadan sudah terlewati. Namun aku masih sendiri tanpamu. Tapi tidak mengapa karena aku tahu kamu akan hadir di waktu yang tepat dan terbaik menurutNya. 

Untuk kamu yang masih dalam genggaman rahasiaNya. Semoga kamu selalu sehat walafiat. Tidak lupa beribadah dan berdoa agar kita segera dipertemukan dengan keadaan siap. Aku pantas untukmu dan kamu pantas untukku. Kita saling memantaskan. 

Untuk kamu yang namanya sudah tertulis rapi di lauhulahfuz. Katanya kita berjodoh ya? Katanya namamu dan namaku sudah tertera di sana. Namun kita tidak sama-sama tahu. Ini rahasia besar Nya. Kita tidak usah saling gusar, gundah gulana. Cukup yakin dan percaya serta berpikir positif kepada Nya. Sampai saat ini kita belum berjumpa barangkali jalan yang kita tempuh memutar untuk sampai pada mahligai indah yang disatukan dengan mitsaqon gholidzo. 

Untukmu yang kelak akan menjadi imamku. Izinkan aku membayangakan bagaimana kelak akan bertemu denganmu. Bisa jadi kita bertemu dalam perjalanan, dalam pertemuan-pertemuan atau dalam pesta pernikahan teman sejawat atau temab masa kecil kita. Ah sungguh itu rahasia yang hanya bisa aku bayangkan tanpa tau gimana kebebarannya. 

Untukmu yang kelak menua bersamaku. Izinkan aku menyimpan rindu terhadapmu di ruang paling dalam sanubariku. Hingga saat bertemu kau akan tau betapa besar rinduku saat menantimu. 

Untuk kamu yang kelak membimbingku. Mengalihkan tugas ayahanda tercintaku ke bahumu. Dalam doa-doa panjang malamku. Aku selalu berdoa untuk kebaikan-kebaikanmu. Hingga ketika kita berjumpa kita dalam keadaan yang baik pula. 

Apakah kamu juga sama denganku. Ketika kau berbincang dengan Rabb mu selalu membincangkanku dalam doa mu?. Ah aku selalu ingin tau ya?. Tapi aku yakin kamu juga sama denganku. Kita saling mencari, saling berusaha dan saling berdoa untuk bisa segera bertemu. 

Biar ini menjadi rahasia sementara di anrara kita sebelum kelak kita. Karena Allah tidak akan membiarkan kita merintih dan menangis ketika sudah berusaha. 

Untuk kamu yang masih rahasia. Jaga hatimu dan aku jaga hatiku. Dan kita menjaga hati untuk hati yang terjaga. 


#day11
#ramadhanberkisah
#penajuara 
#rahasia 

Enigma Cinta



Laki-laki berkepala botak dengan usia sekitar 50 tahun menurunkan seorang wanita muda di sebuah pusat kecantikan di bilangan ibu kota. Sebaik saja wanita itu turun, mobil langsung melaju membelah jalan raya. Laki-laki botak, berperut buncit, berkaca mata itu ternyata orang penting di pemerintahan. 

"Hai... Re... Kapan kamu sampai di sini?" Sapa Mia, pemilik pusat kecantika dan kebugaran itu.

"Baru saja" ucap Rera datar sambil melihat-lihat katalog tas di keranjang surat kabar. 

"Sendiri?" 

"Iya. Tadi diantar suami" ucap Re sambil mengedipkan mata. Kedipan mata sebagai enigma bahwa suami yang dia maksud adalah pejabat negara. Yang tidak sembarang orang tahu. 

"Oh..." Mia mengangguk tanda paham. 

Siang itu cuaca ibu kota lagi membahang. Sungguh buat panas badan meningkat walau sudah berada di ruangan berpendingin masih terasa panasnya. 

Siang itu pengunjung pusat kebugaran dan kecantikan itu  lumayan ramai dari biasanya. Yang datang kalangan menengah ke atas. Seorang lak-laki tinggi besar memasuki ruang tunggu dengan membawa tas agak besar. Jaket hitam dan topi menghiasi kepalanya. Lalu menuju ruangan dalam. Dan memasuki kamar yang di dalamnya ada Rera.

"Hallo selamat siang Bagus" sapa Rera saat Bagus sudah sampai di kamar. 

"Siang" jawab Bagus singkat. Bagus membuka jaketnya. Sehingga Bagus hanya memakai kaus dalam saja. 

"Kamu membawa alat-alatnya?" Tanya Rera

"Kenapa kamu memaksaku untuk mentato dirimu. Padahal di luar sana banyak tukang tato yang lebih profesional" Bagus sedikit kesal. Karena Rera hanya ingin ditato olehnya. Ini semua pasti gara-gara Mia. Batinnya.

" Mereka tidak sama denganmu" Rera menjawab santai dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir bagus. Pertanda jangan banyak omong. 

Bagus mengeluarkan alat-alat tato dari dalam tasnya. Satu persatu dijajarkan dengan rapi. Rera memperhatikan setiap gerakan Bagus. Lantas ia mengulum senyuman yang penuh arti. 

