Teman Sejati #4

"Dia lelaki yang pernah jumpa di KL central setahun lalu" aku terus mengingat memory waktu di KL central Itu.

Masih ku ingat saat ia menanyakan kereta tujuan stasiun KTM UKM. Saat itu ia akan menghadiri acara sahabatnya di University Kebangsaan Malaysia (UKM). Dan aku pas kebetulan juga akan ke UKM untuk menghadiri acara wisudah sahabatku.

"Assalamualaikum. Permisi numpang tanya, kereta tujuan stasiun UKM bener nunggu di platform 3?" Tanya nya padaku Saat Itu. Ku dengar logat bahasa Indonesia nya begitu jelas.

"Ia bang. Kalau mau ke UKM nunggu di platform 3. Abang mau kemana?" Ku jawab dengan bahasa Indonesia fasih.

"Saya mau ke  dewan conselor Tun Abdul Razak,kampus UKM. Untuk  menghadiri acara wisudah sahabat saya" jelasnya.

"Oh.... kebetulan saya juga mau ke UKM untuk menghadiri wisudahan sahabat saya juga di dewan Dectar.  Sahabatnya wisudah jam berapa bang?" Tanya ku lagi.

"Jam 9 sampai jam 1. Oia kita bisa barengkan ni. Ini pertama kali saya ke Malaysia"

"Oh... Iya...bisa aja, bang"

Tak lama kemudian kreta yang kami tunggu sampai. Para penumpang dari dalam perut ular besi berhamburan keluar. Sementara para penumpang yang akan masuk masih menunggu di depan pintu gerbong untuk masuk setelah penumpang yang lain keluar. Ku pilih coach 3 di khususkan untuk wanita. Sementara lelaki tadi ikut sekali denganku. Sebelum ia di usir oleh petugas kreta api, secara hati-hati ku beri tahu padanya ini gerbong untuk wanita saja. Dan ia pun berpindah ke gerbong 2. Akhirnya kami terpisah gerbong kreta.

***
Stasiun UKM.... UKM station begitu suara peringatan dari pengeras suara kereta. Dan ia melihat ke arahku untuk memastikan turun di sini dengan bahasa isyarat. Aku mengangguk. Akhirnya sampai juga di stasiun UKM. Langsung saja kami keluar dari stasiun menuju bus rapid KL gratis untuk membawa mahasiswa dari stasiun ke kampus. Saat kami sampai di halte, bus sudah hampir berangkat. Kami melompat masuk ternyata di tempat duduk paling belakang masih ada 2 bangku kosong. Akhirnya aku duduk di sana. Karena tidak boleh berdiri Akhirnya ia duduk di sampingku.

Bus rapid KL membawa kami ke kampus UKM. dalam 15 menit kami pun sampai di dewan Dectar. Rerata para penumpang rapid juga turun di dewan Dectar. Dan kami pun berpisah tanpa tanya nama. Ramai sekali acara wisudahnya. Banyak stand-stand penjual bunga dan boneka wisudah.

***
Memory setahun silam terbuka lebar saat taaruf malam Itu. Akhirnya aku meminta untuk istikhoro untuk melanjutkan taaruf ini atau tidak. Dan ia pun juga meminta waktu untuk beristikhoro lagi. Memantapkan hati.

Dalam waktu seminggu. Abah menanyakan bagaimana hasil istikhoroku dalam seminggu ini. Setelah beberapa kali istikhoro hati semakin mantap untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Abah juga menuturkan hasil istikhoronya, abah yakin kalau dia pemuda yang baik-baik.

Dalam minggu depan orang tuanya akan datang untuk proses khitbah.

Saat mengkhitbah, yang datang hanya ibu, ayah, dan kakeknya. Dalam proses khitbah semuanya di utarakan untuk proses pernikahan, apa-apa saja yang di perlukan saat resepsi, serta tanggal pernikahan. Tanggal di tentukan dan di sepakati ke dua belah pihak yaitu 11 April. Acara juga sederhana tidak berlebihan. Mengumpulkan saudara Dan teman-teman dekat.

Komunikasi kami melalui email saja. Itu pun hanya membahas hal-hal yang penting saja. Untuk undangan ia yang desain. Kami sepakati tidak akan mecantumkan gelar akademik yang kami punya.

Tertera nama kami berdua dalam  undangan yang sangat sederhana.
Muhammad Althaf Rifa'i Dan Athifa Rahma Lubis. 

