Teman Sejati #1



Tahun ini merupakan tahun terakhirku bekerja di Malaysia. Tiga bulan lagi aku akan kembali ke tanah air. Ku kabarkan kepada ibu dan abah di kampung, bahwasannya dalam tiga bulan lagi aku akan pulang ke tanah air. Abah begitu antusias mendengar kepulanganku. Bahkan pinta abah agar Di percepat jadwal kepulanganku.

Aku mengernyitkan kening atas permintaan abah. Rasa ada sesuatu yang disembunyikan dariku."Mungkin abah sudah rindu padaku karena anak perempuan paling bungsunya sudah 2tahun tak pulang kampung" dalam hatiku. Aku berusaha meyakinkan abah 3 bulan bukan waktu yang lama untuk Di jalani. Tapi, abah tetap memaksaku agar segera pulang bulan depan. Rasa dalam hati serta berbagai pertanyaan semakin menyerang otaku. Ku tanya ibu, mengapa abah menyuruhku pulang bulan depan. Padahal menurutku tiga bulan lagi jadwal kepulanganku tidak lah lama lagi. Ibu hanya tersenyum dan mendukung abah untuk aku segera pulang.

Semakin tertanya-tanya dalam hati. Pikiran negatif mulai menghampiri. Akhirnya ku ajukan Surat permohonan ke pihak HRD untuk jadwal kepulanganku di percepat 2 bulan. Alhamdulillah Surat permohonan itu cepat Di balas dan disetujui. Dua minggu lagi aku akan pulang, ticket pesawat Malaysia-Medan juga akan dibelikan oleh pihak HRD. Ku kemaskan semua barang-barang yang belum masuk packingan bulan lalu. Dan secepat Mungkin packingan tersebut ku kirim lewat cargo agar nantinya aku tidak menunggu lama packingan itu sampai dirumah.

Ku kabarkan kepada abah, 2 minggu lagi aku akan pulang. Abah sepertinya sangat bergembira. Melihat abah begitu semangat atas kepulanganku yang tak lama lagi aku pun ikut bahagia. Malaysia - Medan bukanlah jarak yang jauh. Hanya 45 menit Di tempuh dengan burung besi. Sengaja tak ku kabarkan tanggal kepulanganku, agar orang dikampung tidak repot-repot untuk menyambut kepulanganku. Dan sebenarnya Aku juga malas di jemput di bandara. Apalagi barang bawaanku hanya sedikit 1 travelbag kecil isi 7kg Dan bag laptop.

Satu maret jam 9.30am jadwal penerbanganku. Sehari sebelum keberangkatan Aku sudah cek in di KL Central melalui  kounter maskapai penerbangan yang nantinya akan membawaku ke pelukan ibu pertiwi. Ke esokan paginya sehabis subuh Aku pun berangkat menuju KLIA-2 dengan bus, sebelumnya ingin menaiki kreta api KLIA ekspres tapi ongkosnya lumayan mahal sekitar Rm55.

Sampai KLIA masih pagi sekali. Toko-toko masih tutup. Tapi, ada satu dua yang buka,kedai-kedai kopi tetap buka 24jam. Kulihat jam masih 2jam lagi waktu penerbangan. Ku kitarkan pandanganku, banyak para penumpang tidur di bandara. Lalu ku langkahkan kaki menuju kedai kopitiam untuk membuang kantuk yang masih tersisa. Sambil menikmati kopi o dan 2 paket roti bakar chese Serta berselancar Di dunia maya menikmati berita pagi.

Bersambung.... 

Bagikan

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

7 Comments

  1. ada huruf kapital tengah kalimat...kisah nyata kah??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih koreksinya,mba Lisa.fiksi mba hehe

      Hapus
    2. Trimakasih koreksinya,mba Lisa.fiksi mba hehe

      Hapus
  2. ada huruf kapital tengah kalimat...kisah nyata kah??

    BalasHapus
  3. Kisah nyata kah mbk Wie?

    BalasHapus
  4. Wah pasti Abah ada maksud tertentu nih

    BalasHapus