"Kenapa kamu mau di Tato olehku" tanya Bagus masih dengan penasarannya. 

"Karena kamu istimewa" jawab Rera Nakal. Bagus terdiam tangannya sambik menyiapkan semua alat. 

"Tapi kan kamu istri dari seorang pejabat tinggi di Indonesia. Bagaimana jika orang tau kamu menato dirimu dan mereka menggunjingmu. Apa kamu tidak takut? Bahkan aku saja hampir tobat menjadi tukang tato" 

"Nanti kamu akan tau siapa diriku. Aku ingin mentato mawar hitam berdarah di kakiku seperti permintaanku tempo hari" 

Setelah semua selesai. Bagus menggambar kaki Rera yang jenjang dan putih. Semua laki-laki pasti menginginkan kaki wanita seperti itu. 

Bagus menggambar bunga mawar hitam meneteskan darah seperti  permintaan Rera. Penuh konsentrasi tinggi. Bagus melukis kulit Rare dengan penuh kehati-hatian. Rare ingin gambar yang sempurna. Sesekali Rare menjerit karena sakit di tubuhnya. 

"Husss..." Bagus langsung saja meminta Rera diam, nanti orang-orang tahu ada istri pejabat di ruangan ini. 

"Kalau kamu tau. Aku bukan lah wanita istri pertama tuan pejabat. Aku hanya wanita simpanan saja. Tidak lebih. Tapi dia sangat mencintaiku. Segala apa yang aku minta pasti selalu dituruti" 

"Termasuk tato?" Tanya Bagas polos.

"Kalau ini dia tidak tau. Ini kemauanku tanpa perlu diketahui olehnya" Rera terus bercerita tentang laki-laki yang menyimpannya sebai kekasih simpanan. 

"Nanti dia akan marah jika tau?" 

"Rasanya tidak. Ia pergi jauh untuk beberapa hari. Kemarin saya menemukan pesan berupa sandi yang hanya diketahui diantara mereka. Rasanya ada sesuatu keonaran yang akan mereka lakukan di ibu kota ini. Saksikan saja. Ini hanya kita berdua saja yang tau" 

Bagus hanya diam. Tangannya lincah memainkan alat tato. Rare memandang Bagus begitu berhasrat. Namun Bagus tampak tenang dan santai. Sebenarnya Rare tidak pernah benar-benar cinta kepada pejabat yang menjadikannya kekasih gelap. Rare sebenarnya mencintai Bagus. Dari pertama mendengar namanya. Dan ia ingin menjatuhkan pejabat itu hingga mati masuk liang tanah.

#day10
#ramadhanberkisah
#penajuara
#enigma 











Mbolang Di Tanah Pasundan



Seharian ini di kerjaan, saya mengerjakan beberapa proyek. Jadi tidak teringat ada tugas dari Tim Pena Juara untuk menulis dengan keyword yang diberikan adalah "Bocah." Sepulang kerja, berbuka puasa dan melaksanakan sholat magrib saya kepikiran mau nulis apa tentang bocah. Mata juga mulai 5 watt. Rasa letih seharian bekerja masih setia bertengger di sendi dan otot. Tapi harus tetap nulis. Akhirnya kali ini saya mau cerita pengalaman saya saat mbolang di bumi pasundan. 

Sebenarnya cerita ini sudah cukp basi dan absurd. Karena sudah setahun lamanya. Tapi ngga apa juga lah ya. Siapa tau ada yang ingin membacanya. Ceritanya di mulai dari sini.

*** 
Saya itu suka banget yang namanya jalan-jalan. Setiap libur kerja pasti saya jalan-jalan. Entah itu sekedar nonton bioskop atau pun ke tempat-tempat yang nyaman dan menyenangkan. Pastinya sesuai budgdet di kantong. 

Waktu itu tengah malam saya iseng-iseng membuka halaman pencarian tiket murah. Eh qodarullah ditunjukkan tiket ke Bandung dengan harga super murah. Saat itu harga tiket pesawat dari Malaysia ke Bandung ngga sampai 100 ribu. Tanpa pikir panjang saya booking saja. Pergi ataupun nantinya ngga jadi pergi soa belakangan. Yang pentiket sudah ada ditangan. 

Sudah menjelang hari yang ditentukan. Saya mendapat email balasan dari boss. Intinya boss megijinkan saya untuk berlibur ke Indonesia. Hati saya tentunya berbunga-bunga kayak julukan tanah pasundan. Alhamdulillah saya langsung packing seadanya membawa backpack 45L dan besoknya langsung ke Airport. Ternyata penerbangan dicancel dan saya harus ngemper di Bandara KLIA 2. Saya bagaikan bocah ilang. Ngemper di sudut-sudut ruangan di Bandara. Tapi ini sudah biasa. 

Penerbangan jam 6 pagi waktu malaysia dan sampai ke Bandung sekitar jam 9 pagi Indonesia. Penumpang dalam peswat kebanyakan para touris asing. Mereka ingin melihat Indoneaia secara dekat dan melihat gadis-gadis kota kembang. Hehe 

Kota kembang memang punya ke indahan yang menakjubkan. Dari warganya yang ramah tamah, para gadis-gadisnya yang cantik jelita sampai destinasi wisatanya juga tidak ketinggalan. 

