Kembali Ke Ibu Kota Untuk Menjadi Pembicara

foto bareng setelah acara 
Setiap manusia di dunia ini pasti punya pengalaman yang paling berkesan dalam hidupnya. Begitu juga diriku, puluhan, ratusan bahkan ribuan pengalaman yang berkesan singgah menghiasi kisah hidupku. Adakalanya pengalaman yang berkesan itu biar diri sendiri yang tahu dan adakalanya pengalaman itu harus kita bagikan kepada orang-orang. Kali ini tantangan One Day One Post (ODOP) di minggu ke-4 adalah menuliskan pengalaman yang paling berkesan. Sedikit bingung karena terlalu banyak cerita yang paling berkesan. Akhirnya mau cerita pengalaman tahun lalu saat ke Jakarta.

***
Setiap manusia punya rencana dan cita-cita. Karena rencana dan cita-cita itulah manusia tetap semangat untuk mencapai tujuan. Begitu juga aku, terlalu banyak rencana dan cita-citaku. Bahkan aku menuliskannya menjadi tiga bagian yaitu : Pencapaian jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Ah, terkadang orang menilaiku terlalu berlebihan membuat perancangan seprti itu. Tapi, biarlah mereka di luar sana nggak selalu harus tahu semua tentang rencanaku. Karena hidup itu bagiku butuh perencanaan. (kembali ke topik)
Pertemuan ke-2 bareng bunda pipiet senja

Punya impian untuk punya karya yang diterbitkan walaupun antologi, itu salah satu impianku. Allah selalu memberi kejutan yang luar biasa tanpa diduga-duga. Semenjak keinginan itu aku banyak bertemu orang-orang di dunia literasi. Dan akhirnya aku juga bisa bertemu sastrawati Indonesia yang usianya sudah terbilang sepuh yaitu bunda Pipiet Senja. Sejak pertemuan itu aku selalu di teror beliau untuk menulis. Setiap pagi ketika beliau tahajud selalu mengirim pesan lewat whatsapp. Meskipun kadang kala aku masih malas utuk menulis. Tapi, bunda Pipiet tetap saja menerorku. Hingga ditahun berikutnya aku bertemu kembali dengan beliau, kali ini kampus di tempatku belajar yang mengadakan acara dan beliau pengisinya.

Dari acara di kampus itu, beliau meneror kami habis-habisan. Kami harus punya karya yang minimal antologi. Akhirnya dari teror tersebut kami mempunyai dua buku antologi yang berjudul "Seronok Negeri Jiran dan Babu backpacker." Kami sepenuhnya dibimbing oleh bunda Pipiet, hingga penerbitannya.

Tepatnya setahun lalu, impian untuk punya karya yang dibukukan menjejak nyata. Akhir bulan dua, dua karya aku dan kawan-kawan lahir dengan sempurna. Dan kelahiran kedua buku tersebut di bedah di beberapa tempat seperti Rumah dunia (RD) di Banten, Taman Ismail Marzuki Jakarta (TIM) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Saat launching di Rumah Dunia, aku dan penulis lainnya di undang untuk menjadi pembicara, tetapi kami tidak dapat hadir karena bekerja. Dan saat di Taman Ismail Marzuki gedung HB Jassin barulah aku, Resty dan Desi (Aisy Laztati) bisa hadir untuk menjadi nara sumber di acara bincang kepenulisan sastra migran.


Sudah bertahun lamanya tidak melihat wajah ibu kota dari dekat. Akhirnya Allah mengijinkanku untuk menginjakan kaki di Ibu Kota setelah berpuluh tahun lamanya. Di Jakarta aku banyak bertemu orang-orang yang awalnya hanya kenal di sosial media hingga akhirnya bertemu di dunia nyata. Saat sampai di bandara Soekarno-Hatta, dijemput oleh om Yulef dan Pak Dian Kelana teman sesama blogger yang kenal via dumai. Dan merekalah yang mengantarkanku sampai ke Taman Ismail Marzuki. Ketika sampai di TIM hati mulai berdebar nggak karuan. Gedung HB Jassin merupakan tempat nongkrongnya para sastrawan/i. Di sana banyak lahir sastrawan/i Indonesia yang luar biasa. Para peserta yang datang dari kalangan sastawati kondang seperti Sastri Bakri,ketua HB Jassin, para mahasiswa,datin dari Malaysia (majikan Desi), serta teman-teman mantan TKI yang sudah menyabet beberapa prestasi juga hadir seperti Anazkia, Ida Raihan dan Seneng Utami.

Ketika acara di mulai aku, Resty, Desi, uni Rita (Ekpatriat di Malaysia), Muhammad Iqbal Alaududi (Mahasiswa univ. utara malaysia) serta pembicara undangan Liem Siagian (mantan Tki Hongkong yang menetap di Eropa dan aktivis Tki). Di bangku pembicara dadaku berdebar kencang, karena sebelumnya aku tidak pernah menjadi pembicara di depan umum apalagi di depan para senior. Meskipun acaranya santai, dipandu oleh Pipiet senja tetap saja hati dag dig dug nggak karuan. Saat aku diminta menceritakan proses kreatif dan menceritakan kisahku saat di Malaysia tangan mulai gemetar, suara juga ikut gemetar karena ini merupakan pengalaman pertama untuk aku tampil di depan publik membahas karya yang akau tuliskan.

Buku karya aku dan teman-teman di Malaysia



Buku karya Aisy Laztaty dkk ada karya ku juga loh :-)


#ODOP
#ONEDAYONEPOST

Bagikan

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

15 Comments

  1. Mbak wieeeeeeeeee keren bgt sih...😍😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita anggota Odop 2 bisa buat buku juga Ya MBA.aamiin

      Hapus
  2. Wih, keren mba Dewie....
    Udah jadi pembicara euy....

    BalasHapus
  3. Hayooo kita buaaat antologi hihi

    BalasHapus
  4. Mbak Wie keren... tetap semangat mbak..

    BalasHapus
  5. Mbak Wie keren... tetap semangat mbak..

    BalasHapus
  6. Merinding melihat semangatmu kak Dew.
    Dalam hati aku berdoa semoga aku bisa mengikuti jejakmu, menjadi TKI berprestasi yg senantiasa mengharumkan pertiwi.
    Aamiin...

    BalasHapus
  7. Waw hebat nih mbak dewi semoga bisa menjadi pembicara terbaik.

    BalasHapus