Pengangguran Dilarang Makan Enak



Waktu masih di Malaysia , tinggal di asrama. Soal masak memasak ngga ada yang kepo mau masak apa. Bahkan teman satu roommate ngga ada yang perduli. Padahal di asrama, satu rumah isinya 10 orang, dari 3 kamar yang ada.2 kamar setiap kamar isinya 4 orang dan 1 kamar isinya 2 orang.

Apakah kami tidak akur sampai ngga perduli?. Kami semua akur-akur saja. Tapi, kami ngga mau kepo apa yang menjadi ranah pribadi masing-masing.

Nah kembali ke masakan dan makanan. Jadi, soal masak kami pribadi masing-masing. Loh boros dong?. Kalau menurut kami ngga boros. Karena 10 orang penghuni rumah ngga semua yang doyan masak. Ada yang masak kalau pas libur. Selebihnya makan di warung. Kalau saya lebih suka masak. Karena lebih bisa bereksperimen sesuai selera. Apalagi setiap hari rindu masakan Indonesia. Walaupun saya sering juga makan di warung atau resto.

Begitulah kehidupan kami dulu di asrama. Jadi, ketika satu rumah masak ini dan itu kami biasa saja. Apalagi saya ketika di asrama semua jenis masakan pengen di coba. Sesekali buat salad ala-ala. Ketika saya cek up ke dokter dan dokter mendiagnosa ada penyakit yang gak bisa saya jelaskan. Akhirnya saya pindah pola makan sesuai ketofastosis. Puasa makan selama 20 jam dan jendela makan 4 jam.

Di pola makan keto, saya harus banyak mengkonsumsi lemak, ikan, daging dan ayam. Serta buah yang dapat dimakan zaitun dan alpukat saja. Jadi belanjaan bulanan saya isinya ayam, daging, telur, ikan dan tetelan daging. Cemilannya virgin coconut oil, keju, teh hijau, keripik kulit, kerupuk kulit (kerupuk jangek).

Ketika sudah pulang kampung. Sesekali pengen buat salad buah atau sayur pakai saus lemon. Sesekali buat western food, salmon panggang, sesekali makan di cafe, keseringan ngopi di cafe walau pesannya kopi sasetan.
Lantas ada yang tanya.  Mungkin beliau mengikuti aktifitas saya.

"kerjaan kamu apa?" seseorang bertanya kepada saya.

Kalau ada yang tanya begitu suka saya jawab "kerjaan saya gaib, pengangguran professional" sambil saya senyum-senyum

"Pengangguran mana ada yang professional. Pengangguran aja, makanannya belagu asik ngopa ngape aja." Mungkin beliau mau ngomong dalam hati. Tetapi, desisan suaranya terdengar oleh saya.

"Masak pengangguran dilarang makan enak" jawab saya dalam hati. Takut jadi malinkundang. Karena yang tadi nanya orangtua.  Haha

Nanti saya ajarin bagai mana caranya jadi pengangguran professional. Tapi, saya sudah bosan nganggur, mau kerja. Kerjaan ghaib saya tetap berjalan. Pekerjaa. Ghaib bukan penunggu lilin atau pelihara tuyul ya. 😄😄😄

Bagikan

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 Comments