Kembali ke laptop. Sampai di Bandara Bandung saya duduk di pojokan ruang tunggu. Menepikan barang bawaan dan menghilangka. jetlag. Lagi-lagi saya persis bocah ilang. Karena kartu saya tidak bisa konek wifi. Beberapa kali temen  Saya ditelphone juga tidak aktif. Saya geret tas ke sana kemari. Ntah apa yang dibenak orang-orang saat itu ketika saya ke hulu dan ke hilir sambil menggeret tas. Saya tidak peduli. Bodo amat. Hihi 

Suda hampir sejam menunggu. Teman saya yang akan mengantarkan saya ke penginapan backpacker akhirnya datang. Langsung tanpa menunggu lama ia membawkaan tasku dan kami menuju pasir kaliki bawah. Sampai di penginapan saya hanya meletakkan tas dan saya lanjut ke beberapa destinasi wisata yang ada di Bandung. Saya menjelajah Lodge Maribaya yang begitu indah dengan hutan pinusnya. Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Tangkuban perahu. Lalu ke Farm House saya sedikit lama karena hujan. Setelah dari Farm House saya menuju ke warung surabi imut. Dengan menikmati udara dingin kota Bandung pas banget menikmati surabi imut. 

Sampai ke penginapan hari sudah malam. Badan juga sudah cukup letih. Tapi hati ingin menikmati kota Bandung saat malam hari. Saya pun keluar mencari makan sambil cuci mata. Saya menyusuri jalanan pasir kaliki. Memasuki satu dua warung bakso. Pengunjungnya ramai sekali. Dan untuk makan di sana pun saya urungkan. Saya berjalan terus entah sudsh berapa jauh. Akhirnya saya makan bakso di warung tenda pinggir jalan. 

Bersambung kapan-kapan....  

#day9 
#penajuara
#ramadhanberkisah 
#bocah 

Merawat Nusantara


Berbicara Indonesia, bearti berbicara Nusantara. Wilayah Nusantara ini terbentang dari Sumatra hingga Papua. Sungguh besar sekali negara Indonesia. Dari negara kepulauan atau maritim, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Banyak agama dan ras. Tidak sekedar itu saja Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) juga melimpah. Dan ada lagi Nusantara adalah surganya kuliner. 

Dari 33 provinsi. Beribu macam suku di Indonesia. Dan bisa jadi dari setiap daerah atau dari setiap suku beragam kuliner yang dihasilkan. Walau seringkali ada beberapa yang sama tetapi penamaannya berbeda. Ini sungguh luar biasa sekali. Dan beberapa keseniannya juga begitu. Beragam kesenian, adat dan tradisi. Yang membuat semakin keberagaman Nusantara. Bahkan hal demikian seringkali membuat cemburu para negara tetangga. Tidak jarang pula keberagaman di Nusantara menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung. 

Adanya keberagaman Indonesia mulai dari agama, kuliner, kesenian, jejeran pulau-pulau. Harus kita rawat bersama. Kita jaga bersama. Perbedaan menjadi indah ketika saling menghorbati satu sama lain. Kesenian dan kekayaan alam nusantara merupakan harta bagi Indonesia. Jangan sampai semua itu dicuri dengan mudahnya dengan negara-negara yang tidak suka dengan Nusantara. 

Semisalnya seringkali terjadi klaim mengklaim oleh negara tetangga Malaysia. Dari kepulauan, kuliner serta keseniannya. Ketika mereka mengklaim kita baru teriak lantang sok jago. Padahal ketika belum diklaim kita santai saja. Tidak pernah inging tahu tentang Indonesia. Jadi, keragaman nusantara sebelum diklaim negara ain mari kata jaga bersama. Agar keoriginalan Indonedesia tetap terjaga.

#day8
#penajuara
#ramadhanberkisah
#nusantara

Sang Penjaga Ayat-Ayat CintaNya



Fachri begitu orang-orang memanggilnya. Sepintas tidak ada yang istimewa dari sosoknya. Bahkan kedua kakinya terkena polio sejak kecil. Fachri lumpuh sepanjang hidupnya. Ia tidak bisa berlari bemain layangan di sawah  bersama teman sebayanya. Tapi Fachri yakin ia pasti bisa berlari, bermain kelereng dan bermain sepak bola. Tapi, takdir Allah tetap sama. Fachri tidak bisa berjalan padahal usianya sudah memasuki 15 tahun. 

Kursi roda penaman sejati. Ketika Fachri hendak kemana pun pergi. Ibunya yang tulus dan sabar tidak pernah henti-hentinya memberikan motivasi. Sehingga Fachri merasa disayangi. Tidak diabaikan. Di balik kekurangan Fachri ada kelebihan yang tidak banyak orang ketahui.

