Sang Editor Dan Cilok

"Huh...naskah sudah selasai ditulis dengan rapi" ujar Rohmat sambil memandangi laptop sembari membaca ulang novel yang ia tulis dengan penuh perjuangan. Senyum tipis menghiasi bibirnya. 

Deadline tinggal beberapa hari lagi. Masih ada waktu untuk memperbaiki tulisan dan membuat self editing agar tidak banyak kesalahan fatal hingga sampai meja editor. Hingga larut malam Rohmat membuat self editing terhadap tulisannya yang bertema  Ayah. Ini juga merupakan lomba pertama yang ia ikuti. Sebenarnya Rohmat mengikuti lomba ini karena ia kagum dengan salah satu dewan juri dalam lomba menulis Itu. Jauh di dalam hatinya ingin sekali Rohmat menunjukan bahwasannya ia bisa menulis. Rohmat berharap sang dewan juri sekali editor yang di idolakannya tertarik padanya dan ia bisa bertatap muka langsung.

Sebelum mengirim naskah email panitia Rohmat membacakan doa-doa dari Al fatiha hingga ayat kursi. "Aku ini mau ngirim naskah tulisan atau mau ngusir setan" Gumamnya dalam hati. Naskah pun terkirim satu jam sebelum deadline. 

Waktu pun berlalu hingga akhirnya waktu pengumuman tiba. Satu email dari panitia lomba diterima Rohmat. Dibacanya dengan seksama isi email tersebut. Ternyata naskah yang ia kirimkan masuk dalam 5 besar. Rohmat pun sujud syukur. Karena itu pertama kalinya ia ikut lomba dan masuk dalam 5 besar naskah yang terpilih. Peluang untuk bertemu editor cantik itu pun semakin menemui titik terang. 

Keesokan harinya Rohmat di telephone oleh panitia lomba. Hari minggu nanti ia harus datang ke lokasi yang ditetapkan panitia untuk pengarahan dengan dewan juri yang nantinya sekaligus menjadi editor naskah para pemenang. 

Waktu yang ditetapkan tiba. Rohmat dengan penampilan yang lebih rapi dengan kemeja lengan panjang, celana jeans, sepatu sport  membuat ia tampak keren dari Biasanya. Tapi sayang jambang dan jenggotnya lupa dicukur. Entah berapa lama Rohmat mematut diri di depan cermin. Karena hari ini ia akan bertemu dewan juri sekaligus editor idolanya. Setelah rapi ia bergegas untuk berangkat. Tak lupa minyak wangi disemprotkan ke sekujur tubuhnya. 

Honda Astrea merah membawanya ke tempat tujuan. Sampai di lokasi masih ada 3 orang yang datang termasuk dirinya. Tak lama kemudian panita lomba, dewan juri serta 2 peserta lomba pun memenuhi ruangan. 

Acara ini bukan acara formal, tetapi hanya sesi perkenalan anatara panitia, dewan juri dan finalis. 
Acara segera saja dibuka oleh panitia. Dimulai dengan sesi perkenalan dan semua khidmat mendegarkan sesi perkenalan ini.  

"Assalamualaikum, terimakasih kepada dewan juri dan finalis yang  sudah memenuhi undangan kami untuk diskusi santai kali Ini. Langsung saja ya kita perkenalan. Para dewan juri pasti sudah tau siapa saya. Mungkin para mas dan mba finalis sudah tau siapa saya?  Ia saya Syaiha selaku ketua panitia lomba dan sekaligus pimpinan ODOP publishing" perkenalan yang singkat dari ketua panitia lomba dengan gaya khasnya yang santai dan elegant

Perkenalan dilanjut kepada panitia-panitia yang lain. Ada Mas Rouf, mba Qosim dan Iput dan Hikmah.

 Setelah itu perkenalan dilanjut oleh 3 dewan juri sekaligus editor.  Dimulai dari yang paling kanan perkenalan dari Mas Fadli yang sudah melahirkan beberapa buku dan ada yang menjadi best seller. Diteruskan Mba Dita yang bekerja sebagai editor disebuah penerbitan ternama dan paling akhir Bang Ikhtiar. 

