Tidak Pernah Bercita-Cita Jadi Penulis



Malam itu saya diundang dalam sebuah grup penulisan. Undangan tersebut intinya untuk sharing kepada teman-teman yang hobinya sama dengan saya yaitu "nulis." Saat asik berbagi ada yang nyeletuk "kakak cita-citanya jadi penulis ya?." Di depan layar gawai saya terdiam. Memikirkan jawaban yang tepat. Karena saya memang tidak pernah bercita-cita jadi penulis. Tapi, menulis bagi saya adalah hobi, rutinitas, bercita-cita jadi penulis atau tidak tetap harus dilakoni. 

Saya tidak bercita-cita tapi saya hobi. Dari hobi hingga mempunyai 14 buku antologi bersama teman-teman. Beberapa karya dibacakan di stasiun radio RRI Jakarta. Tapi, sampai di sini meminjam istilah Gurunda Salim A Fillah "mencurigakan sekali" atau yang dikenal dengan hastag #mcrgknskl. Diri ini harus banyak mencurigai diri sendiri. Apakah karya-karya itu membuat hati menjadi sombong?. Jika jawabannya iya segerakan luruskan niat. Jangan sampai berlarut-larut. 

Apa yang mau disombongkan?. Di luar sana banyak sekali penulis yang lebih hebat, penulis yang jauh di atas diri ini tapi mereka berkarya dengan bersahaja. Sungguh malu lah jika sifat sombong karena karya yang segelintir tidak lebih dari sekedar debu harus disombongkan. Bahkan Gurunda Salim A Fillah dalam fanspagenya menuliskan tentang Imam An Nawawi yang menuliskan buku Syarh Sahih Muslim yang tebal itu tidak dengan buku rujukan shahih muslim melainkan dengan hafalannya. Masya Allah. 

Sungguh malu lah diri ini. Bahkan apa yang kita tulis itu belum ada apa-apanya dibandingkan oleh para alim ulama yang menuliskan beragam buku. Dengan hapalan yang luarbiasa. Sementara diri ini masih sering sekali mengandalkan daring. Meminta bantuan ustadz google untuk mencari beberapa kata atau pengertian. 

Tidak pernah bercita-cita tapi biarkan menulis menjadi rutinitas. Jangan menganggap karya best seller adalah segala-galanya. Tapi ketahuilah setiap yang best seller tidak melulu nyangkut di hati pembaca. Teruslah menulis tentang kebaikan. Biarkan tinta-tinta itu kering di setiap lembar halaman buku. Membuat orang lain memetik hikmah kebaikan di dalamnya. 

Diri ini tidak pernah bercita-cita menjadi penulis. Tapi, biarlah hobi, kegiatan menulis bagian dari hidup. Seperti halnya para-para alim ulama terdahulu atau pun yang sekarang. Yang selalu mengikat barang buruan (ilmu) mereka dengan tulisan. Jika menulis bukan bagian dari para alim ulama, orang-orang terdahulu maka saat ini, diri ini tidak pernah mengecap, merasakan nikmatnya ilmu-ilmu mereka.

Pujian, sanjungan ketika lahiran karya semoga tidak ada unsur sombong di dalamnya. Karena diri ini jauh dari kata sempurna. Belum ada apa-apanya. Dan sungguh malu kepada mereka yang menulis berjilid-jilid dan diterbitkan secara diam-diam. Bahkan ilmu yang mereka dapat tidak sekedar mengandalkan daring. Tapi, ada tempat yang mereka tuju dengan berjalan kaki berbulan-bulan lamanya untuk sampai kepada Sang tuan guru. Diri ini tidak pernah bercita-cita jadi penulis. Tapi, ijinkan diri ini menjadikan menulis bagian dari kegiatan seharian. 

Bagikan

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

7 Comments

  1. Balasan
    1. Yuk nulis mblo...
      Padahal aku yg jarang nulis ya mblo 😭

      Hapus
  2. Karena menulis adalah passion mbak Dewie 👍

    BalasHapus
  3. Suka dengan kalimat terakhir Awie. Menulis menjadi bagian dari keseharian kita.

    BalasHapus