Dengan penuh kesabaran ayah dan ibunya selalu memotivasi Fachri menjadi seorang hafiz. Bukan hal yang mudah menjadikan anak seorang penjaga ayat-ayat cinta Allah. Tapi dengan penuh keyakinan orangtua Fachri terus mendampinginya. Padahal jika dilihat dari akademik sekolah Fachri tidak begitu menonjol. Hanya satu pelajaran yang paling digemari Fachri yaitu; melukis. Selain itu setiap hari tidak terlepas dari muroja'ah alqurannya. 

Setiap pertandingan tilawatil alquran Fachri selalu menyabet juara satu. Tidak heran piala kemenangan tilawatil alquran berderet di rumahnya. Ibu dan ayah Fachri begitu bangga. Padahal saat Fachri kecil banyak yang berpiran tidak akan hidup lama. Karena kondisinya.

Pengumuman kelulusan Sekolah Menengah Pertama diumumkan. Orangtua Fachri harap-harap cemas dengan hasil kelulusan anaknya. Keduanya pasrah. Tapi mereka yakin Fachri akan lulus. Saat menerima amplop yang berisi pernyataan lulus atau tidak lulus, jemari ibunya dingin, dadanya berdesir. Matanya berkaca-kaca. Dan perlahan amplop itu disobek dan dibuka perlahan. Kalimat puji-pujian kepada Allah dilafazkan hampir tak terdengar. Kalimat demi kalimat dibaca. Hasilnya Facri lulus. Ayah Facri langsung sujud syukur. 

Meskipun nilai Fachri tidak tinggi seperti teman kebanyakannya. Tapi mereka sudah mengucapkan syukur tidak terhingga.

"Selamat ya, Nak. Alhamdulillah lulus," ibunya memeluknya penuh kasih sayang.

"Maaf ya, Bu. Fachri belum bisa ngasilin nilai yang tinggi." Ibu dan anak berpelukan begitu erat.

"Ngga apa, sayang. Jika kita lemah dalam urusan dunia, unggul lah dalam urusan akhirat." 

#day7
#ramadhanberkisah
#penajuara


#ayat

Memaknai Kehilangan


Kamu tahu defenisi hilang atau kehilangan? Hilang atau kehilangan adalah ketika suatu hal entah itu orang atau barang yang terlepas dari kita, meninggalkan kita dan tidak akan pernah kembali. Tidak akan pernah terlihat lagi. Tidak pernah akan bisa kita sapa lagi, tidak bisa kita mainkan lagi. Bahkan makna kehilangan bisa luas dari itu. 

Kamu pernah merasakan kehilangan? Atau pernah ditinggalkan orang yang kamu cintai? Setelah sekian tahun bersama.Rasanya pasti nyesek banget. Pernah kah ditinggalkan karena kematian?. Rasanya pasti meyakitkan. Ketika rindu tidak dapat digapai. Pasti ada perasaan marah, sedih, ingin menangis. Tapi luapan perasaan itu hanya bisa disampaikan, bisa dipeluk lewat doa-doa. 

Menangis saat mengenang kehilangan rasanya hanya sia-sia. Ia tidak akan pernah kembali. Tapi, ketika menangis bisa jadi memberikan sedikit keringanan dan kelegaan pada beban yang sedang ditanggung. Tapi, sedih berterus-terusan bukanlah jalan terbaik meratapi kehalangan. Kamu harus maju. Untuk maju tidak boleh berlarutan dalam kesedihan. Dengan langkah kecil dan tertih dan usap air mata melangkahlah. Karena maju itu dimulai dengan langkah walau sekecil apapun itu. Bukan terpuruk berlama-lama. 

"Hidup adalah  rangkaian pengalaman tentang kehilangan" [Eloy Zaluku] 

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Pasti ada saja peristiwa kehilangan yang kita alami. Entah kehilangan untuk selamanya atau sementara. 

Seperti halnya ramadhan yang kita lalui sekarang ini. Tepat hari ini ramadhan sudah berjalan 6 hari lamanya. Bearti sudah berlalu selama seminggu. Bearti kita juga sudah kehilangan enam hari yang berharga. Selama enam hari ini apakah kita sudah benar-benar membuat ramadhan begitu spesial? Atau hanya sekedar ritual puasa. Setiap hari yang dilalui masih sama. Tidak ada beda dengan bulan atau hari biasanya. Kitab-kitab yang berdebu masih jadi penghias lemari. Sholat lima waktu masih bolong-bolong bagai gigi nenek sudah tua. Atau masih berbuat maksiat. Sungguh ketika enam hari ramadhan berlalu kita sudah menyia-nyiakan dan kehilangan waktu yang berharga. Semua itu tidak akan kembali dengan mudah. 

Mungkin ramadhan akan kembali tahun depan. Apakah pasti usia kita sampai tahun depan? Tidak ada yang menjamin semua ini. Bisa jadi sedetik atau semenit dan sejam kemudian kita sudah kehilangan jatah usia kita. Allah sudah mencabut nyawa kita. Kepulangan yang amat rugi bagi kita. Ketika kehilangan jatah usia tapi amalan tidak bertambah bahkan semakin terpuruk. 

