Ramadhan Tanpa Hari Raya

Umat muslim begitu antusias menyambut ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi. Tak ketinggalan para tki yang bekerja diberbagai Negara juga sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut bulan agung. Dari persiapan jasmani, rohani serta finansial untuk mudik atau sekedar mengirimkan sedikit rezeki kepada keluarga di kampung. 

***

Ramadhan Sudah memasuki minggu ke-2. Para perantau sudah menyiapkan tiket jauh-jauh hari untuk mudik ke kampung halaman untuk berkumpul bersama sanak saudara. Sungguh menyenangkan jika lebaran bisa berkumpul dengan keluarga tercinta. 

"Siti... hari raya sudah dekat. Kamu sudah 8 tahun tidak pernah pulang kampung. Apa nggak kangen sama anak dan keluargamu di kampung. Ini anakmu dan ibu nggak mengharap uang kirimanmu saja. Tapi, kami mengharapkanmu pulang berkumpul bersama kami" suara yang sangat dikenalinya di ujung talian telephon membuatnya merasa bersalah. Tiba-tiba air matanya berguguran.

 Sudah begitu lama Siti tidak pernah pulang ke kampung. Setiap ramadhan Siti hanya mengirimkan sejumlah uang untuk anak dan ibunya yang sudah sepuh. Hampir 8 tahun lamanya, Siti tidak pernah pulang ke kampung. Bukan sengaja tidak ingin bertemu keluarganya. Tapi, keadaan yang membuatnya harus menahan rindu kepada anak yang ia tinggalkan serta orang tuanya. Semenjak pabrik tempat Siti bekerja gulung tikar, Siti menjadi pekerja kosongan. Tanpa sebarang ada dokumen, Siti menyambung hidup dengan bekerja di sebuah restoran. Hidup menjadi ibu tunggal serta menanggung biaya hidup kedua orang tuanya membuat Siti harus bekerja keras. Sementara para keluarganya tidak pernah tau kalau sekarang Siti menjadi TKI illegal, itu yang membuatnya susah untuk pulang ke tanah air. 

Masih terngiang-ngiang perkataan ibunya saat di telephon. Hatinya memberontak, rindunya semakin membuncah, air matanya terus mengalir deras, bahkan bayangan berkumpul dengan keluarga hingga terbawa mimpi. Begitu rindunya Siti terhadap keluarganya. Masa-masa puasa yang dilaluinya terus teringat kampung halaman. Jiwanya terus memberontak ingin pulang. 

Hingga akhirnya Siti menghubungi teman-temannya yang sesama TKI illegal yang rencananya akan pulang ke tanah air lewat jalur belakang. Keputusan Siti ikut pulang sangat kuat. Siti tau pulang lewat jalur belakang sangat berbahaya. Kapal Tongkang yang akan ditumpangi biasanya memuat ratusan orang di dalamnya. Kalau nasib baik tak menyebelahi bisa saja nyawa menjadi taruhan. Rindu sudah di ubun-ubun seperti gunung yang akan muntahkan lahar panas. Apapun resikonya akan ia tanggung demi berkumpul degan keluarga. 

Segala biaya sudah di bayarkan kepada calo kapal tongkang yang nantinya akan membawa mereka ke tanah air. Barang-barang juga sudah di packing. Tidak banyak barang bawaannya. Bahkan Siti juga tidak berniat membawa oleh-oleh. Karena untuk sampai sana dengan selamat nantinya juga sebagai oleh-oleh termahal.

"Bos... 1 hari menjelang hari raya saya akan pulang kampung" Sepuluh hari menjelang hari raya, Siti berpamitan kepada bos di tempatnya bekerja. 

"Ha... kenapa tiba-tiba sekali kamu ingin pulang kampung. Kamu pulang naik apa? lewat jalur mana? Sudah kamu pikirkan baik-baik keputusan untuk pulang sekarang" bos Siti terkejut. Bosnya sebenarnya sangat baik. Selalu banyak membantu Siti. 

"Sudah saya pikir dari jauh hari, bos. Saya sudah rindu sama anak dan keluarga. Nanti saya pulang naik tongkang bersama kawan-kawan yang lain" siti menjelaskan sambil menunduk dan sedikit berbohong, sebenarnya rencana itu baru di putuskannya beberapa hari lalu. Air matanya sudah membanjiri pipinya. Kerinduan di hatinya tidak dapat di tolerir lagi. 

"Ok...kalau begitu. Kalau itu keputusanmu dan saya tidak bisa menghalangi." Bos di tempat Siti tergolong baik dan sangat perhatian terhadap pekerjanya. 

Siti pun kembali dengan rutinitas kerjanya. Memasak segala macam makanan untuk di sajikan kepada pelanggan restoran, bersama teman-teman yang juga dari Indonesia adalah aktifitas seharian mereka. 