Rohamat begitu serius mendengar sesi perkenalan itu terlebih lagi saat perkenalan editor. Ketika giliran Mba Dita memperkenalkan diri Rohmat bergumam dalam hati "Pantesan dia jago jadi editor. Ternyata kerjanya memang dibagian edit meng-edit. Semoga dia bisa meng-edit hatiku juga." Seketika lamunananya buyar ketika perkenalan itu sampai pada dirinya. Dengan reaksi terkejutnya seisi ruangan menertawakannya. 

Sesi perkenalan pun berakhir. Dengan suasana santai ada penjelasan point-point penilaian dari dewan juri yang diwakili oleh Mas Fadli selebihnya diskusi seputar penulisan. Dan para finalis juga diberi waktu konsultasi seputar novel yang mereka buat. Hingga akhirnya editor memberi waktu untuk mengedit bagian yang harus ditambah dan kurangi. Diskusi pun bubar setelah makan siang bersama. 

Waktu yang diberikan untuk mengedit naskah adalah 2 hari. Setelah 2 hari mereka harus datang ke kantor editor. Rohmat pun datang ke kantor ODOP publishing. Di kantor ODOP publishing saat itu cukup ramai dan harus menunggu antrian. "Ini kantor percetakan apa apotik ya ramai banget" gerutu Rohmat.

"Pak Mamat, silakan ke ruangan Mba Dita" panggil reception yang ada di depan posisi Rohmat duduk saat itu. 

"Saya Mba?" Tanyanya pada wanita yang memanggilnya. 

"Ia...bapak ada janjikan sama Mba Dita?" 

"Ia...bener mba.  Tapi nama saya Rohmat bukan Mamat" Rohmat menjelaskan. 

"Oh...maaf pak, soalnya namanya di situ di Mamat"

sejurus kemudian Rohmat berjalan ke ruangan Dita yang berada di lantai 2 bangunan. 

"Assalamualaikum Mba Dita" 

" Waalaikumsalam, Mas Rohmat. Maaf tadi saya ada tamu.Jadi, lama menunggu ya?"

"Nggak apa kok, Mba" 

"Langsung saja ya mas. Gini naskah Mas Rohmat yang saya suruh edit beneran sudah diedit?" Tanya Dita tegas. Soal kerja Dita memang orang yang disiplin, rapi dan teratur serta tepat waktu. Sampai jadwal makan juga diatur sedemikian rupa. Senin makan lauk tahu, tempe, sayur tanpa minya dan sambal, selasa makan sayur dan ikan, rabu jatahnya cemilan. Semua ikut jadwal dan tidak boleh dilanggar. 

"Ia sudah mba. Apa ada yang salah?" Tanya Rohmat dengan nada seperti orang ketakutan

"Tapi, saya baca kok masih sama dengan yang pertama. Belum ada perubahan. Saya kasih waktu 2hari lagi untuk mengeditnya. Nanti dikuatkan lagi tokoh utamanya biar lebih greget ceritanya" Dita menjelaskan apa saja yang patut diubah dalam novel Itu. 

"Iya mba.  Sudah itu saja? 

"Iya itu saja, Mas. Nanti kirim ke email saya jangan tengah malam ya" 

"Iya, mba. Siap laksanakan" 

"Selamat mengedit, Mas" Dita tersenyum. 

"Galak juga Mba Dita tapi manis " gumamnya dalam hati

Seperti waktu yang dijanjikan. Naskah sudah dikirim via email. Hari senin Rohmat disuruh datang lagi kekantor prihal naskah. 

"Assalamualaikum, Selamat pagi Mba Dita" 

"Waalaikumsalam. Pagi Mas Rohmat. Apa kabar?" 

"Alhamdulillah kabar baik" jawab Rohmat" 

"Langsung saja ya, Mas. Ini ceritanya si tokoh utama belum begitu kuat dan masih banyak typo dibeberapa tempat. Kalau saya edit bakal banyak yang dipotong" jelas Dita

"Tapi,Mba. Saya sudah semaksimal mungkin saya membuatnya" 

"Mau diedit lagi atau mau saya potong dibeberapa bagian" Tanya Dita memberikan pilihan. 