Jadi sebelum kita kehilangan apa yang kita cintai. Orang-orang yang bearti dalam hidup kita. Sebelum kehilangan nyawa yang lepas dari raga. Tetap lah menjadi sosok yang manis dan baik. Berikanlah kesan terbaik sebelum kehilangan menghampiri. 

#day6
#ramadhanberkisah
#penajuara 
#hilang 

Mendekap yang Berdebu


Aku masuk ke sebuah tempat dimana dulu saat aku kecil mengaji di sana. Di sana aku diajar huruf hijaiya. Dari alif, ba, ta, tsa dan ya. Hingga berlanjut sampai alquran. Tempat itu kini terlihat suram. Entah sudah berapa lama tempat ini terbiar. Tidak ada yang mengurus. Warga desa tidak ada yang peduli dengan kondisinya. Padahal jika dirawat mushola kecil itu bisa digunakan untuk kegiatan anak-anak mengaji. 

Kubuka pintu mushola. Terlihat di sana begitu begitu berantakan. Sajadah yang bertumpuk di sana sini, debu menebal di lantainya. Lemari kayu yang reot di ujung ruangan di atasnya tersusun iqro dan alquran. Aku mengusap debu di atas alquran. Alquran yang dulu menemaniku dan selalu kubaca ketika mengaji. Tiba-tiba hatiku mendung, mataku meneteskan gerimis yang perlahan luruh ke pipi. 
Kalam Allah yang begitu mulia dibiarkan saja. Tidak pernah terbaca. Kudekap alquran itu di dadaku. Tiba-tiba ada rasa marah. Ah... Tapi bukan saatnya marah. Aku juga sudah lama tidak tinggal di kampung ini. Barangkali orang-orang kampung begitu sibuk dengan aktifitas domestik mereka. Sehingga tidak sempat membersihakan tempat penuh ilmu di masa kecilku dulu. 

Kini aku sudah kembali ke kampung halaman. Setelah belasan tahun merantau di negara orang. Sudah saatnya aku harus mengabdi di kampung yang telah banyak memberikan pelajaran serta menerimaku setelah kepergianku. Kubersihkan lagi mushola yang sudah kusam. Debu-debu yang menebal disapu dan dipel. Kain jendela yang kusam karena debu dibersikan. Rak yang sudah reot dan lapuk diganti, sajadah yang penuh debu sudah dicuci. Kini semuanya sudah bersih. Satu dua orang penduduk kampung melihatku. Anak-anak muda kampung mulai tergerak hatinya untuk turut serta membersihkan. Sesekali mereka memberi masukan untuk kegiatan. Aku setuju selagi masih dalam kegiatan positif. Kuumumkan kepada warga setiap sore hari akan ada mengaji membaca iqro dan alquran. Warga menyambut dengan kelegaan. Anak-anak berduyun-duyun membawa iqro dan alquran dalam dekapan mereka. Tidak ketinggalan juga para orangtua. Hati ini menjadi lega. Yang lama berdebu kini dalam dekapan mereka.

#day5
#ramadhanberkisah
#penajuara
#dekap 

Orang Malaysia Suka Jimat!!!


Ini hari ke-4 Ramadhan. Dan hari  ke-4 saya ikut tantangan di grup Pena Juara Ramadhan Berkisah. Setiap hari akan ada satu keyword atau kata kunci yang akan diberi oleh admin. Setiap jam 11 malam atau sebelum pergantian hari kata kunci baru diberikan. Tepatnya malam tadi. Admin memberikan kata kunci dengan kata "Azimat" seketika saya berpikir. Kata kunci ini mau dibuat tulisan apa ya? Cerpen atau nulis artikel atau esai. Beberapa ide sudah berkelindan di pikiran saya. Ingin membuat cerpen komedi biar yang baca tidak tegang saat berpuasa, ingin membuat artikel tentang perbedaan makna kata jimat di Malaysia dan Indonesia dan beberapa ide lainnya. Tapi, sore ini saya memutuskan untuk membuat bercerita tentang "Orang Malaysia Suka Jimat." 

Saya sudah hampir 10 tahun tinggal di Malaysia. Meskipun Malaysia tampak sama dengan Indonesia, tapi banyak perbedaan. Dari segi budaya, masyarakatnya, makanannya, bahasanya. Soal bahasa walau saya sudah tinggal hampir 10 tahun masih banyak bahasa melayu yanh tidak saya pahami. Bahkan saat komunikasi saya lebih intens dengan menggunkan bahasa Indonesia. Bukan tidak bisa bahasa melayu, tapi sedikit kaku jika berbica dengan bahasa melayu. Tapi ketika saya berbahasa melayu ucapan saya terkesan lucu. 

Saat saya masih anak baru di Malaysia. Saya berbelanja di supermarket untuk membeli keperluan dapur. Seperti bawang, gula, cabai, tomat dan kawan-kawannya. Pas saat memilih tomat ada lebel harga dan di sampingnya ada bacaan 20% lebih jimat. Seketika saya tertawa. Bahasanya kok lucu sekali. Karena saat itu saya belum begitu akrab dengan bahasa Melayu. 