Waktu untuk mudik semakin dekat. Hati Siti semakin tidak karuan bakal bertemu keluarga yang sudah bertahun di tinggalkan. Baju yang ia bawa hanya seperlunya saja. Uang tabungan hasil selama bekerja di bungkus pelastik dan di letakan di tas yang rasa ia aman. Siti pun berpamitan kepada teman-teman kerjanya, teman-teman satu flat dan tetangga kanan Kiri. Sebelum berangkat ke Plabuhan Klang bos Siti datang memberi uang gaji beberapa hari Siti bekerja serta memberi sedikit pesangon untuk Siti. Sungguh hari itu sang at mengharu biru. Teman-teman mengantarkan siti sampai lantai bawah. Siti di hantar oleh bosnya hingga pelabuhan Klang. Dari Pelabuhan Klang Siti akan menaiki kapal tongkang menuju pelabuhan Belawan. Sampai Pelabuhan Klang teman-teman yang akan se-kapal dengan Siti sudah berdatangan. Dengan berbagai barang bawaan khas orang mudik. Ada yang membawa bayi juga. 

Pukul 20.00 waktu Malaysia, Siti mengabari keluarganya bahwa malam itu ia akan pulang lewat jalur laut. Kapal tongkang mulai melaju dengan membawa penumpang 200 orang. Semuanya adalah TKI illegal yang akan pulang ke tanah air untuk menyambut hari raya di kampung halaman. Kapal tokang dengan kelajuan yang cukup kencang membuat para penumpang di dalamnya terayun-ayun. Semua penumpang membaca doa-doa agar diberi keselamatan. Kapal yang begitu lihai menghindari polisi laut dalam waktu tiga jam sudah memasuki prairan Indonesia. Hujan badai tidak membuat gentar nakhoda kapal. Hingga akhirnya ombak besar menghantam kapal tongkang yang di tumpangi Siti.

Semua penumpang berhamburan ke dalam laut tanpa menggunakan pelampung. Kapal juga perlahan mulai karam. Para penumpang yang tidak dapat berenang pasrah. Para polosi laut juga baru mengesan kejadian itu setelah kapal tongkang karam. Saat polisi laut datang sudah banyak penumpang yang tak bernyawa, ada yang lemas tak berdaya. Setelah di evakuasi Siti adalah korban sudah menjadi mayat karena tidak dapat berenang untuk menyelamatkan diri. Akhirnya kepolisian mengabari keluarga Siti bahwa Siti terkorban dalam kapal karam yang membawa TKI Illegal.

Segera saja keluarga yang mendengar tak percaya. Seketika rumah Siti banjir tangisan keluarga. Paman Siti sebagai perwakilan untuk melihat bahwasannya benar Siti atau bukan yang dikabarkan polisi. Ternyata mayat itu benar-benar Siti. Kepolisiannya menunjukan barang-barang Siti. Di dompetnya terlihat gambar kedua orang tuanya, anak dan almarhum suaminya. Keadaan itu semakin menyayat hati para keluarga. Setelah semua urusan selesai, jenaza Siti di bawa pulang menggunakan ambulan. Suara ambulan begitu mencekam ketika memasuki halaman rumah orang tua Siti. Ibu dan Bapak serta anaknya sudah menunggu jenazah Siti dengan linangan air mata yang tak terkatakan. Para keluarga dan tetangga juga meneteskan air mata. Malam itu tak ada takbir hari raya, tak ada lebaran seperti biasa, tak ada opor ayam, dan lontong. Yang ada sekujur tubuh yang kaku dan terbungkus kain kafan sebagai baju hari raya terbaik Siti.

#TKIdanramadhan
#TKIkreatif
#BloggerTki

Bagikan

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

28 Comments

  1. Meluluh lantahkan perasaan deh. Kereen sekali

    BalasHapus
  2. Moral of the story...
    Jgn pernah melakukan perjalanan apapun melalui jalur ilegal.

    Pilih yg aman saja, naik kendaraan yang disediakan pemerintah beserta dokumen resmi dan dilengkapi asuransi 😊.

    Semoga Allah selalu melindungi setiap perjalanan kita.
    Aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebisa mungkin kita harus mngikuti prosedur yg berlaku ya mba des.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Kak na ambil kain lap biar nggak bnjir

      Hapus
  4. Ah... Awie... Bikin sedih aja..😢😢😢

    BalasHapus
    Balasan
    1. MBA lia maaf keun daku. Nih hps air matanya pke jilbabku. Smbil nyodori jilbab

      Hapus
    2. Kirimin ke Palangkaraya aja jilbabnya wie...😅😅😅

      Hapus
    3. Kirimin ke Palangkaraya aja jilbabnya wie...😅😅😅

      Hapus
    4. Haha malah mahalan ongkirnya

      Hapus
  5. Mbk Dewie, mungkin banyak Siti Siti yang lain di kehidupan nyata buruh migran kita.
    Mbrebes mili saya bacanya.

    BalasHapus
  6. Iya mas...dan setiap tahunnya kejadian siti ini trus trulang

    BalasHapus
  7. Iya mas...dan setiap tahunnya kejadian siti ini trus trulang

    BalasHapus
  8. Setelah 8 tahun pulang, tapi tanpa nyawa...
    huaaaa syedih.... terhuraaaa....

    BalasHapus
  9. Net jgn nngis di pojokan

    BalasHapus
  10. keren bngt mbx mngharukan sekali

    BalasHapus
  11. Kenyataan yang senantiasa terjadi menjelang Raya

    BalasHapus
  12. awiieee...Baca dua kali..tetap menyisakan tangis....

    BalasHapus