Big Break: Setahun Tanpa Tulisan yang Bearti

By Google 


Kali ini saya memenuhi tantangan ODOP 3 dengan tema "Big Break Dalam Menulis." Apa sih big break itu?. Kalau kita artikan perkata maka artinya istirahat besar. Ngga mungkin kita mengartikan istirahat besar yang lebih tepatnya istirahat atau berhenti dalam jangka waktu yang panjang. Jadi, big break dalam menulis adalah istirahat/berhenti menulis dalam waktu yang panjang atau lama.  

Pernakah kamu berhenti menulis?. Jawabannya pasti pernah. Tapi, menurut saya pribadi tidak ada manusia yang benar-benar berhenti menulis. Pasti dan saya yakini ada saja yang ditulis entah itu nulis hutang, nulis catatan kecil, nulis tugas kampus atau sekolah dan yang punya media sosial pasti lebih kerap nulis status (aku banget ini). Tapi, big break yang dialami adalah menulis catatan yang lebih serius atau curhatan panjang tanpa jeda, berhenti nulis cerpen, essai ataupun yang lainnya.

Saya pribadi beberapa tahun lalu pernah mengalami yang namanya big break menulis. Dalam rentang satu tahun bahkan lebih saya tidak menuliskan apa-apa yang bearti. Saya hanya menuliskan catatan-catatan kecil dalam status facebook. Sehingga suatu hari saya ditegur oleh seorang teman di inbox. Yang isinya kurang lebih begini "catatan-catatan kecil yang kamu bagikan di status facebook itu bagus sekali. Saya suka membacanya. Bahkan beberapa status kamu saya masukan dalam buku saya buat penyemangat. Sayang rasanya jika kamu tidak membuat dan mengumpulkannya dalam satu wadah. Jika di facebook tulisan itu akan hilang." Begitulah inti dari inbox beliau. 

Tapi, saat itu saya tidak mengindahkan apa yang ia sarankan. Saya hanya mengiyakannya. Buku dairy juga tak lagi terisi. Biasanya setiap bulan ada 5-6 tulisan yang saya tulis di dairy. Teguran lain pun datang dengan maksud yang sama dengan pesan orang pertama. Akhirnya saya mulai berfikir. Saya mulai membuat blog sebagai platform saya menulis. Apa saja bisa saya tulis di sana. Dari tulisan serius hingga tulisan curcol. Blog lah jadi tong sampah saya untuk meluahkan uneg-uneg yang mulai eneg jika disimpan terlalu lama.

Apa sih faktor yang menyebabkan big break dalam menulis? Jawabannya adalah "malas." Jika mengaitkan dengan hal yang lainnya faktor malas ini yang paling dominan. Saya tidak ingin membela diri. Bicara jujur lebih baik daripada terlihat perfect tapi isinya acak kadut. Malas lah yang membuat semua ini berhenti. Hingga akhirnya saya mengikuti bedah buku yang menghadirkan penulis ternama Indonesia yaitu Pipiet Senja. Saya banyak cerita tentang kemalasan menulis.  Sehingga saya tidak pernah menulis hal-hal yang bearti. Setahun lebih tanpa catatan. Akhirnya beliau selalu memotivasi saya untuk terus menulis setiap hari dengan membuat kata-kata penyemangat untuk diri sendiri. 

Saya menuliskan jargon yang saya kutip dari kata bijak mba Asma Nadia yaitu "Satu buku sebelum mati." Jargon itu jadi pecut semangat untuk saya terus menulis. Hingga akhirnya saya terus menulis yang saya setorkan kepada bunda Pipiet. Kamu tahu apa komentar beliau?. Tidak ada yang manis semuanya pedas. Tapi, sedikitpun saya tidak sakit hati. Karena itu cambuk agar saya tetap nulis, nulis, nulis. Jika masih ada tulisan yang bisa saya bagikan itu menandakan saya masih hidup. Jika, saya tidak setor tulisan dalam sehari langsung satu pesan mendarat dalam whatsapp yang isinya "Awie, kamu masih hidup? Kok ngga ada tulisan hari ini" begitu isi pesan yang buat saya tersenyum dan merasa punya hutang yang harus segera saya lunasi.  Mau ngga mau saya harus tetap nulis. Hingga akhirnya untuk mengantisipasi big break saya ikut beberapa komunitas kepenulisan online ataupun off line. Mengikuti workshop kepenulisan. 

Bagikan

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

20 Comments

  1. yang bikin gue pengen terus nulis apa?

    BalasHapus
  2. Awie mah udah lebih dr satu buku.
    Jd nggak bisa lagi pakai jargon "satu buku sebelum mati". Ganti jadi "lahirkan buku sebanyak-banyaknya, melebihi angka usia"
    😀😀😀

    BalasHapus
  3. Uncle tanya diri sendiri apa Tanya gue?

    BalasHapus
  4. Keren tuh jargonnya, satu buku sebelum mati. Moga aku juga bisa punya setidaknya satu buku yang terbit disisa usia. Aamiin.

    Thx udah berbagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah bisa mba. semua Tulisan akan menemukan jodohnya baik jodoh pembaca dan penerbit

      Hapus
  5. Bener juga. Masalah writers block atopun big brake yg dihadapi seorng penulis kembali ke mental penulis itu sendiri. Akar maslahnya memang di mentalnya. Dan paling banyak, sih, ya, malas. Sama kayak saya...

    BalasHapus
  6. "Malas" is the most dangerous poison.

    BalasHapus
  7. huum saya ngaku. saya malas huhuhu
    makasih tulisannya mb Dewi

    BalasHapus
  8. Yuk ah bangun dari rasa malas hehe

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Tulisan yang mencerahkan... salut untuk mbak Deewie... patut jadi teladan...

    BalasHapus
  11. Trimakasih, Mas Dwi. Belum ada apa-apanya kalau sama Tulisan jenengan

    BalasHapus
  12. Saya sering banget menjumpai moment ini ...
    Kehabisan ide, kehilangan semangat.

    BalasHapus