Ternyata jimat di Malaysia bukan seperti halnya jimat atau azimat di Indonesia. Makna jimat di Malaysia bermaksud "Hemat." Jika di Indonesia hemat di Malaysia Jimat. Dua kata dengan makna yang sama tapi pengucapan bahasanya beda. Meskipun saya sudah paham apa maksud dari kata "Jimat" tapi dengan refleks saya tersenyum. Dan orang-orang Malaysia suka berjimat. Agar pengeluaran tidak membengkak apa lagi melebihi pendapatannya. Bisa dipastikan juga jika ada barang yang dilebeli harga jimat 90% pasti banyak orang yang membelinya. Jadi, buat teman-teman yang melancong ke Malaysia dan berbelanja ke Mall atau supermarket. Jika menemui kata jimat 20%,30% dan lainnya. Jimat yang dimaksud bukan bermakna azimat atau penangkal yang sering kita dengar di Indonesia. 

#day4
#ramadhanberkisah
#penjuara
#azimat


Wakil Rakyat yang Buta



Puasa sudah berjalan beberapa hari. Kemeriahan ramadhan begitu terlihat, masyarakat muslim menyambutnya dengan suka cita. Semua bergembira. Tapi, masih ada sosok-sosok yang menganggap momen ramadhan seperti biasa saja. Tidak ada yang spesial, tak ubahnya seperti hari-hari biasa. Sudah terbiasa dengan puasa. Karena bagi mereka tiap hari adalah puasa. 

Jalanan ibu kota mulai lengang. Ternyata tidak selamanya ibu kota padat merayap, macat berjam-jam. Orang-orang yang tidak paham betul bahwa setiap roda ada perputaran. Kadang di atas dan kadang di bawah. Begitu juga arus lalu lintas. Di siang hari hingga menjelang malam padat merayap. Semua kendaraan berburu cepat sampai tujuan. Akhirnya macat di mana-mana. Dari ujung ke ujung jalan. Dari simpang ke simpang satunya. Jika mereka tau malam hari, di gelapan malam yang tak benar-benar gelap karena pertolongan cahaya jalanan lebih leluasa daripada di siang hari. 

"Manusia memang tidak sabaran. Jika mereka ingin menunggu sedikit saja sampai malam hari. Pasti jalanan Ibu Kota tidak akan pernah macat," lelaki tua itu bercakap dengan dirinya sendiri. Dengan gerobak sampah yang ditariknya kesana kemari untuk memungut bungkus bekas air meniral yang dicampakkan pengendara atau orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan. 

Tong sampah dikais-kais. Berharap ada barang yang bisa ia pungut untuk dijual dan dijadikan uang. Membeli kebutuhan dapur dan memenuhi hak perut yang sejengkal. Asap kendaraan mengangkasa menyebabkan langit menjadi kelabu. Suara-suara kendaraan menyebabkan polusi udara. Ditambah lagi suara klakson yang tidak sabaran. Gerah menyelimuti. 

Lelaki tua itu duduk di pingiran jalan raya. Matanya melangit dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Gerobaknya sudah hampir menjelang adzan magrib belum terisi penuh. Tidak jauh beda dengan keadaan perutnya yang sama sekali belum terisi apapun. Ia puasa sepanjang hari. Bisa jadi hingga esok harinya. 

Ingin segera pulang ke rumahnya. Ia tinggal di pinggiran rel kereta api bersama istri dan anaknya yang masih kecil. Di gerbong-gerbong kereta tak terpakai mereka tinggal. Jika ada razia tidak jarang mereka harus pindah, meninggalkan gerbong kereta yang mereka tempati. Sore itu langkahnya begitu lemas. Karena perutnya tidak terisi apa pun. Di sebrang jalan restoran menyediakan aneka makanan enak. Ia hanya bisa menelan air liur. Tenggorokannya turun naik. 

Jam sudah menunjukkan waktu berbuka. Semua orang menjamu selera. Ia hanya bisa melihat orang-orang yang begitu asik menikmati hidangan lezat. Langkahnya yang lemah terus berjalan menuju tempat penjualan barang bekas. Berapa pun hasilnya hari itu dia harus segera pulang. Anak dan istrinya sudah menunggunya pulang dan berharap membawa rupiah yang lumayan. 

Hari itu penghasilannya hanya cukup untuk membeli beras sekilo dan mie instan dua bungkus. Dengan hasil seadanya ia sedikit mempercepat langkahnya agar sampai rumah. Malaikat kecilnya sudah menunggu. Perutnya sudah berbunyi sejak bedug magrib belum berkumandang. Namun, hal itu sudah terbiasa baginya. 

**** 

Di tangan laki-laki itu sudah ada mie instan dan sekilo beras. Sisa uangnya masih ada tidak banyak jumlahnya. Tapi cukup untuk membeli minyak goreng seperempat kilo dan garam sebungkus. Malaikat kecil tak berdosa dan tidak pernah bisa memilih dari keluarga dengan status sosial yang bagaimana kondisinya. Yang dia tau kasih sayang kedua orang tuanya tidak pernah berkurang, walau keadaan ekonomi mereka sangat jauh di atas rata-rata kehidupan layak. 