"Ya sudah saya edit lagi, Mba. Beri waktu 2 hari lagi" pinta Rohamat.

"Oke, saya tunggu 2 hari lagi. Kalau hasilnya masih sama saya potong beberapa bagian. Sekalian saya potong jambang Mas Rohmat yang semak Itu" Dita tidak senyum sedikit pun ketika mengucapkan kata - kata Itu 

"Iya mba.  Saya permisi" 

Sambil keluar ruangan Rohmat ngedumel sendiri. "Oalah mba...mba....cantik-cantik sangar" ucapnya lirih dan hanya dia yang mendengar apa yang diucapkannya. 

Sampainya di depan menuju pintu keluar Rohamat memberitahu  resepsionis "Mba, Mba Dita itu cantik-cantik galak juga ya? Katanya kalau naskah saya enggak bagus juga sebagian naskah akan dipotong. Jambang saya juga mau dibabat." Resepsionis itu hanya tertawa mendengar apa yang dikatakan Rohmat. "Mba Dita emang gitu orangnya, Mas. Dia sebenernya baik kok. Apalagi mas bawakan cilok. Mba Dita paling suka cilok kuah kacang" jelas mba resepsionis sambil senyum senyum. "Kalau gitu nanti kalau saya kemari lagi saya bawakan cilok buatan saya sendiri. Kebetulan saya bakul cilok keliling." "Tapi mas, Mba Dita makan cilok setiap hari rabu saja" resepsionis Itu menjelaskan kebiasaan Dita. "Loh kok gitu? Makan cilok aja pakai jadwal" tanya Rohmat. "Iya, Mba Dita itu semua terjadwal. Dari urusan makan Sampai urusan kerja ada jadwalnya." "Oke baik lah Nanti hari rabu saya datang lagi bawa cilok" Rohmat pun berpamitan. 

Sampainya di rumah langsung saja Rohmat mengambil laptop dan mengedit beberapa bagian seperti saran sang editor. Membaca-baca ulang dan memperbaiki beberapa typo. Setelah pas dan maksimal Seperti diharapkan editor naskah pun di kirim ke alamat editor. 

Hari rabu pun tiba. Hampir jam makan siang Rohmat baru tiba di kantor ODOP publishing karena Pagi tadi ia harus ke tukang cukur untuk merapikan rambut dan jambangnya. Dengan membawa sebaskom cilok dan kuah kacang yang sengaja dibuat untuk Dita. 

"Assalamualaikum. Siang Mba Dita" sapa Rohmat

"Siang Mas Rohmat. Kenapa datangnya siang banget? Saya sudah mau keluar makan siang" ucap Dita menjelaskan sambil mengemaskan mejanya sebelum keluar makan siang. 

"Iya tadi saya potong rambut dulu sama cukur jambang, Mba. Sama buat cilok untuk Mba Dita" jelas Rohmat polos

Mendengar kata cilok yang jadi makanan favoritenya seketika itu juga Dita tidak jadi marah. 

"Gini mas, tulisannya sudah bagus. Nanti apa yang kurang akan saya edit " jelas Dita lembut tidak seperti biasanya

"Terimakasih, Mba. Ini cilok buat Mba Dita" Rohmat menyodorkan bungkusan plastik yang dibawanya. Dita pun malu - malu menerimanya. 


* Sekian * 


#one day one post 






Bagikan

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

20 Comments

  1. Ihiy. Hati-hati cilok bumbu cinta bisa menyuburkan benih cinta lokasi ��

    BalasHapus
  2. Mba dewiii ya ampuuun kenapa eike dibawa-bawa juga hahaha. Lucu mbaak ampun deh bisaaa aja

    BalasHapus
  3. Nyogoknya pakai Cilok. Ahahaha.

    BalasHapus
  4. Antara cinlok dan cilok 😁

    BalasHapus
  5. Namaku ada di sana wkwk. Senyum2 sendiri bacanya duhhh hahaha semoga beneran jadi editor haha.

    BalasHapus
  6. Ngakak baca tulisan mbak Dewie. Hahaha

    Kreatif :)

    BalasHapus
  7. haahaa,,, bagi ciloknya donk k Dew...

    BalasHapus