Aku masih tidak percaya ada namaku tercantum dalam surat undangan. Dan menjadi calon mempelai wanita. Ku kirimkan undangan untuk para sahabat-sahabat terdekat. Bahkan mereka juga kaget hampir tak percaya bahwa aku akan menikah. Ada yang sangat ingin tahu. Bagaimana aku bisa tiba-tiba menikah. Lucu rasanya kalau melihat temanku yang begitu kaget menerima undangan pernikahanku.

"Kok bisa sih Thif kamu menyembunyikan dari aku kalau kamu sudah punya pacar" Tanya chacha sedikit kesel.

"Itu bukan pacar aku. Kami baru kenal dua minggu lalu" jelasku

"What? Kok bisa? Kenapa cepat banget?" hampir keluar biji mata Cha.

"Ya...bisa aja kalau sudah jodoh. Niat baik harus di segerakan. Lagian dia 2 minggu lagi akan berangkat ke Australi untuk melanjutkan program PhD nya" jelasku pada chacha.

***
waktu yang di tentukan tiba. Dalam beberapa menit lagi status single,jomblo atau apalah akan berubah menjadi istri. Hatiku nggak karuan, para saudara,teman dan sahabat sudah datang dan berkumpul di mesjid nurul iman. Karena akad nikah akan di langsungkan disana. Abah dan ibu juga sudah siap.

Jam 9.30wib acara akad akan di mulai, tuan kadi juga sudah sampai. Calon mempelai pria dan keluarga juga sudah sampai.

Aku masih tak percaya. Masih seperti mimpi. Sebuah impian yang ku tuliskan 5 tahun lalu kini akan jadi kenyataan meskipun Allah melewatkan 3tahun dari targetku. Allah sebaik-baik perencana. Allah maha tahu. Penundaan bukan bearti penolakan.

Tepat jam 9.30am acara akad di mulai. Tempat acara begitu khidmat. Pemuda yang bagiku masih terlihat asing, berkulit sawo matang, tinggi, berambut cepak. Menjabat tangan abah untuk mengucapkan mitshaqo gholizo (perjanjian yang sangat berat) mengambil alih tanggung jawab abah terhadapku sehingga tanggung jawab Itu berpindah kepadanya. Tanganku sedingin es yang beku di dalam kulkas. Tak terasa air mata menetes dipipiku Saat para saksi menyatakan "sah." Kini ia telah bergelar suami Dan aku bergelar istri.

Setelah Itu ia menghadiahkan hafalan Qur'an surah Al-insan(manusia) ayat 1-31. Ia membacanya begitu merdu. Semua yang berada di mesjid mendengarkan begitu khidmat sehingga banyak yang menangis. Air mata ku juga tak berhenti, semakin bergetar tubuh ini. Bersyukur atas kejutan yang di berikan kepadaku.


****
Dalam waktu sebulan saja dari perkenalan hingga akad nikah.

"Innama amruhu idza arada syaian an yaqula lahu kun fayakun" (Sesungguhnya urusanNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya "Jadilah!" maka jadilah ia). 

Sudah seminggu acara pernikahan kami. Tetapi, antara kami berdua masih canggung satu sama lain. Terkadang masih terselip memanggil anti dan antum. Itu pula yang membuat kami tersenyum dan membuat bahan obrolan.

Hari ini suami diminta untuk mengisi training motivasi adik-adik SMA se-Tebing Tinggi yang bentar lagi akan menghadapi ujian national. Dan hari ini pertama kali aku menjadi asisten pribadi suami Saat ia menjalankan agendanya.

Acara seminar di balai Kartini. Kami bergegas dari rumah satu jam Sebelum acara. Sebelum berangkat aku lah yang mengecek barang yang di butuhkan suami saat mengisi seminar. Mobil kami melaju ke jalanan siang itu. Di dalam mobil kami saling diam. Jujur saja aku masih segan, malu meskipun bang Althaf sudah menjadi suamiku.

Tiba-tiba suami nyanyi lagu Tim nasyid yang cukup terkenal aku lupa nama group nasyidnya. Sehingga memecahakan kesunyian.

Selama ini....
Ku mencari-cari teman yang sejati
Buat menemani perjuangan suci
Bersyukur kini pada Mu Illahi
Teman yang di cari selama ini telah ku temui

Dengannya di sisi
Perjuangan ini senang di harungi bertambah murni kasih Illahi

Kepada mu Allah
Ku panjatkan doa agar berkekalan kasih sayang kita

Aku hanya tersipu malu, merah merona wajahku, ketika bang Althaf memegang jemariku.

Tiada perpedaan yang harus di perdebatkan ketika hati telah terpaut Karena Mu.

The End....


Bagikan

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

4 Comments