"Bapak.... Bawa apa?" Mata bulat penuh kejujuran melihat bapaknya yang baru saja sampai di depan gerbong kereta langsung berlari, mendekati laki-laki yang sudah sejak dari tadi ditunggu. 

" Bapak bawa mie instant kesukaanmu dan ibumu," 

"Asik... Kita makan mie lagi," teriak bocah kecil itu girang. 

Di gedung tinggi, mewah  tidak jauh dari tempat tinggal mereka para pejabat negara yang katanya wakil rakyat. Tapi, tidak jauh dari kantor wakil rakyat ada rakyat yang hidup dengan mengandalkan penghasilan dari mengais-ngais tempat sampah. Mata para wakil rakyat itu terbuka tapi sejatinya buta. Hanya terbuka ketika meminta suara rakyat.

#nulisramadhan
#30harimenulis
#penajuara
#mata
#ramadhannberkisah

Laki-Laki yang Menahan Rindunya



Sudah 6 jam laki-laki itu dalam penerbangan. Membawa segudang rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Menuju tempat yang dirasanya sesuai untuk mengobati rasa kecewa terhadap keluarga wanita yang dicintainya. Jauh, tapi sejujurnya perasaan itu masih tetap sama.

Laki-laki itu yakin sekali di kota lain yang dituju akan ada pengobat luka hatinya yang menganga. Burung-burung gereja bercicit di pepohonan dekat rumah yang baru saja ia tinggali. Sesekali makhluk kecil itu bercengkrama dengan sesamanya. Mematuk-matuk dedaunan. Terbang rendah dan hinggap di pohon yang lain. 

"Sama sepertiku, terbang, pindah ke tempat yang lebih jauh," desisnya. Rumah minimalis yang ditinggalinya adalah rumah sahabat baiknya yang sedang bekerja di belahan bumi lainnya. Kini ia bertetangga dengan sepasang bule . Usianya sekitar 75 tahun. Namun masih tetap mesra. 

"Huft... Ini bukan tempat menenangkan. Burung gereja tadi seakan mengejek keadaanku. Tetangga yang usianya sudah terlalu senja duduk di taman belakang rumah, sambil bercengkrama mesra. Mereka seperti menghina keadaanku yang sedang terluka," dengusnya kesal. 

Batu-batu kerikil tersusun rapi di taman belakang. Mereka tidak punya rasa. Tidak pernah bersedih, menahan kesal amarah. Tapi  baginya sunyi cukup panjang dari pada keriangan. Atau tidak pernah merasakan keriangan sama sekali. Sepanjang hidupnya adalah; sunyi. 

Akhirnya laki-laki itu ingin seperti batu. Diam, tidak peduli, tidak ingin marah sesekali hanya tertawa tidak terbahak-bahak. Hatinya masih tetap kecut dan lukanya menganga. Meskipun tidak terlalu parah. 

Ia mulai berdamai dengan hatinya. Menerima segala sesuatu yang sudah terjadi atas dirinya. Walau sifat tidak peduli masih sedikit tersisa. Sikap diamnya masih tetap bertahan. Baginya amarah adalah kerinduan dengan kekasihnya.  

#30harimenulis
#ramadhanmenulis
#penajuara 
#day2
#amarah
#ramadhanberkisah

Cerita Rindu Dari Kolong Langit Kuala Lumpur


Malam semakin pekat. Orang-orang mulai mengunci rapat pintu rumahnya. Tapi, di jalanan sana masih banyak orang terjaga.  Di kedai mamak 24 jam. Masih ramai orang-orang menikmati malam sembari menjamu selera. Anak-anak muda berputar melingkari meja. Melepas satu dua hembusan asap ke udara. Meneguk segelas teh tarik. Membicarakan yang hangat di antara mereka. 

Kuala Lumpur, seperti kota metropolitan kebanyakannya. Tidak pernah sepi bahkan tidak pernah tidur. Selalu terjaga. Habis jatah sang mentari menerangi, digantikan lagi oleh cahaya lampu yang terang benderang. Pantulan sinarnya menerangi wajah-wajah yang sudah seharian terbakar di bawah sinar matahari. 

Di lorong-lorong yang lain. Jiwa-jiwa penuh pengharapan. Bibirnya komat-kamit di bawah atap langit. Seolah-olah sedang tawar menawar dengan Tuhannya. Sedang mengemis pinta agar ada rezeki untuk mereka. Hingga akhirnya mereka tidur tanpa ruangan, tanpa pintu, tanpa atap apatah lagi tempat tidur. Di emperan kaki lima mereka membentang selembar kain yang sudah berubah warna dari cerah menjadi kelabu karena debu. Merebahkan badan, melepas lelah seharian beraktivitas. Entah aktivitas apa yang mereka kerjakan. Bagi mereka, apapun itu asal bisa menyambung nyawa. 

Di perempatan lampu merah. Sepasang suami istri memandang jauh ke depan. Tatapannya kosong. Di sampingnya ada beberapa bungkusan yang isinya entah. Suami istri yang sudah sepuh, kulit matanya sudah terlihat kedutan, giginya sudah tidak lagi sempurna. Mereka tersenyum. 

"Kamu seperti anakku," ketika seorang wanita berjalan di dekat mereka. Lantas wanita itu berhenti di dekat kedua orang tua yang menegurnya.

"Di mana anaknya, Bu?" Wanita itu bertanya kembali. Tatapannya iba. Teringat orangtuanya di kampung halaman. 

"Di kampung. Jauh," jawab ibu itu sembari memegang tangan wanita muda itu. 

Di antara jiwa-jiwa yang sedang sibuk satu sama lain. Di hati mereka ada rindu akan orang-orang tercinta. Mereka pergi karena tercampakkan dan karena sebuah cita-cita.[] 

#day1
#ramadhanmenulis
#penajuara
#ramadhanberkisah
#rindu

Jika Ini Ramadhan Terakhir : Banyak Mencurigai Diri Sendiri



Bismillahirahmanirahim...

”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Sudah dari dua bulan lalu kita banyak berdoa untuk bisa sampai pada bulan ramadhan. Sungguh bulan yang penuh dinanti, bulan spesial, bulan penuh rahmat dan bulan kebaikan-kebaikan. Allah SWT memberikan bulan yang penuh maghfirah kepada umat islam. Tapi, apakah kita sebagai umat islam menggunakan sebaik-sebaiknya? Atau hanya sekadar merayakan dengan hal yang sia-sia. Atau hanya menganggap sebagai ritual tahunan semata?. 

Di bulan Ramadhan ini Allah SWT memerintahkan untuk berkewajiban berpuasa seperti yang tertulis pada Al Quran Surah Albaqarah : 183. 

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah, puasa sebagai perintah wajib bagi umat muslim di seluruh dunia. Maka puasa yang aku jalankan akan aku laksanakan layaknya puasa perpisahan. Puasa terakhir kali. Tidak sekedar puasa menahan lapar dan dahaga. Melainkan puasa segala hal-hal yang menyebabkan dosa. 

Di sepuluh malam terakhir ramadhan Allah SWT memberikan hari-hari yang begitu agung. Penuh pengampunan dan ganjaran seribu kali lipat setiap amalan yang kita pebuat. Allah SWT menyiapkan malam lailatul qadar. Malah seribu bulan. Setiap hamba pasti ingin mendapatkan malam lailatul qadar. Tilawah ditingkatkan, sedekah diperbanya, dzikir tidak pernah putus dan sholat malam lebih panjang dari biasanya. 

Tapi usia manusia tidak ada siapa yang tahu. Hari ini masih sehat walafiat, semenit atau sedetik kemudian sudah almarhum. Sungguh misteri tentang hidup dan mati. Hanya Allah SWT yang paling tahu tentang ajal setiap manusia. Jika Izrail memberi tahu bahwa ini Ramadhan terakhirku. Sungguh tidak akan aku sia-siakan setiap detik, menit yang berlalu. Mengerjakan segala ibadah dengan sungguh-sungguh. Dengan niat yang lurus dan penuh keikhlasan. Bahwa waktuku tidak akan lama lagi. Tidak sedikit pun untuk lalai dari hal yang bermanfaat. 

Jika ini Ramadhan terakhirku. Maka aku lebih banyak mencurigai diri sendiri. Apakah hati benar-benar sudah bersih dari rasa iri dan dengki. Apakah ibadah wajib dan sunah dilakukan sepenuh hati? Apakah setiap pekerjaan yang dilakukan sudah dengan niat yang benar. Apakah hubungan dengan sesama manusia sudah baik dan tidak saling menyakiti?. Apakah hubungan dengan Allah SWT sudah begitu mesra dan tidak hanya sekeda ritual?.

Dengan banyak mencurigai diri sendiri maka hal-hal yang tidak bermanfaat sangat mudah dihindari. Tidak sibuk mencari-cari kekurangan orang lain. Setiap perkataan yang terlontar akan tertata dengan perkataan yang baik pula. Tingkah laku penuh sopan santun. Bibir selalu basah dengan kalimah dzikir. Detak jatung diiringi kalimah tasbih. Tidak ingin detik-detik yang berlalu tanpa ada kebaikan di dalamnya.

“Celakalah! Celakalah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosanya masih belum diampuni oleh Allah!” (HR. Ath-Thabarani)

Jika ini Ramadhan terakhirku. Tidak akan aku sia-siakan kesempatan emas yang diberikan kepadaku. Aku tidak ingin menjadi orang yang celaka dan merugi ketika Ramadhan berlalu aku hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Namun amalanku tidak ada yang bertambah. Dosa-dosaku masih menggunung tinggi. Segala yang kulakukan sia-sia tidak berbuah pahala. Sungguh ini rugi yang teramat menyakitkan ketika usia tidak dapat ditambah. MenghadapNya hanya sekedar membawa tumpukan dosa.

Postingan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia

#PostinganTematik #PosTemRamadhan #BloggermuslimahIndonesia